Bigrafi Al-Mahani Penemu Matekiawan Dan Astronom

al mahaniAbu-Abdullah Muhammad bin Isa Mahani (ابوعبدالله محمد بن عیسی ماهانی) adalah
matematikawan dan astronom Muslim dari Mahan, Kerman, Persia. Beliau adalah salah satu penulis modern yang memiliki gagasan tentang pemecahan teorema yang digunakan oleh Archimedes dari risalah tentang bola dan silinder aljabar.
Serangkaian pengamatan gerhana bulan dan matahari dan konjungsi planet yang dibuat oleh Al-Mahani sekitar tahun  853-866 digunakan pula oleh Ibn Yunus.

Al-Mahani menulis komentar tentang karya  Euclid dan Archimedes. Dia pernah mencoba untuk memecahkan masalah Archimedes: untuk membagi bola dengan menggunakan pesawat menjadi dua segmen berada di rasio tertentu dari volume. Masalah tersebut menyebabkan persamaan kubik, Berikut persamaan yang dibuat oleh Al-Mahani:
Rumus Al-Mahani





Sumber: Al-Mahani

Biografi Habash al-Hasib al-Marwazi Penemu Rumus Trigonometri

Habash al-Hasib al-Marwazi lahir setelah tahun 869 di Samarra, Irak, Ia berkembang di Baghdad, dan meninggal di centenarian setelah tahun 869. Beliau hidup saah kekhalifahan Abbasiyah al-Ma'mun dan al-Mu'tasim.

Astronomi
rumus trigonometri

Selama tahun 825-835, al-Marwazi membuat pengamatan dengan menyusun tiga tabel astronomi yakni:
  • Pertama masih dengan cara Hindu
  • Kedua, disebut 'mengiuji "tabel, tabel ini cenderung identik dengan "Ma'munic"atau "tabel Arab" dan mungkin sebuah karya kolektif astronom al-Ma'mun, 
  • Yang ketiga, yang disebut tabel Shah, yang lebih kecil.
  • Pada tahun  829 Ia melakukan penelitian yang berhubungan dengan gerhana matahari, Habash memberi kita contoh pertama dari penentuan waktu dengan ketinggian (dalam hal ini, matahari); metode yang umumnya diadopsi oleh para astronom Muslim.

Baca Juga:

Biografi Terlengkap Julius Lothar Meyer - Penemu Tabel Periodik



Matematika

Pada 830, ia telah memperkenalkan konsep "bayangan," umbra (versa), setara dengan singgung di trigonometri, dan ia menyusun tabel bayangan yang menjadi awal dari jenisnya. Dia juga memperkenalkan kotangen, dan menghasilkan tabel pertama untuk itu.

Kitab Badan dan Jarak
Al-Hasib melakukan berbagai pengamatan di observatorium Al-Shammisiyyah di Baghdad dan memperkirakan sejumlah nilai geografis dan astronomi. Dia mengumpulkan hasil dalam Kitab Badan dan Jarak, di mana beberapa dari hasil meliputi: 
Bumi (Earth)
  • Keliling bumi (Earth's circumference): 20,160 mil (32,444 km)
  • Diameter bumi (Earth's diameter): 6414.54 mil (10323.201 km)
  • Jari-jari Bumi (Earth radius): 3207.275 mil (5161.609 km)
Bulan (Moon)
  • Diameter Bulan (Moon's diameter): 1886.8 mil (3036.5 km)
  • Keliling Bulan (Moon's circumference): 5927.025 mil (9538.622 km)
  • Radius jarak terdekat dari Bulan (Radius of closest distance of Moon): 215,208;9,9 (sexagesimal) miles
  • Setengan-keliling jarak terdekat dari Bulan (Half-circumference of closest distance of Moon): 676,368;28,45,25,43 (sexagesimal) mil
  • Radius jarak terjauh Bulan (Radius of furthest distance of Moon): 205,800;8,45 (sexagesimal) mil
  • Diameter jarak terjauh Bulan (Diameter of furthest distance of Moon): 411,600.216 miles (662,406.338 km)
  • Keliling jarak terjauh Moon (Circumference of furthest distance of Moon): 1,293,600.916 miles (2,081,848.873 km)
Matahari (Sun)
  • Diameter Matahari (Sun's diameter): 35,280;1,30 mil (56,777.6966 km)
  • Keliling Matahari (Sun's circumference): 110,880;4,43 mil (178,444.189 km)
  • Diameter orbit Matahari (Diameter of orbit of Sun): 7,761,605.5 mil (12,491,093.2 km)
  • Kelilng orbit Matahari (Circumference of orbit of Sun): 24,392,571.38 mil (39,256,038 km)
  • Satu derajat sepanjang orbit Matahari (One degree along orbit of Sun): 67,700.05 mil (108,952.67 km)
  • Satu menit sepanjang orbit Matahari (One minute along orbit of Sun): 1129.283 mil (1817.405 km)

Biografi Penghitung Arah Mekah dengan Fungsi Tangen-al-Nairizi

Al-NayriziAbu'l-Abbas al-Fadl bin Hatim al-Nairizi atau dalam Latin dikenal dengan Anaritius, Nazirius,
adalah matematikawan Persia dan astronom dari Nayriz, Fars Province, Iran abad ke-9-10.Ia hidup pada masa Khalifah al-Mu'tadid (892-902), menyusun tabel astronomi, dan menulis sebuah buku untuk al-Mu'tadid tentang fenomena atmosfer.

Nayrizi menulis komentar tentang karya Ptolemy dan Euclid. Yang terakhir yang diterjemahkan oleh Gerard of Cremona. Nairizi menggunakan apa yang disebut umbra (versa), setara dengan tangen, sebagai garis trigonometri asli (namun sebelumnya hal tersebut sudah diungkapkan oleh ilmuwan persia lainnya yakni al-Marwazi yang merupakan penggagas pertamakali Sin, Cos dan Tan). Nayrizi memberikan bukti teorema Pythagoras menggunakan ubin Pythagoras.

Baca Juga:

Biografi Terlengkap Biografi Charles Darwin - Penemu Teori Evolusi


Dia menulis sebuah risalah pada lingkaran astrolabe yang sangat rumit, yang merupakan karya terbaik Persia pada subjek. Hal ini dibagi menjadi empat buku yakni:

1. Sejarah dan pengantar kritis.
2. Deskripsi bola astrolabe; keunggulannya atas pesawat astrolab dan semua instrumen astronomi lainnya.
3. Aplikasi.
4. Aplikasi.

