Pengertian Pupuk

Ilmupedia.web.id - Pupuk memiliki banyak sekali pengertian. Akan tetapi, secara umum pengertian pupuk adalah sebagai berikut: 

1. Pupuk adalah bahan atau zat yang memberikan nutrisi baik yang berupa nutrisi organik maupun anorganik kepada tanah dengan tujuan meningkatkan pertumbuhan tanaman, tumbuhan dan juga vegetasi lainnya. 

2. Pupuk adalah bahan organik ataupun bahan anorganik yang diperoleh secara alami ataupun dari sintesis beraneka macam bahan dan ditambahkan ke dalam tanah untuk memberikan unsur esensial yang diperlukan tanaman untuk pertumbuhan dan perkembangannya. 

3. Pupuk adalah substansi / bahan yang mengandung satu atau lebih zat yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Pupuk memang sengaja dibuat mengandung bahan-bahan yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Menurut pengertian ini, bahan yang walapun mengandung zat yang dibuutuhkan tanaman tetapi tidak dibuat dengan sengaja untuk memberikan nutirisi kepada tanaman tidak bisa dikatagorikan sebagai pupuk. Sebagai contoh, sisa tanaman yang jatuh ke tanah dan menyediakan N bagi tanah tidak bisa dikatakan sebagai pupuk. 

4. Pupuk adalah substansi yang digunakan untuk memperbaiki sifat fisika, kimia, dan biologi tanah guna mendukung pertumbuhan dan perkembangan tanaman. 

5. Pupuk adalah segagla sesuatu yang bisa menjadikan tanah lebih sehat dan subur.

Mengenal Tanaman Keji Beling

Ilmupedia.web.id - Keji beling dengan nama ilmiah Strobilanthes crispus sering juga disebut dengan istilah kaca beling, ngikilo, keci beling, enyah kilo, picah beling. Tanaman ini tumbuh liar dan sangat mudah dijumpai di seluruh wilayah Indonesia. 

Keji beling merupakan salah satu tanaman herbal yang dapat digunakan sebagai obat tradisional alami untuk mengobati berbagai macam penyakit. 

Meski mampu tumbuh subur dan banyak dijumpai di Indonesia, namun tanaman keji beling tidak berasal dari negeri ini, melainkan dari Madagaskar. Tanaman ini ditemukan oleh Thomas Anderson (1832-1870). 

Klasifikasi Ilmiah Keji Beling Divisi : Spermatophyta, Subdivisi : Angiospermae, Kelas : Dicotyledonae, Ordo : Solanales, Familia : Acanthaceae, Genus : Strobilanthes , Spesies : Strobilanthes crispus .

Tanaman keji beling tumbuh dengan mudah pada daerah berketinggian 0-1000 mdpl. Seperti tanaman terna lainnya, tanaman keji beling terdiri dari bagian akar, batang, daun, dan bunga. Dimana akar tanaman ini berwarna putih kekuningan, berbentuk tunggang dan serabut. Tanamannya menyerupai rumput besar dengan batang berbentuk bulat, beruas dengan diameter 0,2-0,7 cm. Saat masih muda, kulit batang keji beling berwarna ungu berbintik hijau, kemudian berubah menjadi cokelat saat telah dewasa. Tepi daunnya bergerigi, dengan ditumbuhi bulu-bulu halus pada seluruh daun. Satu helai daun keji beling memiliki panjang 2-5 cm, serta berwarna hijau. Daun tanaman ini berbentuk bulat telur. Perkembangbiakan tanaman ini terjadi pada waktu tertentu yang ditandai dengan keluarnya bunga di saat-saat tertentu, dan terjadi setelah tanaman dewasa. 

Kandungan Keji Beling. Tanaman Keji beling mengandung kalsium karbonat dan mineral sangat tinggi, seperti : kalium 51%, kalsium 24%, natrium 24%, ferum 1%, fosfor 1%. Selain itu, tanaman ini juga mengandung asam silikat, katekin, tannin dan kafeina yang terdapat pada daun. Kandungan daun keji beling yang lain, diantaranya adalah vitamin C, B1, B2. Kandungan kalium pada tanaman keji beling berfungsi melancarkan kencing dan penghancur batu dalam empedu, ginjal, dan kandung kemih. Adanya kandungan kalsium menyebabkan tanaman ini sangat bermanfaat dalam membantu proses pembekuan darah, mempertahankan fungsi membran sel, serta berperan sebagai katalisator berbagai proses biologi dalam tubuh. 

