Insektisida Nabati Artikel Lengkap

Ilmupedia.web.id - Secara luas insektisida nabati dapat diartikan sebagai suatu zat yang dapat bersifat racun, menghambat pertumbuhan dan perkembangan, perkembangbiakan, tingkah laku, mempengaruhi hormon, menghambat makan, membuat mandul, sebagai pemikat, penolak, dan aktivitas lainnya yang mengganggu OPT. Secara umum, insektisida nabati diartikan sebagai insektisida yang bahan dasarnya berasal dari tumbuhan.

Insektisida nabati merupakan salah satu sarana pengendalian hama alternatif yang layak dikembangkan, karena senyawa insektisida yang diekstrak dari tumbuhan tersebut mudah terurai di lingkungan dan relatif aman terhadap mahkluk bukan sasaran. Insektisida nabati memiliki zat metabolik sekunder yang mengandung senyawa bioaktif seperti alkaloid, fenolik, terpenoid, dan zat-zat kimia sekunder lainnya. Senyawa tersebut ini dapat dimanfaatkan seperti layaknya senyawa pada insektisida sintetik, perbedaannya bahan aktif pestisida nabati disintesa oleh tumbuhan dan jenisnya dapat lebih dari satu macam (campuran). Apabila insektisida nabati diaplikasikan pada tanaman yang terinfeksi organisme pengganggu tidak berpengaruh terhadap fotosintesa, pertumbuhan atau aspek fisiologis tanaman lainnya.

Efektivitas bahan alami yang digunakan sebagai insektisida nabati sangat tergantung dari bahan tumbuhan yang dipakai, karena satu jenis tumbuhan yang sama tetapi berasal dari daerah yang berbeda dapat menghasilkan efek yang berbeda pula, ini dikarenakan sifat bioaktif atau sifat racunnya tergantung pada kondisi tumbuh, umur tanaman dan jenis dari tumbuhan tersebut.

Indonesia memiliki 50 famili tumbuhan penghasil racun. Famili tumbuhan yang dianggap sumber potensial insektisida nabati adalah Meliaceae, Asteraceae, Piperaceae, Annonaceae, dan Rutaceae. Banyaknya jenis tumbuhan yang memiliki khasiat sebagai insektisida maka penggalian potensi tanaman sebagai sumber insektisida botani sebagai alternatif pengendalian hama tanaman cukup tepat.

Pengolahan lahan pada Tanaman Cabai pada Musim Hujan

Ilmupedia.web.id - Pengolahan lahan pada Tanaman Cabai pada Musim Hujan

Langkah-langkah pengolahan lahan untuk tanaman cabai secara intesif pada musim hujan meliputi pembersihan lahan yang akan digunakan utnuk penanaman, pembajakan atau pencangkulan lahan, dan pembuatan bedengan kasar.

A. Pembersihan lahan

Pembersihan lahan areal penanaman cabai terutama dilakukan terhadap rumput-rumput liar atau gulma yang dapat meningkatkan kelembapan areal kebun. Pembersihan juga dilakukan terhadap tanaman keras lainnya yang dapat menggangu tanaman cabai, terutama yang bisa menghambat sinar matahari. Pembersihan lahan dapat digunakan cara manual dengan tangan atau dengan bulldozer jika lahannya luas dan memiliki banyak tanaman tahunan. Rumput dan tanaman gulma lainnya (kecuali yang berpotensi sebagai inang cendawan atau bakteri dan yang bisa tumbuh menjadi gulma, seperti rumput teki dan pisang) bisa dibiarkan menumpuk di lahan atau dibakar. Bekas tanaman keras atau batu-batu harus disingkirkan agar tidak menggangu perakaran tanaman cabai.

B. Pembajakan atau Pencangkulan

Lahan yang sudah selesai dibersihkan bisa langsung dibajak atau dicangkul dengan kedalaman sekitar 30-40 cm. Sewaktu dilakukan pencangkulan ini, rumput dan sisa tanaman lunak yang dibiarkan menumpuk sewaktu dilakukan pembersihan lahan bisa dicampur sekaligus dengan tanah sehingga membusuk dan dapat menjadi pupuk. Tujuan pencangkulan ini adalah untuk membalik tanah dan mengubah struktur tanah yang tadinya padat atau keras menjadi gembur atau remah sehingga akar cabai dapat dengan mudah menembus tanah dan mengambil zat makanan.