Hidup pada masa Khalifah al-Mu'tadid

Al-Nayrizi telah bekerja  di pemerintahan al-Mu'tadid selama sepuluh tahun, ia menulis beberap karya untuk khalifah tentang fenomena meteorologi dan instrumen untuk mengukur jarak ke obyek. Namun pada tahun 902 al-Mu'tadid diracun oleh musuh politiknya sehingga Putra al Al-Mu'tadid, Al-Muktafi menggantikan posisi ayahnya untuk menjadi dan berkuasa antara tahun 902-908. Akhirnya al-Nayrizi terus bekerja di Baghdad untuk khalifah baru sejak dukungan yang sama bagi para intelektual di Baghdad.

The Fihrist (Index) adalah sebuah karya yang disusun oleh penjual buku Ibnu an-Nadim di tahun 988. Ini memberikan laporan lengkap dari sastra bahasa Arab abad ke-10 dan secara khusus menyebutkan bahwa al-Nayrizi sebagai astronom. Delapan hasil kerja dengan nama al-Nayrizi terdaftar dalam Fihrist. Pada abad ke-13sebuah karya kemudian ditulis yang menggambarkan al-Nayrizi baik sebagai astronom maupun sebagai ahli geometri terkemuka.

Karya Al-Nayrizi tentang astronomi termasuk komentar tentang karya Ptolemy's Almagest dan Tetrabiblos, Tidak selamat. Ia paling terkenal karena komentarnya tentang Elemen Euclid yang telah bertahan. Naskah Leiden dimaksud dalam judul yang berisi revisi oleh al-Nayrizi dari terjemahan Arab kedua Elemen Euclid oleh al-Hajjaj.

Terjemahan al-Hajjaj tidak bertahan, dan artikel ini meneliti sejauh mana terjemahan al-Nayrizi berubah, dengan alasan bahwa memang ia membuat perubahan besar. Makalah ini melihat versi naskah yang berbeda yang berisi komentar al-Nayrizi, beberapa dalam bahasa Arab, salah satunya versi Latin.

Dalam berurusan dengan rasio dan proporsi dalam komentarnya pada Element, al-Nayrizi mengadopsi konsep yang diusulkan oleh al-Mahani yang pernah bekerja di Baghdad, mungkin sebelum al-Nayrizi tiba di sana.

Baca Juga:

Biografi Terlengkap Julius Lothar Meyer - Penemu Tabel Periodik



Al-Nayrizi menulis sebuah karya tentang cara menghitung arah Ka'bah di Mekah (hal itu penting bagi umat Islam, karena setiap muslim harus menghadap arah (ka'bah sebagai kiblat) itu lima kali setiap hari saat melakukan shalat). Dalam karya ini ia secara efektif menggunakan fungsi tan, meski ia bukan orang pertama yang menggunakan ide-ide trigonometri. (en.wikipedia.org dan berbagai sumber)

Biografi Abu Hamid Ahmed ilmuan pengetahuan

bookAbu Hamid Ahmed bin Mohammed al-Saghani al-Asturlabi (artinya: astrolabe buatan Saghan,
dekat Merv) adalah astronom Persia dan sejarawan ilmu pengetahuan. Ia berkembang di Baghdad, dan meninggal pada 379-380 H / 990 M.

Al-Saghani merupakan seorang penemu dan pembuat instrumen, ia bekerja di observatorium Sharaf al-dawlah dan mungkin, telah membangun instrumen yang digunakan di sana. Penelitiannya meliputi pembagian sudut.

Baca Juga:

Biografi Terlengkap Biografi Charles Darwin - Penemu Teori Evolusi


Sejarah ilmu

Al-Asturlabi menulis beberapa komentar awal pada sejarah ilmu pengetahuan. Ini termasuk perbandingan antara "kuno" (termasuk Babilonia kuno, Mesir, Yunani, dan India ) dan "sarjana modern" (para ilmuwan Muslim pada masanya):

"Orang dahulu membedakan diri melalui penemuan prinsip-prinsip dasar dan ide penemuan. Para ulama modern, di sisi lain, membedakan diri melalui penemuan banyak detail ilmiah, penyederhanaan sulit (masalah), kombinasi tersebar (informasi), dan penjelasan (bahan yang sudah ada) koheren (bentuk). Dahulu prestasi khusus mereka berdasarkan prioritas mereka dalam waktu, dan tidak pada rekening setiap kualifikasi alami dan kecerdasan. Namun, begitu banyak penemuan mereka yang lolos, yang kemudian menjadi penemuan asli sarjana modern." (sumber: Wikipedia)

BiografiAbu Nasr Mansur penemu hukum sinus

hukum sinusAbu Nasr Mansur bin Ali bin Irak adalah matematika Muslim dari  Persia. Ia banyak dikenal
untuk penemuannya tentang hukum sinus.

Sebagian besar pekerjaan Abu Nasr fokus pada matematika, tapi beberapa tulisannya yang pada astronomi Dalam matematika, ia memiliki banyak tulisan penting pada trigonometri, yang dikembangkan dari tulisan Ptolemy. Ia juga memelihara karya Menelaus dari Alexandria dan mengerjakan kembali banyak teorema Yunani.

Baca Juga:

Biografi Terlengkap Alexander Fleming - Penemu Penisilin


Biografi

Abu Nasr Mansur ibnu Ali ibnu Iraq atau akrab disapa Abu Nasr Mansur (960 M - 1036 M). Keluarganya "Banu Iraq" menguasai wilayah Khawarizm (sekarang, Kara-Kalpakskaya, Uzbekistan). Khawarizm merupakan wilayah yang berdampingan dengan Laut Aral. Dia menjadi seorang pangeran dalam bidang politik.

Di Khawarizm, Abu Nasr Mansur menuntut ilmu dan berguru pada seorang astronom dan ahli matematika Muslim terkenal Abu'l-Wafa (940 M - 998 M). karena kecerdasanya, Abu Nasr dengan mudah menguasai matematika dan astronomi. Kehebatannya itu pun menurun pada muridnya, yakni Al-Birunn (973 M - 1048 M).

Al-Biruni tak hanya menjadi muridnya saja, tapi juga menjadi koleganya yang sangat penting dalam bidang matematika. Mereka bekerja sama menemukan rumus-rumus serta hukum-hukum yang sangat luar biasa dalam matematika. Kolaborasi kedua ilmuwan itu telah melahirkan sederet penemuan yang sangat hebat dan bermanfaat bagi peradaban manusia.

Perjalanan kehidupan Abu Nasr dipengaruhi oleh situasi politik yang kurang stabil. Akhir abad ke-10 M hingga awal abad ke-11 M merupakan periode kerusuhan hebat di dunia Islam. Saat itu, terjadi perang saudara di kota sang ilmuwan menetap. Pada era itu, Khawarizm menjadi bagian dari wilayah kekuasaan Dinasti Samaniyah.

Perebutan kekuasaan di antara dinasti-dinasti kecil di wilayah Asia Tengah itu membuat situasi politik menjadi kurang menentu. Pada 995 M, kekuasaan Banu Iraq digulingkan. Saat itu, Abu Nasr Mansur menjadi pangeran. Tidak jelas apa yang terjadi pada Abu Nasr Mansur di negara itu, namun yang pasti muridnya al-Biruni berhasil melarikan diri dari ancaman perang saudara itu.