Kandungan natriumnya berfungsi meningkatkan cairan ekstra seluler untuk meningkatkan volume darah. Sedangkan asam silikat berfungsi mengikat air, minyak, dan senyawa-senyawa non-polar lainnya. Manfaat Keji Beling Kandungan keji beling seperti disebutkan di atas sangat dibutuhkan oleh tubuh manusia, terutama untuk mengobati berbagai macam penyakit, dari penyakit berat seperti kanker, ginjal, asma, diabetes melitus atau kencing manis, tumor, dan sebagainya sampai penyakit ringan seperti gatal terkena ulat, semut, dll. Di Malaysia, daun tanaman ini telah digunakan sebagai herbal tradisional untuk merawat kanker, diabetes melitus, serta digunakan sebagai agen diuretik.

Mengenal Tanaman Lontar/Siwalan

Ilmupedia.web.id - Pohon Siwalan atau disebut juga Pohon Lontar (Borassus flabellifer) adalah sejenis palma (pinang-pinangan) yang tumbuh di Asia Tenggara dan Asia Selatan. 

Klasifikasi ilmiah. Kerajaan : Plantae; Divisi : Angiospermae; Kelas : Monocotyledoneae; Ordo : Arecales; Famili : Arecaceae (sinonim: Palmae); Genus:Borassus. Spesies : Borassus flabellifer.

Pohon Lontar (Borassus flabellifer) menjadi flora identitas provinsi Sulawesi Selatan. Pohon ini banyak dimanfaatkan daunnya, batangnya, buah hingga bunganya yang dapat disadap untuk diminum langsung sebagai legen (nira), difermentasi menjadi tuak ataupun diolah menjadi gula siwalan (sejenis gula merah). Pohon Siwalan (Lontar) merupakan pohon palma (Palmae dan Arecaceae) yang kokoh dan kuat. Berbatang tunggal dengan ketinggian mencapai 15-30 cm dan diameter batang sekitar 60 cm. 

Daunnya besar-besar mengumpul dibagian ujung batang membentuk tajuk yang membulat. Setiap helai daunnya serupa kipas dengan diameter mencapai 150 cm. Tangkai daun mencapai panjang 100 cm. Buah Lontar (Siwalan) bergerombol dalam tandan dengan jumlah sekitar 20-an butir. Buahnya bulat dengan diameter antara 7-20 cm dengan kulit berwarna hitam kecoklatan. Tiap butirnya mempunyai 3-7 butir daging buah yang berwarna kecoklatan dan tertutupi tempurung yang tebal dan keras. 

Pohon Siwalan atau Pohon Lontar dibeberapa daerah disebut juga sebagai ental atau siwalan (Sunda, Jawa, dan Bali), lonta (Minangkabau), taal (Madura), dun tal (Saksak), jun tal (Sumbawa), tala (Sulawesi Selatan), lontara (Toraja), lontoir (Ambon), manggitu (Sumba) dan tua (Timor). Dalam bahasa inggris disebut sebagai Lontar Palm. Pohon Siwalan atau Lontar (Borassus flabellifer) tumbuh di daerah kering. Di Indonesia, Pohon Siwalan tumbuh di Jawa Timur dan Jawa Tengah, Madura, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi. Pohon Siwalan atau Lontar mulai berbuah setelah berusia sekitar 20 tahun dan mampu hidup hingga 100 tahun lebih.

Pemanfaatan Pohon Siwalan. Daun Lontar (Borassus flabellifer) digunakan sebagai media penulisan naskah lontar dan bahan kerajinan seperti kipas, tikar, topi, aneka keranjang, tenunan untuk pakaian dan sasando, alat musik tradisional di Timor. Tangkai dan pelepah pohon Siwalan (Lontar atau Tal) dapat menhasilkan sejenis serat yang baik. 

Pada masa silam, serat dari pelepah Lontar cukup banyak digunakan di Sulawesi Selatan untuk menganyam tali atau membuat songkok, semacam tutup kepala setempat. Kayu dari batang lontar bagian luar bermutu baik, berat, keras dan berwarna kehitaman. Kayu ini kerap digunakan orang sebagai bahan bangunan atau untuk membuat perkakas dan barang kerajinan. Dari karangan bunganya (terutama tongkol bunga betina) dapat disadap untuk menghasilkan nira lontar (legen). Nira ini dapat diminum langsung sebagai legen (nira) juga dapat dimasak menjadi gula atau difermentasi menjadi tuak, semacam minuman beralkohol.