C. Pembuatan Bedengan

Tanah yang sudah dicangkul sebaiknya didiamkan terkena sinar matahari selama kurang lebih 2 minggu supaya terjadi pertukaran udara dan bibit penyakit atau hama yang berada di dalam tanah hilang. Setelah dua minggu tanah terjemur, pembuatan bedengan dapat langsung dibuat. Tujuan pembuatan bedengan agar tanaman cabai tidak tergenang air pada musim hujan. Bedengan untuk penanaman pada musim hujan harus dibuat lebar karena pada musim hujan sinar matahari tidak optimal sehingga kondisi kebun akan menjadi lembab. Jarak antar bedeng yang ideal sebaiknya 75-100 cm dengan lajur bedengan menghadap ke arah utara selatan.

Tinggi bedengan minimal 50 cm dan lebar 110-120 cm. Panjang bedengan diusahakan tidak terlalu panjang (rata-rata 10-12 m atau tergantung pada kondisi lahan) untuk mempermudah perawatan dan pembuangan air. Untuk membentuk bedengan yang rapi dan mempermudah pekerjaan, sebelum membuat bedengan sebaiknya dibuat plot-plot dengan menggunakan tali (raffia atau benang kasur) dengan ukuran panjang, lebar, dan tinggi sesuai dengan ukuran yang kita kehendaki. Pembentukan bedengan dilakukan dengan menggunakan cangkul dengan cara menaikkan tanah di luar plot untuk bedengan. Berbarengan dengan pembentukan bedengan ini, pemupukan dengan menggunakan pupuk kandang atau kompos bisa sekaligus dilakukan.

Pengolahan Lahan Kering Melalui Pompanisasi

Ilmupedia.web.id - Pengolahan Lahan Kering Melalui Pompanisasi

Potensi lahan kering di Indonesia cukup luas tersebar di pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Papua, Sulawesi dan Maluku yang sebagian besar belum secara optimal dimanfaatkan oleh masyarakat dan petani. Luas lahan kering di dataran rendah (di bawah 700m dari permukaan laut) yang dimiliki Indonesia ada sekitar 52,83 juta hektar, tetapi yang berpotensi untuk pengembangan tanaman pangan hanya sekitar 5,1 juta hektar.

Pada saat ini keadaan iklim di beberapa negara termasuk Indonesia selalu berubah-rubah yang tidak dapat lagi diprediksi secara tetap berdasarkan bulan musim yang siklusnya terjadi secara tetap seperti pada waktu yang lalu. Keadaan ini membuat para petani di lapangan menjadi lebih berhati-hati lagi dalam melaksanakan dan memilih jenis usahatani yang dikelolanya.

Seperti diketahui bahwa ketersediaan air secara irigasi teknis, setengah teknis dan irigasi sederhana sangatlah terbatas (di bawah 50%) dari lahan sawah yang tersedia. Bila dilihat dari keseluruhan lahan yang ada maka penyediaan air yang teratur sangatlah terbatas, sehingga diperlukan upaya penyediaan air dengan jalan yang lebih bisa teratur di luar air hujan yang diharapkan.

Tanaman palawija seperti jagung, kacang tanah, kacang kedelai, ubi jalar, ubi kayu dll secara umum memang tahan akan kekekringan tetapi pada fase-fase tertentu masih membutuhkan air. Seperti pada saat proses penumbuhan kecambah, proses pembentukan bunga dan proses pembentukan pati diperlukan air yang cukup untuk proses pertumbuhan yang sempurna.

Memang untuk Indonesia secara umum iklim yang menghasilkan curah hujan di atas 200 mm selama empat bulan berturut-turut hampir terjadi di 75% di wilayah Indonesia. Tetapi bila kita perhatikan kondisi di lapangan yang terjadi sekarang keadaan iklim yang sangat berpluktuatif menyebabkan bila mengharapkan hujan pada saat tertentu untuk kebutuhan tanaman mungkin bisa hasilnya meleset. Bila hal ini terjadi tentunya proses pertumbuhan tanaman palawija yang ditanam petani seperti jagung, kacang tanah, kacang kedelai, ubi jalar dan ubi kayu akan memberikan hasil yang kurang bagus.

Bila ingin diperoleh penyediaan air di daerah lahan kering di luar tadah hujan yang diharapkan dapat dilakukan para petani dengan menyediakan air tanah atau air permukaan tanah melalui pompanisasi. Tentunya pompanisasi yang dibutuhkan untuk menyediakan air di lahan pertanian tanaman palawija petani dapat dilakukan para petani melalui kerjasama kelompok.