Setelah peristiwa itu, Abu Nasr Mansur bekerja di istana Ali ibnu Ma'mun dan menjadi penasihat Abu'l Abbas Ma'mun. Kehadiran Abu Nasr membuat kedua penguasa itu menjadi sukses.

Ali ibnu Ma'mun dan Abu'l Abbas Ma'mun merupakan pendukung ilmu pengetahuan. Keduanya mendorong dan mendukung Abu Nasr mengembangkan ilmu pengetahuan. Tak heran jika ia menjadi ilmuwan paling top di istana itu. Karya-karyanya sangat dihormati dan dikagumi.

Abu Nasr Mansur menghabiskan sisa hidupnya di istana Mahmud di Ghazna. Ia wafat pada 1036 M di Ghazni, sekarang Afghanistan. Meski begitu, karya dan kontribusianya bagi pengembangan sains tetap dikenang sepanjang masa.

Kontribusi

Abu Nasr Mansur telah memberikan kontribusi yang penting dalam dunia ilmu pengetahuan. Sebagian Karya Abu Nasr fokus pada bidang matematika, tapi beberapa tulisannya juga membahas masalah astronomi.

Dalam bidang matematika, dia memiliki begitu banyak karya yang sangat penting dalam trigonometri. Abu Nasr berhasil mengembangkan karya-karya ahli matematika, astronomi, geografi dan astrologi Romawi bernama Claudius Ptolemaeus (90 SM – 168 SM).

Dia juga mempelajari karya ahli matematika dan astronom Yunani, Menelaus of Alexandria (70 SM – 140 SM). Abu Nasr mengkritisi dan mengembangkan teori-teori serta hukum-hukum yang telah dikembangkan ilmuwan Yunani itu.

Kolaborasi Abu Nasr dengan al-Biruni begitu terkenal. Abu Nasr berhasil menyelesaikan sekitar 25 karya besar bersama al-Biruni. Sekitar 17 karyanya hingga kini masih bertahan.

Dalam bidang Matematika, Abu Nasr memiliki tujuh karya, sedangkan sisanya dalam bidang astronomi. Semua karya yang masih bertahan telah dipublikaskan, telah dialihbahasakan kedalam bahasa Eropa, dan ini memberikan beberapa indikasi betapa sangat pentingnya karya sang ilmuwan Muslim itu.

Secara khusus Abu Nashr mempersembahkan sebanyak 20 karya kepada muridnya al-Biruni. Salah satu adikarya sang saintis Muslim ini adalah komentarnya dalam The Spherics of Menelaus.

Perannya sungguh besar dalam pengembangan trigonometri dari perhitungan Ptolemy dengan penghubung dua titik fungsi trigonometri yang hingga kini masih tetap digunakan. Selain itu, dia juga berjasa dalam mengembangkan dan mengumpulkan tabel yang mampu memberi solusi angka yang mudah untuk masalah khas spherical astronomy (bentuk astronomi).

Baca Juga:

Biografi Terlengkap Biografi Charles Darwin - Penemu Teori Evolusi



Abu Nasr juga mengembangkan The Spherics of Menelaus yang merupakan bagian penting, sejak karya asli Menelaus Yunani punah. Karya Menelaus berasal dari dasar solusi angka Ptolemy dalam masalah bentuk astronomi yang tercantum dalam risalah Ptolemy bertajuk Almagest.

Karyanya di dalam tiga buku: buku pertama mempelajari kandungan/kekayaan bentuk segitiga, buku kedua meneliti kandungan sistem paralel lingkaran dalam sebuah bola/bentuk mereka memotong lingkaran besar, buku ketiga memberikan bukti dalil Menelaus.
Pada karya trigonometrinya, Abu Nasr Mansur menemukan hukum sinus sebagai berikut:

a/sin A = b/sin B = c/sin C.

Biografi Abu Sahl al-Quhi Ahli Geometri

Abu Sahl al-Qūhī-kompasAbu Sahl bin Wayjan Rustam al-Quhi adalah matematika, fisikawan dan astronom Persia. Beliau berasal dari Kuh (atau Quh), sebuah daerah di Tabaristan, Amol, dan berkembang di Baghdad pada abad ke-10. Ia dianggap sebagai salah satu ahli geometri Muslim terbesar, dengan banyak tulisan tentang matematika dan astronomi berhubungan dengannya.

Hidup di periode dinasti baru

Abu Sahl al-Quhi  dibesarkan selama periode dinasti baru sedang dibentuk yang akan memerintah Iran. Dinasti Buyid Islam memerintah di Iran barat dan Irak 945-1055 pada periode antara penaklukan Arab dan Turki.

Periode ini dimulai pada 945 ketika Ahmad Buyeh menduduki 'Abbasiyah ibukota Baghdad. Titik tertinggi dinasti Buyid adalah pada masa pemerintahan 'ad-Dawlah Adud 949-983. Ia memerintah dari Baghdad atas Iran selatan dan sebagian dari apa yangsekarang disebut Irak. Pelindung besar ilmu pengetahuan dan seni, didukung‘Adud ad-Dawlah sejumlah matematikawan istana di Baghdad, termasuk al-Quhi, Abu'l-Wafa dan al-Sijzi.Pada tahun 969 ‘Adud ad-Dawlah memerintahkan pengamatan dilakukan atastitik balik matahari pada musim dingin dan musim panas di Shiraz.

Baca Juga:

Biografi Terlengkap Biografi William Harvey - Penemu Peredaran Darah dan Fungsi Jantung



Pengamatan

Titik balik matahari musim dingin dan musim panas dibuat oleh al-Quhi, al-Sijzidan ilmuwan lain di Shiraz selama 969 - 970.Sharaf ad-Dawlah adalah anak ‘Adud ad-Dawlah dan ia menjadi Khalifah pada tahun 983. Dia terus mendukung matematika dan astronomi sehingga al-Quhi tetap di istana di Baghdad bekerja untuk khalifah baru. Sharaf ad-Dawlah al-Quhi diperlukan untuk melakukan pengamatan dari tujuh planet dan untuk melakukan ini al-Quhi memiliki observatorium yang dibangun di taman istana diBaghdad. Instrumen di observatorium dibangun dirancang sendiri oleh al-Quhidan dipasang setelah gedung itu selesai.

Al-Quhi dijadikan direktur observatorium ini dan secara resmi dibuka pada bulan Juni 988.Sejumlah ilmuwan hadir pada pembukaan. Orang tertentu, matematikawan dan astronom terkenal Abu'l-Wafa, layak disebutkan. Dia juga bekerja di istanaSharaf ad-Dawlah. Yang hadir lainnya pada pembukaan adalah Abu Ishaq al-Sabi. Al-Sabi adalah seorang pejabat peringkat tinggi di Baghdad yang tertarik dalam matematika.