Komponen Teknis Budidaya Tanaman

Komponen Teknis Budidaya Tanaman

Ilmupedia.web.id - Teknis budidaya merupakan salah satu aspek yang paling penting di dalam pertanian. Teknis budidaya memungkinkan palaku pertanian memilih ataupun mengatur pertaniannya agar memperoleh hasil yang diharapan. Teknis budidaya merupakan serangkaian kegiatan yang harus dilakukan agar tanaman yang di budidayakan dapat memberika hasil yang maksimal. Adapun kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam teknis budidaya tanaman secara umum adalah sebagai berikut: 

1. Penyiapan bahan tanam 

Bahan tanam merupakan segala sesuatu yang digunakan sebagai bahan untuk ditumbuhkan menjadi tanaman yang pada akhirnya dapat diambil bagian-bagiannya sebagai panenan (hasil). Bahan tanam bisa berasal dari biji (benih) atau juga bisa berasal dari bagaian tanaman lain (akar, batang, daun, atau jaringan tanaman). Bahan tanam yang berasal dari benih ataupun bibit hendaknya adalah yang berkualitas sehingga hasilnya juga berkualitas. 

Benih berkualitas adalah benih yang berasal dari kualitas unggul yang memiliki kelebihan daripada benih dari varietas lain. Untuk bahan tanam berasal dari bibit, maka dipilih bibit dari tanaman induk yang juga berkualitas. Tanaman induk yang berkualias memenuhi syarat-syarat: berproduksi tinggi, hasil berkualitas baik, tanaman sehat dan tidak terserang hama, umur optimum, dan ifat-sifat bainya dapat diturunkan ke generasi selanjutnya. 

2. Pengolahan tanah 

Pengolahan tanah merupakan usaha agar tanah tempat media tumbih tanaman dapat sesuai untuk syarat tumbuh tanaman sehingga pertumbuhan tanaman optimal dan dapat memberikan hasil yang maksimal. Secara umum, tujuan pengolahan tanah adalah: memperbaiki sifat fisika tanah, mengendalikan gulma, menambah bahan organik, meningkatkan infiltrasi air hujan, meningkatkan penyimpanan lengas tanah, meningkatkan ketersediaan hara, dan memperkecil aliran air limpasan. 

Pengolahan tanah tergantung jenis tanaman yang akan ditanam. Untuk tanaman semusim, pengolahan tanah hanya dilakukan pada permukaan tanah dengan keteblan 1- 20 cm. Untuk tanaman tahunan, pengolahan tanah bisa lebih dapam lagi yaitu antara 60- 100 cm. 

3. Penanaman 

Bahan tanam dapat langsung ditanam di lahan atau dapat juga dapat disemaikan terlebih dahulu. Tanaman dengan biji kecil memiliki resiko untuk tidak tumbuh atau tumbuh dan tidak serentak ketika langsung ditanam di lahan. Oleh karena itu hendaknya tanaman dengan asal bahan tanam biji, disemaikan terlebih dahulu sebelum ditanam di lahan. Pada tanaman tahunan, benih disemai terlebih dahulu dilanjutkan dengan pembibitan, dan ketika berusia 1-2 tahun, baru tanaman ditanam di lapangan. 

4. Pemeliharaan tanaman 

Pemeliharaan tanaman merupakan aspek yang sangat menentukan hasil tanaman yang dibudidayakan. Pemeliharaan tanaman meliputi: 
  • Pemupukan: pemupukan merupakan usaha untuk memberikan unsur-unsur hara yang dibutuhkan tanaman. Selain itu, pemupukan merupakan usaha untuk memperbaiki sifat kimia, fisika, dan juga kimia tanah. Dengan tercukupinya hara bagi tanaman, tanaman akan mampu melaksanakan metabolismenya dengan optimal sehingga pertumbuhan, perkembangan, dan hasilnya juga optimal. 
  • Pengairan: air memiliki fungsi yang sangat vital bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Tanaman membutuhkan air yang berbeda-beda untuk setia fase pertumbuhannya. Memberikan air yang tapat baik waktu ataupun jumlahnya dapat meningkatkan kemampuan metabolisme tanaman sehingga hasilnya juga akan optimal. 
  • Pembumbunan: pembumbunan merupakan meninggikan tanah di sekitar btang tanaman. Pembumbunan berfungsi agar batang tanaman menjadi lebih kokoh disamping untuk meningkatkan hasil tanaman untuk beberapa jenis komoditas (kacang tanah, kentang, dan umbi-umbian). 
  • Penyiangan: penyiangan merupakan usaha untuk menghilangkan gulma yang tumbuh di sekitar tanaman budidaya. Adanya gulma akan mengurangi jumlah hara untuk tanaman karena sebagian juga diserap oleh gulma tersebut. Adanya kompetisi yang kuat menjadikan tanaman tidak dapat tumbuh dengan optimal sehingga hasilnya juga tidak akan maksimal. 
  • Pengendalian hama dan penyakit: serangan hama dan atau penyakit dapat menurunkan kulaitas ataupun kuantitas hasil panen. Pengendalian hama dan penyakit sebelum serangan mencapai ambang ekonomi dapat meminimalisir kerugian akibat menurunnya kualitas dan kuantitas hasil penen. 
5. Pemanenan 