Sebelum melakukan pelaksanaan pompanisasi di lapangan maka terlebih dahulu para petani bekerjasama dengan orang yang ahli di dalam pengeboran atau penggalian air permukaan tanah. Apakah di lahan areal pertaniannya mudah dilakukan penggalian air tanah dengan penggalian biasa atau memerlukan pengeboran, sehingga pelaksanaan pengambilan air permukaan tanah untuk pompanisasi berjalan dengan baik.

Sumber air yang telah digali baik melalui sumur atau pemboran dialirkan melalui pompanisasi misalnya jetpam atau alat mesin air sejenisnya yang harus benar-benar dialirkan secara efesien dan efektif. Karena diketahui bahwa biaya untuk pompanisasi ini memerlukan dana yang cukup besar yang harus dikeluarkan petani. Oleh karena itu diperlukan perawatan dan pemeliharaan dari sumur gali dan pemboran serta mesin yang digunakan untuk pompanisasi air ini.

Sebaiknya para petani yang terdiri dari beberapa orang dalam satu hamparan membeli pompanisasi untuk tanaman palawija mereka secara berkelompok. Karena jika membeli pompa air secara sendiri-sendiri akan memerlukan biaya yang sangat besar, sedangkan bila membeli mesin pompa secara berkelompok dapat menghemat biaya yang dikelurkan petani. Hanya yang perlu diperhatikan adalah adanya kerjasama dalam pemeliharaan, perawatan dan pembagian pemakaian pompanisasi air yang menjadi milik bersama itu, sehingga para petani akan memperoleh hasil yang baik dan berkesinambungan.

Sumber : Cybex.deptan.go.id

Kembang Landep (Barleria cristata)

Ilmupedia.web.id - Kembang landep termasuk dalam family Acantaceae dan berasal dari benua Asia. Kembang landep termasuk tanaman liar yang banyak ditemui sebagai semak-semak belukar dan memiliki beberapa nama. Indonesia umumnya menamainya dengan jorong. Sedang di Madura diberi sebutan dengan daun madu. Selain sebagai tanaman lar, kembang landep juga ditanam untuk hiasan rumah khususnya pad ataman-taman depan rumah. 

Kembang landep termasuk tanaman semak tegak dengan tinggi dapat mencapai 1,8m. Batang tanaman kembang landep berbentuk segi empat bulat, daun tunggal bertangkai dengan panjang tangkai 4-8 mm. helaian daun berubah-ubah bentuknya mulai dari bulat telur sampai lanset. Pangkal daun menyempit, bertepi rata, kedua sisinya berambut, . kembang landep sering ditanam sebagai tanaman hias atau tanaman pagar khususnya di daerah pedesaan.

Bunga kembang lendep termasuk bunga tunggal yang keluar dari ketiak daun, tidak bertangkai, dan berwarna putih-ungu. Pada pangkal kelopak bunga terdapat dua daun pelindung bunga, berbentuk garis, berambut lebat, dan memiliki panjang sekitar 1 cm. daun kelopak bunga yang palingluar memiliki tulang daun yang jelas, ujung tulang daun memanjang keluar, dan tepinya meruncing. Kelopak bunga berbagi 4, tajuk bunga berbentuk bulat telur, berambut kelenjar, bertulang daun banyak, besarnya tidak sama. Mahkota bunga berbentuk corong berbibir, berwarna ungu, putih, atau ungu dengan aksen putih. Tabung bunga panjangnya 3-5 cm, pinggir bunga berbibir dua, bibir bagian bawah tidak berbagi, berbentuk bulat telur,. Bibir bagian atas bercelah 4, berbentuk bulat telur dan berurat. Dua bengan sari yang terdepan subur dan tumbuh memanjang keluar mahkota bunga cukup jauh. Tiga buah yang lain staminoda yang paling belakang yang terkecil. Tonjolan dasar bunga berbentuk piala. Tangkai putik dan benangsari berwarna ungu, bakal buah berbentuk telur dan gundul. Buah berbentuk elips dengan panjang 1,5 cm dengan 3-4 bibir. 

Kembang landep dapat tumbuh dengan baik di tempat yang terena sinar matahari secara langsung ataupun yang mendapatkan naungan. Kemabang landep dapat tumbuh di dataran rendah atau tinggi hingga ketinggian 800 mdpl. Media tanam harus gembur, subur, dan memiliki drainase yang baik karena kembang landep tidak tahan terhadap adanya genangan. 

