Biografi Lengkap Abdul Wahid Hasyim, Sang Kiai Muda Nasionalis

Profil Abdul Wahid Hasyim    

Nama : Kiai Haji Abdul Wahid Hasjim
Tanggal Lahir : 1 Juni 1914
Tempat Lahir : Jombang, Jawa Timur, Hindia Belanda
Zodiak : Gemini
Meninggal : Cimahi, Jawa Barat, 19 April 1953 (umur 38)
Makam : Tebuireng, Jombang
Agama : Islam
Warga Negara : Indonesia
Anak : 6

   

  Biografi Abdul Wahid Hasyim    

Abdul Wahid Hasyim lahir di Jombang Jawa Timur pada 1 Juni 1914, dari pasangan K.H. Hasyim Asy`ari d an Nyai Nafiqah binti K Ilyas. Ayahnya merupakan pendiri dari organisasi keagamaan Nahdlotul Ulama. Kecerdasan Wahid Hasyim sudah Nampak sejak usianya masih sangat belia. Pada usia 7 tahun ia sudah khatam Al-Qur`an dengan mendapat bimbingan langsung dari ayahnya. Pendidikan lainnya ia peroleh di Pesantren Tebu Ireng. Pada usia 15 tahun ia sudah mengenal huruf latin, menguasai bahasa belanda dan Inggris tanpa pernah mengenyam pendidikan dari sekolah colonial sedikitpun. Pada Buku Biografi abdul Wahid Hasyim disebutkan bahwa pada usia 18 tahun ia menunaikan ibadah Haji sekaligus bermukim selama 2 tahun di Makah untuk memperdalam ilmu agama.
Sepulang dari tanah suci, putra kelima dari K.H. Hasyim as`ari ini aktif diorganisasi yang didirikan oleh Ayahnya. Pada tahun 1938 ia menjadi pengurus NU ranting Cukir dan terus menanjak, pada tahun 1940 menjadi pengurus tingkat pusat PBNU dengan memimpin Departemen Ma`arif yang membidangi pendidikan. Beliau, seorang tokoh agama yang berpikiran luas jauh kedepan melintasi batas formal keagamaan. Kepemimpinannya terus terasah, dan terbukti dipercayanya beliau untuk menjadi ketua Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) pada 24 Oktober 1943. Pada bidang pendidikan, belai mendirikan sekolah Tinggi Islam di jakarta pada tahun 1944 yang pengelolaannya diserahkan kepada KH. A Kahar Muzakkir. Dalam biografi Abdul Wahid Hasyim tercatat, bahwa menjelang kemerdekaan pada tahun 1945, beliau menjadi anggota BPUPKI dan PPKI.

Ayah dari mendiang Presiden Republik Indonesia ke 4, K.H. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur ini merupakan seorang ulama yang dikenal moderat, substantive dan inklusif. Rumusan teks pancasila sila pertama `` Ketuhanan Yang Maha Esa`` merupakan bagian dari buah pemikirannya untuk menggantikan kalimat ``Kewajiban Menjalankan Syariat Islam bagi Pemeluknya. `Membaca Biografi Abdul Wahid Hasyim, kita akan menemukan betapa pada usia yang masih muda, beliau memiliki wawasan yang sangat luas mengenai pemikiran agama, Negara, pendidikan, politik, kemasyarakatan dan tentunya pula tentang pesantren yang menjadi basis dari NU.

Pada Biografi Abdul Wahid Hasyim disebutkan pula, bahwa beliau merupakan anggota termuda dari 62 orang anggota BPUPKI. Beliau juga tokoh termuda dari Sembilan tokoh nasional yang menandatangani piagam Djakarta, sebuah kesepakatan yang membidani lahirnya proklamasi dan konstitusi Negara. Setelah kemerdekaan, pada September 1945, beliau ditunjuk menjadi menteri Negara. Berlanjut pada Kabinet Syahrir pada tahun 1946 beliau juga menjadi Menteri. Pada tahun 1950 dalam Kabinet Hatta, Natsir dan Sukiman Beliau ditunjuk menjadi Menteri Agama. Perhatiannya pada pendidikan sangatlah besar dan pada tahun 950 Beliau mengeluarkan peraturan berdirinya Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAIN) yang menjadi cikal bakal IAIN atau UIN.

Pada tahun 1953, tepatnya pada 18 April, Beliau melakukan perjalanan menuju Sumedang untuk menghadiri rapat NU dengan ditemani puteranya Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Sesampainya di Cimindi, mobil yang ditumpangi selip dan tidak dapat dikendalikan oleh sopir hingga menabrak truk yang mengakibatkan K.H. Wahid Hasyim terlempar keluar. Kecelakaan tersebut membuat beliau koma, dan akhirnya wafat pada 19 april 1953 dalam usia yang masih muda 39 tahun. Jenazahnya dimakamkan di Pesantren Tebu Ireng Jombang. Dalam ulasan Biografi Abdul Wahid Hasyim dijelaskan, beliau mendapat anugerah sebagai Pahlawan Nasional sesuai darma bakti terbaiknya pada Negara Republik Indonesia.


EmoticonEmoticon