Panen merupakan kegiatan mengambil salah satu organ tanaman yang memiliki nilai untuk digunakan sebagai sarana mencukupi kebutuhan. Setiap tanaman memiliki perbedaan akan organ yang dipanen. Untuk serealia yang dipanen adalah bijinya, umbi-umbian yang dipanen adalah umbinya, dan buah-buahan yang dipanen adalah buahnya. Pada dasarnya, hasil tanaman dapat dipanen ketika memenuhi kriteria untuk masak secara fisiologis dan secara komersial. 

6. Pasca panen 

Setelah bagian tanaman dipanen, tidak semua yang dipanen langsung terpakai atau termanfaatkan. Ketika stok masih banyak, maka hasil tanaman yang baru saja dipanen akan disimpan terlebih dahulu. Metode penyimpanan yang benar sangat menentukan kualitas haasil panenan sampai jangka waktu yang lama ketika panenan siap dipergunakan. 

Sumber :
  • Kastono, Dody. Dasar-dasar Agronomi. Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada. 
  • Harjadi, S.S. 1991. Pengantar Agronomi. Gramedia, Jakarta.

Budidaya Tanaman Buncis (Phaseolus vulgaris)

Ilmupedia.web.id - Budidaya Tanaman Buncis (Phaseolus vulgaris)

Buncis merupakan tanaman sayuran yang diambil buah dan polongnya untuk dijadikan bahan makanan. Secara umum terdapat dua tipe pertumbuhan batang buncis, yaitu buncis yang tumbuh secara merambat dan buncis yang tumbuh secara tegak. Buncis yang tumbuh tegak dapat tumbuh di dataran rendah (200-300Mdpl) dan termasuk tanaman yang direkomendasikan karena biaya produksi lebih rendah (tidak memerlukan lanjaran). Buncis tumbuh baik pada tanah andosol dan regosol. Tanah yang baik untuk pertumbuhan tanaman buncis adalah yang gembur, subur, remah, dan memiliki pH antara 5,5-6. 

Budidaya tanaman buncis

1. Penyiapan benih

Benih yang digunakan adalah benih bersertifikat, memiliki daya tumbuh minimal 80%, tahan terhadap serangan OPT, tumbuh cepat dan seragam, warna mengilat, tidak bercampur dengan benih varietas lain, dan memiliki daya hasil yang tinggi.

2. Penyiapan lahan

Penyiapan lahan dilakukan dengan menyiangi gulma, menggemburkan tanah, dan membuat parit-parit drainase. Pengendalian gulma dapat dilakukan secara mekanik ataupun dengan menggunakan bahan kimia. Tanah dibajak dua kali sedalam 20-30 cm. Bedengan dibuat sesuai dengan ukuran lahan. Umumnya, bedengan dibuat dengan panjang 5 m dan lebar 1 m. Tinggi bedengan adalah 20 cm. pupuk kandang atau kompos diberikan sebanyak 20 ton/ha. Pupuk urea, TSP, dan KCl masing-masing sebanyak 200, 600, dan 120 kg/ha. Baik pupuk organik ataupun pupuk anorganik diberikan dalam larikan bedengan.

3. Penanaman 

Penanaman dilakukan dengan jarak tanam 20 x 40 cm. Lubang tanam dibuat dengan cara ditugal sedalam 4-6 cm. Lubang tanam diisi dengan 2-3 butir benih dan kemudian ditutup dengan tanah

4. Pemeliharaan

Penyiraman dilakukan setiap hari pada tanaman yang berumur 1 – 15 hari. Selanjutnya, penyiraman tergantung dengan keadaan tanah.

Pemupukan susulan hanya dengan menggunakan urea. Urea diberikan sebanyak 200 kg/ha pada saat tanaman berumur 14-21 hari. Pupuk susulan diberikan dengan cara menugal tanah dengan jarak 10 cm kemudian diisi dengan pupuk.

Pembumbunan dilakukan pada tanaman yang berumur 20 dan 40 hari. Pembumbunan pada musim penghujan lebih sering dilakukan agar air tidak menggenang.

Tanaman buncis merambat membutuhkan lanjaran atau turus agar dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Dua buah lanjaran ditancapkan secara berhadapan disamping tanaman buncis dan diikat ujungnya. Pemasangan turus dilakukan pada saat tanaman berumur 20 hari.