Perbanyakan kembang landep bisa menggunakan bijinya atau juga dengan cara vegetatif yaitu distek. Dalam pertumbuhannya, kembang landep tidak memerlukan perlakuan yang khusus. Asa disiram secara teratur, tanaman akan tumbuh dengan baik dan subur. Untuk menunjang pertumbuhan, pemberian pupuk N dan P juga diperlukan. Pupuk nitrogen diperlukan untuk membentuk tajuk dan perawakan yang kompak sehingga mampu menopang bunga-bunganya. Fosfor diperlukan untuk merangsang pembungaan sehingga bunga yang terbentuk banyak. 

Dengan perawatan, peniraman, dan pemupukan secara teratur sesuai dengan kondisi dan kebutuhan tanaman, maka tanaman akan tumbuh sehat, tidak mudah terserang penyakit, dan dapat berbunga dengan frekuensi yang stabil.

Pengenalan Suweg (Amorphophallus companulatus)

Ilmupedia.web.id - Suweg merupakan nama jawa dari tanaman Amorphophallus companulatus. Di Madura, tanaman suweg diberi dengan nama sobek, sementara di daerah Timor Timur, suweg diberi nama bawu. 

Suweg merupakan tanaman dari keluarga Araceae yang memiliki batang yang semu. Daun suweg termasuk daun tunggal yang terpecah-pecah dengan tangkai daun yang tegak dan langsung keluar dari umbinya. Tangkai berwarna hijau-putih, berbintil-bintil dan memiliki panjang hingga 150 cm. suweg berasal dari Afrika kemudian menyebar ke kepulauan pasifik, Jepang, dan juga Cina. 

Suweg memiliki bunga yang indah berwarna merah keunguan dan bercampur dengan kuning. Berukuran besar, berbentuk kerucut, dan memiliki bau khas yang dapat tercium hingga radius 50 meter. Bunga suweg tumbuh di atas umbi yang terdiri atas bunga seludang dan juga tongkol. Suweg berbunga setahun sekali dengan umur bunga yang hanya satu bulan. Setelah bunga layu, tanaman suweg akan bersemi kembali. Batang muda mulai tumbuh pada umbi yang sebelumnya ditumbuhi bunga. Setelah berumur Sembilan bulan, tanaman suweg akan memiliki organ tangkai daun dan daun yang sudah utuh. Umbi suweg memiliki bnejolan-benjolan yang tidak rata yang merupakan calon tunas yang ketika dipisah dan ditanam kembali akan menghasilkan tanaman suweg baru. 

Tempat Tumbuh 

Suweg dapat tumbuh baik pada berbagai jenis tanah termasuk tanah kapur, tanah merah, tanah lempung, tanah hitam, ataupun tanah berpasir. Ada daerah pedesaan yang masih banyak menanam suweg, suweg banyak ditanam diantara tanaman kayu seperti jati ataupun mahoni dan tahan terhadap naungan. Di Daerah Istimewa Yogyakarta, suweg banyak dijumpai di tanah kapur seperti Gunung Kidul atau Kulon Progo dan daerah berpasir di Parangtritis. Suweg dapt dikembangkan di daerah bertanah lincat seperti pada sebagian daerah aliran sungai progo. Suweg dapat tumbuh optimal pada ketinggian daratan 200-600 mdpl. 

Budidaya Tanaman Suweg

Suweg ditanam berasal dari tunas-tunas yang banyak keluar dari umbi. Bibit ditanam pada musim penghujan. Sebelum ditanam, tanah digemburkan terlebih dahulu baru setelah itu dibuat lubang tanam yang seukuran dengan bibit yang akan ditanam. Setelah bibit ditanam, tunas suweg ditimbun kembali dengan tanah atau juga dengan seresah dedaunan yang juga berfungsi sebagai pupuk. Suweg termasuk tanaman yang suka naungan sehingga penanaman sebaiknya dilakukan di bawah tegakan pohon seperti sawo ataupun nangka. Penggemburan tanah perlu dilakukan secara rutin untuk memudahkan umbi dalam melakukan pertumbuhan sehingga hasilnya dapat berukuran besar. Di beberapa daerah, tahun pertama umbi tidak dipanen tetapi hanya dibalik posisinya. Pada tahun kedua, barulah umbi suweg dipanen. Cara ini diyakini dapat meningkatkan ukuran umbi secara signifikan. 