Beberapa pengamatan akurat dilakukan tetapi observatorium berhenti bekerja di tahun 989 pada kematian Sharaf ad-Dawlah. Dinasti Buyid pada tahap ini mulai kehilangan kontrol kekaisaran. Ekonomi berada di bawah, dan pemberontakan di tentara membuat hidup penguasa sulit. Kegiatan budaya seperti sebuah observatorium mengambil prioritas yang lebih rendah. Al-Quhi dalam matematika dia lebih terkenal, menjadi tokoh dalam kebangkitan dan kelanjutan dari geometri Yunani yang lebih tinggi di dunia Islam. Masalah geometris yang dipelajari al-Quhi biasanya untuk persamaan kuadrat atau persamaan kubik.

Abu Sahl al-Quhi adalah pemimpin dari para astronom yang hidup di 988 AD di observatorium yang dibangun oleh Buwaihi Sharaf al-Dawla di Badhdad. Dia menulis sebuah risalah pada astrolabe di mana ia memecahkan sejumlah masalah geometris yang sulit.

Baca Juga:

Biografi Terlengkap Alexander Fleming - Penemu Penisilin



Dalam matematika dia mencurahkan perhatiannya kepada masalah Archimedes dan Apollonian yang mengarah ke persamaan lebih tinggi dari derajat kedua. Dia memecahkan beberapa masalah yang membahas kondisi solvabilitas. Misalnya, ia mampu memecahkan masalah dari inscribing pentagon biasa menjadi persegi, sehingga persamaan derajat keempat. Ia juga menulis sebuah risalah tentang "kompas yang sempurna", kompas dengan satu kaki panjang variabel yang memungkinkan untuk menarik irisan kerucut : garis lurus, lingkaran, elips, parabola dan hiperbola. Sangat mungkin bahwa al-Quhi menemukan perangkat. [Sumber : Wikipedia]

Biografi Abul Wafa Muhammad Al Buzjani Penemu sinus

Abu al-Wafā', Muḥammad ibn Muḥammad ibn Yahya bin Ismail bin al-Abbas al-Būzjānī atau Abū al-Wafa Būzhgānī  adalah Matematikawan dan Astronom Persia yang bekerja di Bagdad.

Abul Wafa Muhammad Ibn Muhammad Ibn Yahya Ibn Ismail al-Buzjani lahir 10 Juni tahun 940 M/328 H di kota kecil bernama Buzhgan, (sekarang Torbat-e Jam ) di Khorasan (Sekarang Iran). Sejak masih kecil, kecerdasannya sudah mulai nampak dan hal tersebut ditunjang dengan minatnya yang besar di bidang ilmu alam.

Ia belajar matematika dari pamannya bernama Abu Umar al- Maghazli dan Abu Abdullah Muhammad Ibn Ataba. Sedangkan, ilmu geometri dikenalnya dari Abu Yahya al-Marudi dan Abu al-Ala’ Ibn Karnib.

Masa sekolahnya dihabiskan di kota kelahirannya itu. Setelah berhasil menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah, pada usia 19, di tahun 959M Abul Wafa pindah ke Baghdad mengenyam pendidikan dan tinggal di sana selama empat puluh tahun.

Abul Wafa tumbuh besar di era bangkitnya sebuah dinasti Islam baru yang berkuasa di wilayah Iran. Dinasti yang bernama Buwaih itu berkuasa di wilayah Persia — Iran dan Irak ñ pada tahun 945 hingga 1055 M. Kesultanan Buwaih menancapkan benderanya di antara periode peralihan kekuasaan dari Arab ke Turki. Dinasti yang berasal dari suku Turki itu mampu menggulingkan kekuasaan Dinasti Abbasiyah yang berpusat di Baghdad pada masa kepemimpinan Ahmad Buyeh.

Baca Juga:

Biografi Terlengkap Tjipto Mangunkusumo, Anggota Tiga Serangkai



Kontribusi

Di bidang ilmu geometri, Abul Wafa memberikan kontribusi signifikan bagi pemecahan soal-soal geometri dengan menggunakan kompas; konstruksi ekuivalen untuk semua bidang, polyhedral umum; konstruksi hexagon setengah sisi dari segitiga sama kaki; konstruksi parabola dari titik dan solusi geometri bagi persamaan.

Konstruksi bangunan trigonometri versi Abul Wafa hingga kini diakui sangat besar kemanfaatannya. Dia adalah yang pertama menunjukkan adanya teori relatif segitiga parabola. Tak hanya itu, dia juga mengembangkan metode baru tentang konstruksi segi empat serta perbaikan nilai sinus 30 dengan memakai delapan desimal. Abul Wafa pun mengembangkan hubungan sinus dan formula 2 sin2 (a/2) = 1 - cos a dan juga sin a = 2 sin (a/2) cos (a/2)

Di samping itu, Abul Wafa membuat studi khusus menyangkut teori tangen dan tabel penghitungan tangen. Dia memperkenalkan secan dan cosecan untuk pertama kalinya, berhasil mengetahui relasi antara garis-garis trigonometri yang mana berguna untuk memetakannya serta pula meletakkan dasar bagi keberlanjutan studi teori conic.

Abul Wafa bukan cuma ahli matematika, namun juga piawai dalam bidang ilmu astronomi. Beberapa tahun dihabiskannya untuk mempelajari perbedaan pergerakan bulan dan menemukan "variasi". Dia pun tercatat sebagai salah satu dari penerjemah bahasa Arab dan komentator karya-karya Yunani.

Karya tulis ilmiah

Banyak buku dan karya ilmiah telah dihasilkannya dan mencakup banyak bidang ilmu. Namun tak banyak karyanya yang tertinggal hingga saat ini. Sejumlah karyanya hilang, sedang yang masih ada, sudah dimodifikasi.

Kontribusinya dalam bentuk karya ilmiah antara lain dalam bentuk kitab Ilm al-Hisab (Buku Praktis Aritmatika), Al-Kitab Al-Kamil (Buku Lengkap), dan Kitab al-Handsa (Geometri Terapan).

Abul Wafa pun banyak menuangkan karya tulisnya di jurnal ilmiah Euclid, Diophantus dan al-Khawarizmi, tetapi sayangnya banyak yang telah hilang. Kendati demikian, sumbangsihnya bagi teori trigonometri amatlah signifikan terutama pengembangan pada rumus tangen, penemuan awal terhadap rumus secan dan cosecan. Maka dari itu, sejumlah besar rumus trigomometri tak bisa dilepaskan dari nama Abul Wafa.

Untuk memantau bintang dari observatorium itu, secara khusus Abul Wafa membangun kuadran dinding. Sayang, observatorium tak bertahan lama. Begitu Sultan Sharaf ad-Dawlah wafat, observatorium itu pun lalu ditutup. Sederet karya besar telah dihasilkan Abul Wafa selama mendedikasikan dirinya di istana sultan Buwaih.