Pemangkasan dilakukan untuk meningkatkan cabang yang pada akhirnya dapat meningkatkan hasil buah. Pemangkasan dilakukan pada pucuk tanaman ketika tanaman berumur 2 dan 5 minggu. 

Beberapa hama yang menyerang adalah kumbang daun, lalat kacang, dan penggerek polong. Kumbang daun dan lalat kacang menyerang bagian daun sementara penggerek polong menyerang polong yang masih muda. Penyakit yang menyerang adalah penyakit layu dan antraknosa. 

5. Panen

Panen dapat dilakukan mulai tanaman berumur 60 hari. Panen dilakuakan setiap 2 atau 3 kali sehari agar diperoleh polong dengan tingkat kematangan seragam. Panen dilakukan dengan cara dipetik. 

6. Pasca panen

Sortasi dilakukan dengan memilih polong-polong yang bagus. Polong yang rusak atau terlalu tua dipisahkan dari polong-polong yang bagus. 

Pengepakan dilakukan dengan menggunakan karung goni. Untuk pengiriman jarak jauh, pengapakan dengan menggunakan peti kayu yang diberi lubang ventilasi agar udara dapat bersirkulasi dengan baik. 

Pengangkutan sebaiknya menggunakan kendaraan yang memiliki pendingin. Khususnya untuk pengiriman jarak jauh.

Penyimpanan ditempatkan pada ruangan bersuhu antara 0-5 C dan kelembaban 85-90 %. Ruang penyimpanan diusahakan memiliki sirkulasi udara agar tetap segar.

Syarat Tumbuh Tanaman Tebu

Ilmupedia.web.id - Tebu tumbuh baik pada daerah beriklim panas tropika dan subtropika disekitar khatulistiwa sampai garis isotherm 20 derajat C, yakni kurang lebih diantara 39 derajat LU sampai 35 derajat LS. Tanaman tebu banyak diusahakan di dataran rendah dengan musim kering yang nyata. Tebu dapat ditanam dari dataran rendah sampai pegunungan dengan ketinggian 1000 m di atas permukaan laut. Di dataran tinggi yang suhu udaranya rendah, tanaman tebu lambat tumbuh dan berendemen rendah. Di Asia Tenggara, batas maksimum elevasi untuk pertumbuhan normal tebu adalah 600 – 700 m di atas permukaan laut. Pada elevasi yang lebih tinggi siklus pertumbuhan akan lebih panjang dari 14 – 18 bulan.

Temperatur optimum untuk perkecambahan tebu adalah 26 - 33 derajat C dan 30 – 33 derajat C untuk pertumbuhan vegetatif. Selama pertumbuhan tanaman sedang mengalami fase kemasakan, temperatur malam yang relatif rendah (dibawah 18 derajat C) berguna untuk pembentukan kandungan sukrosa yang tinggi. Secara kuantitatif, tebu merupakan tanaman berhari pendek. Rata-rata curah hujan yang diperlukan untuk pertumbuhan optimal tanaman tebu adalah sekitar 1800 – 2500 mm per tahun. Dan jika curah hujan tidak mencukupi, lahan tebu harus diberi aliran irigasi.

Di samping itu, tebu memerlukan kesuburan dan sifat fisik tanah yang baik. Tebu dapat tumbuh baik pada berbagai macam tanah. Namun, kondisi tanah yang dapat menunjang pertumbuhan tebu dengan baik adalah kondisi tanah yang gembur, berdrainasi baik, memiliki pH 5-8, kandungan nutrisi serta senyawa organik yang banyak, dan kemampuan menahan kapasitas air yang baik.

Pertumbuhan terbaik bagi tanaman tebu adalah pada tanah lempung liat dengan solum yang dalam, lempung berpasir, dan lempung berdebu. Pada tanah berat juga dapat ditanami oleh tanaman tebu, namun memerlukan pengolahan tanah yang khusus. Beberapa kultivar tebu dapat tumbuh pada tanah yang berkadar garam relatif tinggi dan tergenang dalam waktu yang lama, terutama bila air mengalir. Pada pertumbuhannya, tebu menghendaki perbedaan nyata antara musim hujan dan kemarau (kering). Selama masa pertumbuhannya tebu membutuhkan banyak air, sedangkan menjelang tebu masak untuk kemudian dipanen, tanaman tebu membutuhkan keadaan kering tidak ada hujan yang menyebabkan pertumbuhan terhenti. Apabila hujan terus turun, maka kesempatan masak tanaman tebu terus tertunda yang mengakibatkan hasil rendemen menjadi rendah.