Saat pergantian msim hujan ke musim kemarau, daun tanaman suweg mulai menguning dan mongering. Jika tangkai daun sudah rebah, tanaman suweg hendakna dipanen sesegera mungkin. Jika umbi tidak segera dipanen, banyak masyarakat yang percaya bahwa suweg akan memberikan rasa gatal ketika dikonsumsi. 

Pemanfaatan Tanaman Suweg

Pada zaman penjajah jepang, banyak masyarakat yang disuruh menanam suweg dan hasilnya dibawa ke jepang. Di jepang suweg digunakan sebagai bahan pembuatan pelumas pesawat terrbang. Akan tetapi, dari studi literature yang ada, umbi tanaman suweg lebih banyak digunakan sebagai bahan baku pembuatan makanan daripada sebagai bahan pelumas pesawat terbang. Suweg merupakan bahan pangan yang mengandung glukomannan yang merupakan bahan baku pembuatan makanan jepang yang disebut konjaku. 

Di beberapa wilayah di Indonesia, suweg merupakan makanan cadangan pertama setelah nasi. Hal ini karena ketika terjadi paceklik yang diakibatkan oleh lengkanya beras dan umbi umbi yang lain belum dapat dipanen, hanya tanaman suweg yang dapat dipanen pertama kali. Suweg juga dapat digunakan sebagai lauk dengan mencampurkannya dengan santan ataupun kerupuk. 

Suweg menghasilkan tepung makanan yang bersifat khas yaitu dapat mengkristal membentk struktur serat yang halus, larut dalam air dingin, dan membentuk massa sangat kental (tepung Mannan). Tepung mannan dapat diunakan untuk menurunkan demam. Di Jepang, tepung mannan digunakan sebagai bahan baku pembuatan jelly konjaku dan dry siratake.

Rumus Pemupukan N, P, & K pada Tanaman Padi

Ilmupedia.web.id - Rumus Pemupukan N,P dan K Pada Tanaman Padi 

Misalkan dalam satu musim kita pakai unsur
  • N = 250 kg
  • P = 200 kg
  • K = 150 kg
Contoh soal :

Pak Mardi memiliki Lahan seluas 3000 m2 dan beliau mengaplikasikan pupuknya selama satu musim di aplikasikan sampai 3 x Pemupukan. pertanyaannya adalah, berapakah kebutuhan pupuk yang mengandung unsur N, P, dan K dalam sekali aplikasi?

jawab

luas lahan 1 Ha adalah 10.000 m2

pertama kita jawab Unsur N dulu

rumusnya adalah : luas lahan di bagi satuan Hektar di kalikan dengan kebutuhan pupuk dalam satu musim 

3000:10000x250 = 75 kg
karena akan di aplikasikan sampai 3 x dalam semusim berarti 75 : 3 = 25 kg

sekarang Unsur P

rumusnya sama : luas lahan di bagi satuan Hektar di kalikan dengan kebutuhan pupuk dalam satu musim

3000:10000x200 = 60 kg
karena akan di aplikasikan sampai 3 x dalam semusim berarti 60 : 3 = 20 kg

sekarang Unsur K

rumusnya sama : luas lahan di bagi satuan Hektar di kalikan dengan kebutuhan pupuk dalam satu musim

3000:10000x150 = 45 kg
karena akan di aplikasikan sampai 3 x dalam semusim berarti 45 : 3 = 15 kg
selebihnya kita bisa menambahkan pupuk Organik untuk mengimbangi kesuburan tanah karena pengaruh pupuk kimia tadi.

demikian informasi yang bisa saya sampaikan, dan semoga ada manfaatnya. Aminnnnn!

apabila ada saran atau masukan mengenai pemupukan berimbang yang baik dan membangun dengan senang hati saya terima saran atau masukannya.

Pengenalan Buah Sawo (Achras sapota)

Ilmupedia.web.id - Pengenalan Buah Sawo (Achras sapota)

Sawo merupakan tanaman endemis yang berada di kawasan tropis Amerika Tengah, menyebar dari Meksiko hingga Guatemala, Salvador, dan Hounduas Utara. Dewasa ini, tanaman sawo sudah mulai dan banyak menyebar hampir di seluruh kawasan tropis (Ashari, 2006). Awalnya, sawo dibudidayakan di Chili untuk diambil lateksnya. Akan tetapi saat ini, sawo telah dibudiayakan untuk diambil buahnya yang manis untuk dokonsumsi atau sekedar untuk hiasan (Samson, 1989). 