Beberapa kitab bernilai yang ditulisnya antara lain; Kitab fima Yahtaju Ilaihi al- Kuttab wa al-Ummal min ‘Ilm al-Hisab sebuah buku tentang aritmatika. Dua salinan kitab itu, sayangnya tak lengkap, kini berada di perpustakaan Leiden, Belanda serta Kairo Mesir. Ia juga menulis “Kitab al-Kamil”.

Dalam geometri, ia menulis “Kitab fima Yahtaj Ilaih as-Suna’ fi ‘Amal al-Handasa”. Buku itu ditulisnya atas permintaan khusus dari Khalifah Baha’ ad Dawla. Salinannya berada di perpustakaan Masjid Aya Sofya, Istanbul. Kitab al-Majesti adalah buku karya Abul Wafa yang paling terkenal dari semua buku yang ditulisnya. Salinannya yang juga sudah tak lengkap kini tersimpan di Perpustakaan nasional Paris, Prancis.

Sayangnya, risalah yang di buatnya tentang kritik terha dap pemikiran Euclid, Diophantus serta Al-Khawarizmi sudah musnah dan hilang. Sungguh peradaban modern berutang budi kepada Abul Wafa. Hasil penelitian dan karya-karyanya yang ditorehkan dalam sederet kitab memberi pengaruh yang sangat signifikan bagi pengembangan ilmu pengetahun, terutama trigonometri dan astronomi.

Baca Juga:

Biografi Terlengkap Joseph Lister, 1st Baron Lister - Penemu Antiseptik untuk Pembedahan



Wafatnya Abul Wafawafat

Abul Wafawafat pada 15 Juli 998 di kota Baghdad, Irak. Untuk menghormati pengabdian dan dedikasinya dalam mengembangkan astronomi namanya pun diabadikan di kawah bulan. Di antara sederet ulama dan ilmuwan Muslim yang dimiliki peradaban Islam, hanya 24 tokoh saja yang diabadikan di kawah bulan dan telah mendapat pengakuan dari Organisasi Astronomi Internasional (IAU). Ke-24 tokoh Muslim itu resmi diakui IAU sebagai nama kawah bulan secara bertahap pada abad ke-20 M, antara tahun 1935, 1961, 1970 dan 1976. salah satunya Abul Wafa.

Kebanyakan, ilmuwan Muslim diadadikan di kawah bulan dengan nama panggilan Barat. Abul Wafa adalah salah satu ilmuwan yang diabadikan di kawah bulan dengan nama asli. Kawah bulan Abul Wafa terletak di koordinat 1.00 Timur, 116.60 Timur. Diameter kawah bulan Abul Wafa diameternya mencapai 55 km. Kedalaman kawah bulan itu mencapai 2,8 km.

Lokasi kawah bulan Abul Wafa terletak di dekat ekuator bulan. Letaknya berdekatan dengan sepasangang kawah Ctesibius dan Heron di sebelah timur. Di sebelah baratdaya kawah bulan Abul Wafa terdapat kawah Vesalius dan di arah timur laut terdapat kawah bulan yang lebih besar bernama King. Begitulah dunia astronomi modern mengakui jasa dan kontribusinya sebagai seorang astronom di abad X.

Abul Wafa Muhammad Al Buzjani

Abul Wafa Muhammad Al BuzjaniInformasi Pribadi :

Lahir: 10 Juni, 940 Buzhgan

Meninggal: 997 atau 998 M, Baghdad

Era: Masa keemasan Islam


Kepentingan utama: Matematika dan Astronomi

Gagasan penting: Fungsi Tangent, Hukum sinus, Beberapa identitas trigonometri

Karya-karya besar: Almagest dari Abu al-Wafa

Biografi Abu Mahmud Hamid Ahli Sekstan Mural

Abu Mahmud Hamid bin Khidr Khojandi (dikenal sebagai Abu Mahmood Khojandi,
Sextant
Alkhujandi atau al-Khujandi) adalah astronom Asia Tengah dan ahli matematika asal Mongol yang tinggal di akhir abad ke-10 dan membantu membangun sebuah observatorium dekat kota Ray (sekarang Teheran) di Iran.

Al Khunjadi dilahirkan pada tahun 940 di sebuah wilayah yang bernama Khunjand, Kota Khunjand terletak di sepanjang kedua tepi sungai Syrdarya, menuju pintu masuk ke Lembah Fergana yang sangat subur dan menghijau. Sehingga pada masa itu, pertanian di wilayah tersebut cukup maju. Pada masa modern saat ini, kota Khunjand merupakan negara Tajikistan yang terletak di Eropa Timur.

Beberapa fakta tentang kehidupan Khujandi yang diketahui berasal dari tulisan-tulisan yang masih hidup maupun dari komentar yang dibuat oleh seorang ilmuwan sekaligus ahli matematika dari kota Khurasan Iran, Nasiruddin Al-Tusi (Nassereddin Tusi). Dari komentar Tusi itu cukup yakin bahwa Khujandi, selain merupakan seorang ilmuwan yang ahli astronomi dan matematika juga salah satu dari penguasa yang berasal dari keturunan suku Mongol di wilayah Khujand. Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa Al Khunjadi berasal dari kaum bangsawan.

Baca Juga:

Biografi Terlengkap Joseph Lister, 1st Baron Lister - Penemu Antiseptik untuk Pembedahan



Dalam melakukan penelitian maupun pengembangan berbagai macam karya-karya ilmiahnya, Al-Khujandi didukung oleh para anggota dinasti Buwaih. Dinasti Buwaih tersebut sangat berkuasa pada tahun 945 ketika pemimpinnya yang bernama Ahmad ad-Dawlah berhasil menduduki Abbasiyah yang merupakan ibukota Baghdad. Anggota keluarga Ahmad ad-Dawlah sendiri menjadi para penguasa di berbagai provinsi. Sehingga tidak ada banyak perlawanan terhadap Dinasti Buwaih. Al-Khujandi sendiri banyak mendapatkan perlinduangan dari Fakhr ad-Dawlah yang memerintah antara tahun 976 hingga 997.

Selain memberikan perlindungan bagi Al Khunjadi, Fakhr ad-Dawlah juga memberikan dukungan yang kuat terhadap proyek besar yang menjadi obsesi Al-Khujandi untuk membangun sekstan mural yang sangat besar bagi observatoriumnya di Rayy, yang saat ini dekat Kota Teheran, Iran. Para ilmuwan Arab mempercayai bahwa semakin besar alat tersebut maka semakin akurat pula hasil penelitian dan pengamatan yang akan diperoleh. Bahkan sekstan mural penemuan Al-Khujandi tersebut mampu menunjukkan akurasi hingga ke level detik di mana para ilmuwan sebelumnya, belum pernah mendapatkan penemuan seperti itu.