Fiksasi Karbon Tanaman C-3 (Siklus Calvin)

Fiksasi Karbon Tanaman C-3 (Siklus Calvin)

Ilmupedia.web.id - Fiksasi karbon merupakan bagian dari serangkaian proses fotosintesis yang terjadi ketika tidak ada cahaya dan berfungsi untuk mereduksi karbondioksida menjadi senyawa organik seperti karbohidrat atau gula. Fiksasi tanaman C-3 berbeda dengan fiksasi karbon pada tanaman C-4

Pada tanaman C-3, fiksasi karbon berlangsung di dalam stroma kloroplas. Fiksasi karbon tanaman C-3 atau yang lebih dikenal dengan siklus calvi terdiri dari 3 tahap utama yaitu, karboksilasi, reduksi, dan regenerasi. Karboksilasi merupakan penambahan CO2 dan H2O pada RuBP untuk membentuk 3-Phospho Gliserid Acid (3-PGA). Reduksi berlangsung pada 3-PGA untuk membentuk 3- fosfogliseraldehid (3-PGald). Proses reduksi dilakukan oleh ATP yang dihasilkan dalam reaksi terang dan nukleotida yang juga tereduksi pada reaksi terang. Walaupun demikian, reduksi sesungguhnya dilakukan oleh NADPH yang memberikan 2 elektron pada atom C gugus ester anhidrida. Regenerasi merupakan penyusunan kembali RuBP yang berfungsi sebagai penangkap karbondioksida . Bahan penyusun RuBP adalah Ribolusa 5- Fosfat dan dikonversi oleh ATP yang juga dihasilkan dalam reaksi terang selama proses fotosintesis berlangsung. 

Secara umum, tiga putaran dalam siklus calvin akan memfiksasi 3 CO2 dan menghasilkan satu molekul 3 PGlad.sebagian molekul tersebut kemudian disintesis menjadi pati di dalam kloroplas ketika fotosintesis berlangsung dengan cepat. Pati merupakan produk fotosintesis yang terpenting. Berdasarkan aliran energy ATP yang dihasilkan dalam reaksi terang, 2 molikul ATP digunakan untuk mengkonversi 1 molekul CO2 menjadi karbohidrat. Setiap molekul CO2 yang difiksasi, dibutuhkan 2 ATP dan 2 NADPH. Satu molekul ATPyang tersisa digunakan untuk untuk tahap regenerasi (pembentukan kembali RuBP). 

Sumber : 
  • Gardner, F.P., R.B. Pearce, and R.L. Mitchell. 1985. Physiology of Crop Plants. The Lowa State University. 
  • Lakitan, Benjamin. 2011. Dasar-dasar Fisiologi Tumbuhan. Rajawali Press, Jakarta.

Fikasasi Karbon Tanaman C-4 (Siklus Hatch and Slack)

Ilmupedia.web.id - Fikasasi Karbon Tanaman C-4 (Siklus Hatch and Slack)

Jalur fiksasi karbon dalam proses fotosintesis tanaman C-4 sedikit berbeda dengan pada tanaman C-3. Fiksasi karbon tanaman C-4 sering disebut siklus Hatch and Slack karena yang menemukan jalur fiksasi ini adalah kedua ilmuwan tersebut. disebut sebagai spesies C-4 karena hasil pertama fotosintesis dalam mesofil daun adalah molekul dengan 4 atom C. 

Secara umum, terdapat dua tempat berlangsungnya fiksasi karbon tanaman C-4. Yaitu sel mesofil daun dan sel bundle sheet. Di dalam mesofil daun, fosfenolpirufat (PEP) menangkap karbondioksida yang berada di udara. CO2 yang berada di udara kemudan diubah menjadi asam oksaloasetat yang berantai 4 oleh PEP. Dari sini, asam oksaloasetat kemudian mengalami tiga bentuk perubahan. Yang pertama, oksaloasetat duibah menjadi malat, kemudian diangkut ke sarung berkas pengangkutan dan dipecah menjadi CO2 dan piruvat. Yang kedua, oksaloasetat diubah menjadi aspartat, diangkut ke dalam sarung berkas pembuluh kumudian diubah menjadi oksaloasetat kembali, dan dipecah menjadi piruvat dan CO2. Yang ketiga, oksaloasetat diubah menjadi aspartat kemudian diankut ke dalam sarung berkas pembuluh. Di sini, aspartat yang terbentuk diubah menjadi malat yang selanjutnya dipecah menjadi CO2 dan piiruvat. Jadi pada mesofil daun, karbondioksida yang diambil dari udara akan dibentuk menjadi asam malat dan asam aspartat yang merupakan molekul dengan 4 atom C. 