Buah berukuran bulat hingga lonjong dengan permukaan kasar dan berwarna kecoklatan. Daging buah lunak, manis berair, dan berbiji hitam kecoklatan sebanyak hingga enam buah. Daging buahnya mempunyai tekstur yang khas, rasanya manis serta aroma yang khas dan segar. Buah sawo banyak dikonsumsi untuk buah segar dan jarang dimakan dalam bentuk awetan. Sawo dipetik dalam kondisi yang benar-benar tua karena buah sawo bersifat nonklimakterik. Akan tetapi, beberapa literature menyebutkan bahwa sawo termasuk buah klimakterik sehingga dapat dipanen ketika masih muda dan dapat diperam hingga matang. Buah sawo yang sudah matang beraroma harum, buahnya menjadi lunak, dan rasanya manis sekali. Buah sawo mengandung banyak gula atau sebesar 14% yang terdiri atas 7,2 %sukrosa, 3,7 % dekstrosa, dan 3,5 % levulose. Menurut Sunardi (2008), kandungan yang terdapat dalam sawo antara lain lemak, karbohidrat, vitamin A, vitamin C,kalsium, zat besi, potassium, dan sodium. 

Buah berasal dari bakal buah. Bunga hanya memiliki satu bakal buah saja. Dalam satu buah terdapat 3-5 biji. Biasanya biji-biji ini berwarna hitam. Dinding buah (pericarpium) tebal berdaging dan dapat dibedakan lapisan-lapisannya, yaitu kulit luar (epicarpium), lapisan paling luar berwarna coklat, tipis, kasar, kaku seperti kulit; dan kulit tengah (mesocarpium), tebal berdagingz, bisa dimakan, berair, berwarna coklat muda sampai coklat kemerahan;. Jika sudah masak buah tidak pecah. Biji-biji terletak bebas dalam mesocarpium. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa buah Achras zapota merupakan buah sejati, tunggal, berdaging dan buni 

Di Indonesia, sawo belum banyak diusahakan dalam skala yang luas. Banyak sentra produksi sawo yang hanya berasal dari pekarangan warga ataupun dari hutan rakyat. Sentra produksi sawo yang ada di Indonesia diantaranya adalah Ciamis, Bekasi, Wonogiri, Boyolali, Sleman, Bantul, dan Buleleng. Kebanyakan tanaman sawo yang dibudidayakan adalah jenis sawo manila dan sawo apel. 

Sawo dapat tumbuh dengan baik pada kondisi iklim tropis. Sawo cukup bisa menyesuaikan terhadap berbagai suhu. Akan tetapi suhu yang terlalu panas akan merusak pertumbuhan sawo. Curah hujan antara 1250-2500 mm per tahun yang tersebar merata sepanjang tahun. Sawo cukup tahan terhadap gannguan angin. Sawo masih dapat tumbuh cukup baik sampai ketinggian 900 m di atas permukaan laut, meskipun masih dapat tumbuh sampai ketinggian 2500 m di atas permukaan laut. Sawo tumbuh baik pada tanah alluvial dan tanah berpasir. Tanah liat masih cukup sesuai asal drainasenya baik. Sawo cukup tahan terhadap kekeringan. Sawo tumbuh baik pada tanah dengan kisaran pH tanah antara 6 – 7 (Purnomosidhi et al., 2002). 

Karena masih belum bersifat komersil seutuhnya, kebanyakan perbanyakan tanaman sawo masih dengan menggunakan biji. Perbanyakan dengan biji lebih mudah dilakukan dan memberikan akar dan tajuk yang lebih baik. Akan tetapi, tanaman yang dikembangkan dengan menggunakan biji baru akan berbuah ketika berumur 6-10 tahun. Perbanyakan tanaman dengan grafting cenderung sulit dilakukan karena batang sawo memiliki getah yang cukup banyak. 

Sawo ditanam pada lahan yang memiliki drainase yang baik karena sawo tidak tahan dengan adanya genangan. Sawo ditanam di lahan dengan jarak tanam 8x8 meter. Sawo diberi pupuk dengan pupuk majemuk NPK 4:7:5 dengan dosis 500 sampai 600 gram per pohon. Pada tanaman yang belum menghasilkan, pupuk diberikan tiga kali dalam setahun. Pada tanaman yang sudah menghasilkan, pemupukan dilakukan dua kali dalam setahun yaitu pada awal musim hujan dan akhir musim hujan. Pada daerah dengan syarat tumbuh yang optimal ditambah dengan teknis budidaya yang baik, tanaman sawo akan menghasilkan buah optimal.