Penelitian Astronomi

Selama tahun 994 Al-Khujandi melakukan berbagai macam penelitian. Dalam sebuah penelitiannya, dia menggunakan instrumen yang sangat besar untuk mengamati serangkaian transit meridian matahari yang dekat dengan titik balik matahari. Dalam pengamatan yang dilakukannya pada tanggal 16 dan 17 Juni tahun 994 dia gunakan untuk melihat titik balik matahari musim panas. Sedangkan pengamatan pada tanggal 14 dan 17 Desember tahun 994, dia gunakan untuk melihat titik balik matahari musim dingin, untuk menghitung arah kemiringan dari Ekliptika, dan lintang dari Rayy. Dia menjelaskan pengukurannya secara rinci dan sangat mendetail dalam sebuah risalah yang berjudul On the obliquity of the ecliptic and the latitudes of the cities (Arah kemiringan dari Ekliptika dan garis lintang kota-kota).

Dari berbagai macam pengamatan dan penelitian yang dia lakukan, Al Khunjadi memperoleh kemiringan sebesar 23 ° 32 '19 " dari Ekliptika. Nilai yang ditemukan Al Khunjadi ini rupanya lebih rendah dari pada nilai-nilai yang diperolehnya pada pengamatan sebelumnya.

Al-Khujandi mengatakan bahwa orang India menemukan kemiring yang paling besar dari Ekliptika yakni sebesar 24 °, sedangkan Ptolemeus menemukan kemiringan sebesar 23 ° 51 ', dan dia sendiri menemukan kemiringan sebesar 23 ° 32' 19 ". Menurut Al Khunjadi, nilai-nilai kemiringan yang berbeda dari Ekliptika ini terjadi bukan karena rusak atau cacatnya instrumen yang digunakan untuk melakukan pengukuran terhadap kemiringan ekliptika. Tetapi, kemiringan dari Ekliptika sendiri, baginya tidak konstan alias berubah-ubah. Hal itu terjadi akibat menurunnya kuantitas.

Namun menurut sejumlah ilmuwan lain, tetap terdapat kesalahan dalam pengamatan dan penghitunga Al-Khujandi saat menilai kemiring dari Ekliptika, di mana dia melakukan penghitungan dua menit terlalu rendah. Kesalahan tersebut dibahas oleh kedua ilmuwan lain yang juga ahli dalam bidang astronomi dan matematika yaitu Al-Biruni dalam Tahdid di mana mereka mengklaim bahwa instrumen yang digunakan oleh Al Khunjadi terlalu berat. Mungkin Al-Biruni benar dalam menunjukkan penyebab kesalahan yang dilakukan oleh Al Khunjadi dalam penghitungannya. Tetapi, penghitungan Al-Khujandi untuk menentukan lintang kota Rayy sebesar 35 ° 34 '38,45 " sangatlah akurat, meskipun dihitung dengan menggunakan nilai yang salah untuk menunjukkan kemiringan dari Ekliptika.

Baca Juga:

Biografi Terlengkap Biografi William Harvey - Penemu Peredaran Darah dan Fungsi Jantung



Matematika

Al-Khazin menuliskan, Abu Muhammad al-Khujandi merupakan ilmuwan dan seorang pemikir yang sangat maju dan semoga Allah SWT memberikan berkah kepadanya. Dari demonstrasi yang dilakukan oleh Al Khunjadi bahwa jumlah dari dua bilangan kubik bukanlah sebuah kubus adalah tidak benar. Meski demikian, setidaknya Al Khunjadi merupakan ilmuwan yang tidak pernah menyerah dan terus-menerus melakukan penelitian dan pembelajaran demi kemajuan ilmu pengetahuan. Tanpa adanya sebuah kesalahan, maka peradaban di dunia tidak mungkin mengalami kemajuan.

Dalam matematika Islam, ia menyatakan kasus khusus dari teorema terakhir Fermat untuk n = 3, walaupun bukti-nya tidak sepenuhnya benar. Hukum bola sinus mungkin juga telah ditemukan oleh Khujandi, tetapi tidak pasti apakah ia menemukan pertama kali, atau apakah Abu Nasr Mansur, Abul Wafa atau Nasir al-Din al-Tusi yang menemukan terlebih dahulu? [untuk lebih jelasnya baca: "Pertentangan Tentang Siapa Penemu Teorema Sinus"]

Biografi Ibnu Yunus adalah astronom dan matematikawan Muslim

Ibnu Yunus adalah astronom dan matematikawan Muslim dari Mesir. Dia termasuk ilmuwan yang paling teliti dalam melakukan penelitian. Ia telah memberi inspirasi dan pengaruh bagi para astronom di dunia Muslim maupun Barat. Salah satu astronom Muslim terkemuka yang banyak menerapkan buah pemikiran Ibnu Yunus adalah al-Tusi.  Lewat Ilkhani zij yang ditulis al-Tusi, hasil penelitian  Ibnu Yunus tentang bulan dan matahari masih tetap digunakan.

Biografi

Ibnu Yunus hidup di Mesir pada abad keempat Hijriyah (abad kesepuluh Masehi). Tanggal dan tempat kelahirannya tidak diketahui secara pasti, sekalipun sebagian sumber ada yang mengatakan bahwa dia dilahirkan pada tahun 341 H (952 M).

Ibnu Yunus mengabdikan dirinya kepada khalifah dari Dinasti Fatimiyyah bernama Al-Aziz Billah. Dia mengetahui potensi ilmiah Ibnu Yunus dan untuk itu dia selalu memotivasinya, memberinya jabatan dan membangunkan untuknya teropong bintang di gunung Al-Mugaththam.

Setelah wafatnya Al-Aziz Billah, Ibnu Yunus melanjutkan pengabdiannya kepada anaknya, Al-Hakim Biamrillah yang disebutkan di dalam buku-buku sejarah bahwa dia mencintai ilmu dan memperhatikan ilmu astronomi. Dia juga memberikan jabatan yang sesuai kepada para ilmuwan.

Dalam buku "Sirah" karangan Ibnu Hisyam, bagaimana Al-Hakim Biamrillah memperhatikan artikel Ibnu Yunus tentang Nil dan memanggilnya untuk merealisasikan proyeknya dan dia sendiri yang mengawasinya. Al-Hakim Biamrillah juga telah membangun "Darul Hikmah" di Kairo sebagai tempat bertemunya para ulama' dan sebagai tandingan "Baitul Hikmah" yang dibangun oleh Khalifah Al-Ma’mun di Baghdad. Al-Hakim membekali Darul Hikmah dengan perpustakaan besar yang disebut perpustakaan Darul Ilmi, dan melengkapi peralatan teropong bintang yang ada di Gunung Al-Mugaththam. Ibnu Yunus menghadap ke haribaan Tuhannya pada tahun 399 H (1009 M).