Di dalam sel bundle sheet, piruvat yang terbentuk dari pecahan malat, diangkut kembali ke sel mesofil daun untuk dijadikan PEP yang dapat menangkap karbondiksida dari udara. ATP yang dihasilkan selama fotofosforilasi di reaksi terang digunakan untuk mengubah piruvat menjadi PEP tersebut. Karbondioksida (CO2) hasil pecahan dari mlat kemudian diubah menjadi 3-PGA oleh rubisco (RuBP) kemudian masuk ke dalam siklus calvin dan proses fiksasi CO2 menjadi karbohidrat sudah sama seperti pada jalur C-3. 

Sumber : 
  • Gardner, F.P., R.B. Pearce, and R.L. Mitchell. 1985. Physiology of Crop Plants. The Lowa State University.
  • Lakitan, Benjamin. 2011. Dasar-dasar Fisiologi Tumbuhan. Rajawali Press, Jakarta.

Pengertian dan Ruang Lingkup Agronomi

Pengertian dan Ruang Lingkup Agronomi

Ilmupedia.web.id - Agronomi merupakan suatu ilmu dalam lingkup pertanian yang sangat berperan dalam keberhasilan mendapatkan hasil dari suatu tanaman. Secara harfiah, kata agronomi berasal dari kata agros dan nomos. Agros berarti lapangan, dan nomos yang memiliki arti pengelolaan. Jadi secara harfiah, agronomi dapat diartikan sebagai suatu ilmu yang mempalajari cara pengeloaan tanaman dan tanah di mana tanaman tumbuh untuk memperoleh hasil yang maksimal. 

Menurut Sumantri (1980), agronomi adalah ilmu yang mempelajari segala aspek biofisik yang berkaitan dengan usaha penyempurnaan budidaya tanaman untuk memperoleh produksi fisik secara maksimal. Sedangkan menurut Sri Setyati Harjadi (1986), agronomi adalah cara pengelolaan tanaman pertanian dan lingkungan untuk memperoleh produksi yang maksimal. 

Berdasarkan ketiga pengertian tersebut, terdapat tiga pokok pikiran utama yang terkandung di dalam agronomi. ketiganya adalah lingkungan tanaman, pengelolaan, dan juga produksi maksimal. Lingkungan merupakan tempat di mana tanaman dibudidayakan. Tanpa adanya lingkungan tempat tanaman tumbuh, maka hasil yang diharapkan dari suatu tanaman juga tidak akan bisa diambil. Pengelolaan merupakan suatu usaha untuk membuat lingkungan tempat tanaman tumbuh sesuai untuk tanaman yang ditumbuhkan. Pengelolaan dapat berlangsung dengan terencana dengan memanfaatkan segala macam teknologi yang ada. Semakin banyak kebutuhan manusia akan makanan, maka kebutuhan akan hasil tumbuhan juga akan semakin banyak. Adanya ligkungan dan pengelolaan yang baik pada lingkungan tersebut akan membuat tanaman dapat memberikan hasil secara maksimal. 

Agronomi berbeda dari usaha tani. Dalam agronomi, aspek ekonomis tidak diperhatikan. Efektivitas dan efisiensi produksi hasil tanaman tidak masuk dalam aspek agronomis. Yang ada hanyalah bagaimana membuat tanaman menghasilkan hasil panen setinggi-tingginya terlepas seberapa besanya modal yang dikeluarkan untuk membuat hasil panen maksimal. Aspek dalam agronomi hanya meliputi pemuliaan tanaman, fisiologi, ekologi, dan tentunya teknik budidaya tanaman. 

Pertanian pada masa lampau, ketika manusia masih melakukan tindakan berburu, meramu, dan berpindah-pindah lading belum dapat dikatakan sebagai tindakan agronomi. Hal ini karena tidak sesuai dengan pengertian-pengertian yang telah disebutkan sebelumnya. Pertanian pada masa lampau tidak melakukan pengelolaan terhadap tanah dan hanya membakar hutan untuk membuka lahan. Pertanian pada masa lampau juga tidak pernah melakukan pemeliharaan terhadap tanaman. Setelah tanaman ditanam, biasanya langsung melakukan aktivitas yang lainnya, seperti berburu hewan untuk dijadikan makanan. Dengan tidak adanya pengelolaan terhadap tanah dan pemeliharaan tanaman, maka tidak ada pula usaha untuk mencapai produksi yang maksimal. 