Refferensi:

Ashari, Sumeru. 2006. Bebuahan Tropis Indonesia. Penerbit Andi, Yogyakarta.

Samson, J.A. 1989. Tropical Fruits. John Wiley and Sons. Inc., New York.

Sunardi. 2008. Nabi Saja Suka Buah. Aqwamedia, Solo.

Purnomosidhi, P., Suparman, J. M. Roshetko dan Mulawarman. 2002. Perbanyakan dan Budidaya Tanaman Buah-Buahan. International Centre for Research in Agroforestry, Jakarta.

Pola Tanam Tumpangsari

Ilmupedia.web.id - Tumpangsari merupakan salah satu jenis pola tanam yang termasuk jenis polikultur. Polikultur karena pada suatu lahan ditanami lebih dari satu jenis tanaman. Lebih detail, tumpangsari merupakan suatu pola pertanaman dengan menanam lebih dari satu jenis tanaman pada suatu hamparan lahan dalam periode waktu tanam yang sama. Pada awalnya, tumpang sari merupakan pola tanam yang banyak digunakan oleh petani-petani yang melakukan usaha tani guna mencukupi kebutuhan sendiri dan keluarga (subsisten). Resiko kegagalan yang tinggi dalam usaha pertanian membuat petani menanam lebih dari satu jenis tanaman sehingga ketika terjadi kegagalan panen satu kamoditas masih dapat memanen komoditas yang lain. Tumpangsari pada awalnya juga lebih dilakukan untuk tanah marginal modal petani yang kecil. 

Dalam perkembangan yang lebih lanjut, tumpangsari bukan hanya milik petani subsisten yang hanya melakukan usaha tani pada lahan yang dapat dikatakan marginal dengan modal yang seadanya. Tumpangsari sudah banyak diterapkan petani baik semi-komersial maupun komersial dan juga diterpakan pada lahan-lahan yang subur yang memang optimal untuk pertumbuhan dan perkembangan berbagai macam tanaman. Ini tidak terlepas dari beberapa kelebihan yang dimiliki oleh pola tanam tumpangsari. 

1. Efisien penggunaan ruang dan waktu 

Seperti talah dijelaskan sebelumnya, tumpangsari merupakan penanaman lebih dari satu jenis tanaman pada satu lahan dalam periode waktu yang sama. Dengan pola tanam ini, akan dihasilkan lebih dari satu jenis panenan dalam waktu yang bersamaan atau hampir bersamaan. Lebih dari satu hasil panen yang dihasilkan dalam satu waktu merupakan alah satu efisiensi produksi dalam kaitannya dengan waktu. Dalam kaitannya dengan ruang, pada pola tanam tumpang sari, masih ada space yang kosong pada jarak tanam tanaman dengan habitus tinggi seperti jagung atau tanaman tahunan yang lainnya. Ruang kosong itu yang dimanfaatkan untuk pertanaman tanaman yang lain sehingga penggunaan lahan lebih efisien. 

Dalam beberapa penelitian, tumpangsari diketahui mampu meningkatkan produktivitas lahan. Tumpangsari memang menurunkan hasil untuk masing-masing komoditas yang ditumpangsarikan karena adanya pengaruh kompetisi, tetapi, berdasarkan nilai nisbah kesetaraan lahan (NKL), berkurangnya hasil tiap-tiap komoditas masih berada di dalam kondisi yang menguntungkan. Contoh tumpangsari yang mampu meningkatkan produktivitas lahan adalah tumpangsari antara jagung dengan ubi kayu dan juga tumpangsari antara jagung dengan kacang hijau. 

Berdasarkan fakta tersebut, tumpangsari kemudian disebut sebagai pola tanam yang intensif. 

2. Mencegah dan mengurangi pengangguran musim 

Pada beberapa jenis tanaman, tanaga kerja banyak dibutuhkan pada musim tanam dan musim panen saja. Akibatnya, banyak pengangguran di sela-sela musim tanam dengan musim panen. Pada tumpangsari, tanaman yang diusahakan lebih beragam. Perawatan yang dilakukan untuk setiap jenis tanaman kebanyakan juga tidak dalam waktu yang sama. Dengan demikian, petani akan selalu memiliki pekerjaan selama siklus hidup tanaman. 