Baca Juga:

Biografi Terlengkap Jenderal Basuki Rahmat, Saksi Terbitnya Supersemar



Astronomi

Dari teropong bintang di Gunung Al-Mugaththam, Ibnu Yunus meneropong dua kali gerhana matahari, yaitu pada tahun 977 dan tahun 978 M. Pada tahun yang sama dia juga meneropong gerhana bulan dan mencatat semua peristiwa yang terjadi di dalam tabel astronominya.

Ibnu Yunus menghitung kecondongan daerah gugusan bintang-bintang dengan tingkat ketelitian yang sangat mengagumkan. Karena hasil peneropongan Ibnu Yunus yang tepat, maka para astronom Barat pada masa sekarang mengambilnya dan menjadikannya sebagai rujukan untuk menghitung gravitasi bulan.

Ibnu Yunus menemukan bandul jam mendahului seorang ilmuwan Itali, Galileo, enam ratus tahun sebelumnya. Mereka mempergunakannya untuk mengukur waktu ketika sedang melakukan peneropongan bintang karena lebih akurat dari pada jam mesin yang telah banyak digunakan pada masa itu.

Ibnu Yunus adalah penemu Bandul (ayunan) yang berguna untuk mengetahui deti-detik waktu ketika seseorang sedang meneropong benda angkasa. Fungsi bandul ciptaan Ibnu Yunus hampir serupa dengan bandul pada jam dinding. Karya Ibnu Yunus ini telah dikenal 6 abad sebelum Galileo Galilei menemukan pendulum (1564-1642). Ibnu Yunus juga menemukan Rubu Berlubang (Gunners Quadrant), sebuah alat untuk mengukur gerakan bintang.

Banyak sumber mengklaim bahwa Ibnu Yunus menggunakan sebuah bandul untuk mengukur waktu. Hal itu dicatat Gregory Good dalam Sciences of the Earth: An Encyclopedia of Events, People, and Phenomena. Penemuannya itu juga diakui Roger G Newton dalam Galileo's Pendulum: From the Rhythm of Time to the Making of Matter.

Ibnu Yunus juga telah membuat rumus waktu. Ia menggunakan nilai kemiringan sudut rotasi bumi terhadap bidang ekliptika sebesar 23,5 derajat.  Tabel tersebut cukup akurat, walaupun terdapat beberapa error untuk altitude yang besar. Ibnu Yunus juga menyusun tabel yang disebut Kitab as-Samt berupa azimuth matahari sebagai fungsi altitude dan longitude matahari untuk kota Kairo. Selain itu, disusun pula tabel a(h) saat equinox untuk h = 1, 2, …, 60 derajat.

Tabel untuk menghitung lama siang hari (length of daylight) juga disusun  Ibnu Yunus.  Ia juga menyusun tabel untuk menentukan azimuth matahari untuk kota Kairo (latitude 30 derajat) dan Baghdad (latitude 33:25), tabel sinus untuk amplitude terbitnya matahari di Kairo dan Baghdad. Ibnu Yunus juga disebut sebagai kontributor utama untuk penyusunan jadwal waktu di Kairo.

Matematika

Ibnu Yunus mampu menyelesaikan sebagian permasalahan yang ada dalam hitungan trigonometri berbentuk bola (spherical trigonometri) dengan bantuan garis vertikal bola langit pada masing-masing level, baik yang bersifat horisontal maupun vertikal.

Ibnu Yunus menemukan kaedah-kaedah dan hubungan matematis yang mungkin dapat dijadikan alat untuk merubah proses perkalian menjadi proses tambahan. Penemuan ini telah banyak memudahkan proses penghitungan. Dan, tidak diragukan bahwa penemuan ini telah memacu lahirnya ilmu hitung logaritma yang ada pada matematika modern.

Karya tulis Ibnu Yunus
"Az-Zaij Al-Hakimi," atau "Az-Zaij Al-Kabir Al-Hakimi." - Ibnu Yunus memberi nama buku ini sebagai penghormatan kepada khalifahnya, Al-Hakim Biamrillah. Menurut Ibnu Khalkan, buku ini merupakan buku yang paling tebal pada bidangnya. Karena, pengantarnya saja sangat panjang ditambah dengan delapan puluh satu pasal. Buku ini terdiri dari tabel-tabel astronomi yang berisi basil penelitian astronomi Ibnu Yunus dan basil penelitian astronomi para astronom sebelumnya setelah dikoreksi dan mengalami perbaikan. Nilai penelitian astronomi yang ada pada buku ini dijamin kebenarannya hingga tujuh angka desimal, dan tingkat akurasi seperti ini tentu sangat mengagumkan sekali. Di antara isi buku ini juga adalah berupa penjelasan Ibnu Yunus mengenai cara yang digunakan oleh para astronom pada masa Khalifah Al-Ma'mun dalam mengukur lingkaran bola bumi. Perlu diberitahukan bahwa buku "Az-Zaij Al-Hakimi" merupakan buku rujukan terpercaya bagi para ulama' Mesir dalam menetapkan kalender dan masalah-masalah yang berhubungan dengan perbintangan. Akan tetapi yang disayangkan, buku ini tidak sepenuhnya sampai kepada kita, karena sebagian bab-babnya masih berserakan di berbagai perpustakaan di beberapa negara.
Beberapa bab dari buku ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis oleh seorang orientalis Prancis, Kausan, pada tahun 1804 M. Berkomentar tentang Ibnu Yunus, seorang filsuf dan sosiolog Prancis, Gustav Le Bon mengatakan, "Ibnu Yunus menulis buku "Az-Zaij Al-Hakimi" di Mesir dan buku itu lebih akurat dari pada semua buku pada bidang yang sama."
"Az-Zaij Ash-Shaghir." - Buku ini juga dikenal dengan nama "Zaij Ibnu Yunus." Secara khusus buku ini memuat tabel-tabel astronomi dan basil penelitiannya di Mesir. Salah satu dari kopi salinan buku ini terdapat di perpustakaan Darul Kutub Mesir.
"Kitab Bulugh Al-Umniyyah Fima Yata'allaq Bithulu'i Asy-Sya'ri Al-Yamaniyyah."
"Kitab Fiihi As-Sumtu."

Baca Juga:

Biografi Terlengkap Tjipto Mangunkusumo, Anggota Tiga Serangkai


Kontribusinya bagi peradaban Islam

Kontribusi yang diberikan Ibnu Yunus bagi peradaban Islam bahkan kepada dunia sangat besar. Hal tersebut bisa diketahui dari hasil karya-karyanya. Ia telah membuat rumusan waktu yang cukup akurat. Ia juga menyusun tabel dalam kitab as-Samt yang berupa azimuth matahari sebagai fungsi altitude dan longitude untuk kota Kairo. Tabel untuk menghitung lamanya siang hari dan untuk menentukan azimuth matahari. Rumusannya sangat membantu umat Islam dalam menentukan waktu sholat dan hari-hari besar.