Jadi pada intinya, tindakan agronomi adalah suatu tindakan di mana telah dilakukan pengelolaan terhadap lingkungan tempat tumbuh tanaman, dilakukan pemeliharaan terhadap tanaman, dan dimanfaatkannya segala macam teknologi untuk mencapai produksi tanaman secara optimal, terlepas teknologi tersebut efektif dan efisien atau tidak.

Sumber : 
Kastono, Dody. Dasar-dasar Agronomi. Fakultas Pertanian Uniersitas Gadjah Mada.

Faktor yang Mempengaruhi Laju Fotosintesis

Faktor yang Mempengaruhi Laju Fotosintesis

Ilmupedia.web.id - Fotosintesis merupakan proses penyusunan senyawa organik dari bahan-bahan anorganik yang terjadi di klorofil daun dengan menggunakan energi utama dari cahaya matahari. Fotosintesis tidak berlangsung konstan. Untuk setiap jenis tanaman, laju fotosintesis tidaklah sama. Bahkan untuk tanaman yang sama, laju fotosintesis dapat berbeda ketika berada di dalam lingkungan yang berbeda. Secara umum, terdapat dua faktor utama yang menyebabkan perbedaan laju fotosintesis. Yang pertama dari faktor tanaman dan dari faktor lingkungan. Faktor tanaman meliputi genetis tanaman, umur daun dan klorofil, serta tahanan stomata daun. Faktor lingkungan yang utama adalah cahaya matahari, karbondioksida, dan air. 

1. Faktor genetis tanaman 

Secara genetis, tananaman C-4 memiliki laju fotosintesis yang lebih tinggi daripada tanaman C-3 dan CAM. Perbedaan ini dikarenakan perbedaan jalur fiksasi karbon yang dilakukan oleh spesies tanaman C-3, tanaman C-4 dan tanaman CAM. Tanaman C-4 umumnya memiliki laju pertukaran CO2 yang tinggi sehingga laju fotosintesisnya akan berlangsung lebih cepat. 

2. Umur daun dan kandungan klorofil 

Fotosinteis pada tanaman cenderung meningkat selama masa pembentuka daun tanaman. Pada saat tanaman mengalami pertumbuhan daun, maka klorofil pada daun juga berangsur-angsur meningkat. Peningkatan jumlah klorofil akan meningkatkan kemampuan tanaman dalam menangkap cahaya matahari dan ini akan semakin mempercepat laju fotosintesis. Daun yang sudah tua pada umumnya memiliki klorofil yang jauh lebih sedikit sehingga kemampuan dalam menagkap cahaya dan melakukan fotosintesis juga berkurang. 

3. Tahanan stomata 

Tahanan stomata merupakan hambatan yang menyebabkan stomata tidak bisa menyerap karbondioksida dari udara secara maksimal. Tidak terserapnya karbondioksida mengurangi kemampuan tanaman dalam melakukan fotosintesis. 

4. Cahaya matahari 

Pengaruh cahaya matahari dapat dikelompokkan menjadi tiga, intensitas cahaya, kualtas cahaya, dan panjang penyinaran cahaya. Untuk tanaman C-4, semakin tinggi intensitas cahaya, maka fotosintesis akan semakin tinggi. Hal ini karena tanaman C-4 jenuh pada cahaya yang lebih tingi (hampir mencapai 100%). Kualitas cahaya adalah panjang gelombang / warna cahaya yang diterima oleh klorofil daun. Pada dasarnya klorofil menyerap cahaya optimal pada cahaya dengan warna merah dan biru. Ketika cahaya yang diterima klorofil berwarna merah atau biru, maka ftosintesis akan semakin cepat. Panajng penyiaran tidak berpengaruh terhadap laju fotosintesis untuk setiap menit atau jam. Akan tetapi panjang penyinaran berpengaruh terhadap jumlah fotosintat yang dihasilkan dalam satu hari. 

5. Karbondioksida (CO2) 

Pada saat cahaya terik di mana tanaman menerima cahaya sebanyak yang dibutuhkan, peningakatan karbondioksida hingga 1500 ppm akan meningkatkan laju fotosintesis. Hal ini karena karbondioksida merupakan salah satu unsur utama yang digunakan sebagai bahan fotosintesis. 

6. Air 

Air berpengaruh terhadap turgor tanaman. Semakin banyak kandungan air, turgor tanaman akan semakin baik yang juga diikuti oleh peningkatan pembukaan stomata. Pembukaan stomata meningkatkan difusi CO2 yang juga akan meningkatkan kecepatan fotosintesis. Air juga merupakan bahan fotosintesis yang utama, dengan keberadaan air, tentunya juga meningkatkan kecepatan fotosintesis.