Hasil penelitian dan karya-karyanya telah memberikan inspirasi bagi astronom muslim maupun non-muslim. Hasil penelitiannya tentang matahari dan bulan sampai sekarang masih digunakan. Ia telah mengobservasi lebih dari 10.000 tempat posisi matahari dengan menggunakan astrolable yang besar berdiameter 1,4 meter.  Bahkan diklaim bahwa Ibnu Yunus merupakan orang pertama yang menggunakan pendulum untuk mengukur waktu.

Kehidupan Ibnu Yunus dan dedikasinya menjadi inspirasi para ilmuan sesudahnya. Hasil penelitiannya yang akurat dijadikan rujukan. Maka tidak heran jika sampai sekaran namanya tetap harum dilubuk hati para ilmuan. Penelitiannya tentang matahari dan bulan serta catatan-catatan observasinya memberikan manfaat bagi umat Islam untuk mengetahui waktu sholat, kiblat dan hari-hari besar Islam.

Biografi Alex Evert Kawilarang Penemu kapal Bersirip

Alex Evert Kawilarang Biografi

Alex Evert Kawilarang lahir di Desa Kinilou, Tomohon, Sulawesi Utara pada 13 Juni 1958. Alex tumbuh di dalam keluarga petani. Ia dilahirkan dan dibesarkan dalam lingkungan pertanian di kaki Gunung (api) Lokon, Desa Kinilou, Tomohon, Sulawesi Utara. Ia akrab dengan pertanian palawija, hortikultura,serta budidaya tambak air tawar. Sehingga ahli kelautan ini tetap cinta alam pegunungan.

Rumahnya yang sederhana dikelilingi tambak atau telaga lengkap dengan budidaya ikan mas dan mujair. Di bagian depan rumah tampak beberapa rumpun pohon bambu yang ikut menambah semarak lingkungan rumahnya.Ia memanfaatkan lokasi rumahnya di alam pegunungan yang sejuk sebagai tempat pertemuan para dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Ia sering menerima tamu di rumahnya yang dikelilingi tambak air tawar itu.

Baca Juga:

Biografi Terlengkap Mas Agustinus Adisutjipto, Bapak Penerbang Indonesia



Alex menyelesaikan pendidikan sekolah dasar di Desa Kinilou pada tahun 1971, kemudian melanjutkan ke sekolah teknik pertama dan lulus tahun 1974. Selanjutnya ia meneruskan pendidikan di Sekolah Usaha Perikanan Menengah di Manado dan lulus pada 1977.

Setelah sempat bekerja di sebuah perusahaan perikanan, Alex melanjutkan pendidikannya ke Fakultas Perikanan Unsrat dan lulus tahun 1984. Ia mengikuti program master di Faculty of Fisheries Nagasaki University pada tahun 1990 dan meraih gelar doktor di The Graduate School of Marine Science and Engineering Nagasaki University, Jepang, tahun 1993.

Selain aktif dalam dunia pendidikan, Alex juga dikenal luas di Sulawesi Utara karena aktivitasnya di berbagai organisasi pemuda. Antara lain,dia tercatat sebagai Wakil Ketua Komisi Pemuda GMIM (Gereja Masehi Injili di Minahasa), salah satu gereja terbesar di Kawasan Timur Indonesia. Ia juga menjadi anggota tim akademisi muda Unsrat yang aktif menjelaskan posisi, visi, dan misi Unsrat ke depan.

Alex secara rutin juga menjadi pembicara dan dosen tamu pada berbagai universitas di Jepang dan Perancis. Dia juga sering menyampaikan makalah ilmiah di berbagai universitas ternama di Jepang, Belanda, Inggris, dan Amerika Serikat.

Isterinya bernama Ixchel Peibie Mandagie MSi (juga dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unsrat). Mereka dikaruniai empat orang anak, yaitu Kesihi, Shinji, Etsuko dan Akira.

Penemuan kapal ikan bersirip

Kapal ikan bersirip adalah sebuah teknologi perkapalan yang diilhami dari sebuah ikan, ikan itu dapat terbang jauh bagaikan pesawat udara yang melayang rendah di atas permukaan air laut.

Alex Kawilarang tertarik ketika mengamati bentuk tubuh dan sirip ikan terbang bernama antoni (torani). Ikan itu dapat melayang di atas permukaan air laut. Tubuhnya terangkat melalui pergerakan sirip yang relatif panjang dan dorongan pergerakan tubuhnya sendiri.

Ikan antoni memiliki bentuk tubuh yang relatif unik, mulai dari kepala, badannya yang montok, pergelangan ekornya serta seluruh siripnya.

Bentuk tubuh dan sifat-sifat khas ikan antoni itulah yang ia terapkan ke dalam desain badan kapal ikan, berikut pemasangan sirip pada bagian lambung kapal. Hasilnya, tingkat kestabilan kapal ikan relatif menjadi lebih tinggi apabila dibandingkan dengan jenis kapal ikan lain.

Sejumlah pengkajian dan uji coba stabilitas kapal ikan yang menggunakan sirip ini sudah dilakukannya sejak 16 tahun terakhir. Pengkajian dan pengujian dilakukan di Laut Cina Timur, Teluk Ohmura Nagasaki, perairan Jepang Timur, Teluk Manado dan perairan di sekitar Kota Bitung. Hasilnya, stabilitas kapal ikan bersirip rata-rata melebihi kapal ikan biasa.

Selain itu, pengujian laboratorium juga dilakukan di beberapa laboratorium ternama, seperti Laboratorium kapal ikan di Fakultas Perikanan Hokkaido University, Japan Fisheries Engineering Laboratory, Faculty of Ship Building Soga University, Nagasaki.

Hasil pengujian stabilitas terhadap kapal ikan tipe sabani dari Okinawa dengan menggunakan sirip dalam kondisi statis meningkat 17 persen. Adapun saat kapal dalam kondisi dinamis atau bergerak, tingkat stabilitasnya naik menjadi 22 persen.

Baca Juga:

Biografi Terlengkap Jenderal Basuki Rahmat, Saksi Terbitnya Supersemar



Metode yang sama, diujicobakan pula pada beberapa kapal ikan tipe pamo yang biasa digunakan para nelayan Sulawesi Utara, baik dalam ukuran nyata maupun dalam skala model. Dari hasil pengujian diperoleh hasil stabilitas kapal pamo dalam kondisi statis meningkat 19 persen dan dalam kondisi dinamis meningkat 28 persen.

Berdasarkan semua pembuktian itu, temuan teknologi kapal ikan bersirip yang desainnya didasarkan pada bentuk tubuh ikan antoni itu, Alex mematenkan atas namanya sendiri di Jepang.

[Sumber: Tokoh Indonesia]