3. Pengolaahan tanah menjadi minimal 

Pengolahan tanah minimal lebih terlihat pada pola tanam tumpang gilir. Pada tumpang gilir, segera setelah suatu tanaman hampir menyelesaikan siklus hidupnya, buru-buru ditanami tanaman yang lain. Akibatnya, tidak ada waktu lebih untuk melakukan pengolahan tanah. Salah satu kelebihan tanpa pengolahan tanah atau dengan pengolahan tanah minimal adalah tidak terjadinya kerusakan struktur tanah karena terlalu intensif diolah. Selain itu, pada pengolahan tanah minimal atau tanpa oleh tanah resiko erosi akan lebih kecil daripada yang diolah secara sempurna. 

4. Meragamkan gizi masyarakat 

Hasil tanaman yang lebih dari satu jenis tentunya akan memberikan nilai gizi yang beragam. Setiap tanaman pada dasarnya memiliki kandungan gizi yang berbeda-beda. Ada sebagian yang mengandung karbohidrat, ada juga yang mengandung protein, lemak, ataupun vitamin-vitamin. Penganekaragaman jenis tanaman juga akan memberikan keanekaragaman jenis gizi kepada masyarakat. 

5. Menekan serangan hama dan patogen 

Pola tanam monokultur telah mengingkari sistem ekologi. Penanaman hanya satu jenis tanaman talah mengurangi keberagaman makhluk hidup penyusun ekosistemnya sehingga seringkali terjadi ledakan populasi hama dan patogen penyebab penyakit tanaman. Pola tanam dengan sistem tumpangsari sama dengan memodifikasi ekosisitem yang dalam kaitannya dengan pengendalian OPT memberikan keuntungan (1) penjagaan fase musuh alami yang tidak aktif (2) penjagaan keanekaragaman komunitas (3) penyediaan inang alternative (4)penyediaan makanan alami (5) pembuatan tempat berlindung musuh alami, dan (6) penggunaan insektisida yang selektif. 

Penanaman kentang yang ditumpangsarikan dengan kacang jogo seledri dan brokoli memberikan kemampuan parasitoid Hemiptarsenus varicornis untuk memparasit Liriomyza huidobrensis. Tumpang sari kentang dengan bawang daun dapat menekan populasi Myzus persicae. Dari sini kemudian dapat disebutkan bahwa sistem tumpangsari merupakan salah sistem pertanian yang berkelanjutan. 

Ketika suatu lahan pertanian ditanami denga lebih dari satu jenis tanaman, maka pasti akan terjadi interaksi antara tanaman yang ditanam. Interkasi yang terjadi dapat saling menguntungkan (cooperation) dapat juga berlangsung saling menghambat (competition). Dengan demikian, kultur teknis yang harus diperhatikan pada pola tanam tumpang sari adalah jarak tanam, populasi tanaman, umur tiap tanaman, dan arsitektur tanaman. Morfologi dan fisiologi tanaman juga harus diperhatikan. Kesemuanya berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil untuk masing-masing tanaman yang akan ditumpangsarikan. Dalam pola tanam tumpangsari, diusahakan untuk menanam jenis tanaman yang tidak satu family. Hal ini dimaksudkan untuk memutus mata rantai pertumbuhan dan ledakan populasi hama dan patogen karena untuk jenis tanaman yang satu family memiliki kecenderungan untuk diserang oleh hama dan patogen yang sama. Pada prinsipnya, pemilihan jenis tanaman dan kultur teknis yang dilakukan harus menunjukkan usaha untuk memaksimalkan kerjasama dan meminimalkan kompetisi pada tanaman-tanaman yang dibudidayakan. 

Kesalahan dalam menentukan jenis tanaman yang akan ditumpangsarikan dapar membuat yang sebenarnya menjadi kelebihan pola tanam tumpangsari menjadi kelemahan tumpang sari. Kompetisi antar tanaman yang terlalu tinggi membuat hasil untuk tiap tanaman menjadi sangat kecil yang berakibat pada nilai kesetaraan lahan yang kurang dari 1. Selain itu, dapat juga terjadi kesulitan pengendalian hama dan patogen karena tanaman yang ditumpangsarikan memungkinkan hama dan patogen menjadi inang untuk keduanya. Tidak jarang, biaya untuk perawatan tanaman tumpang sari juga lebih mahal karena harus merawat lebih dari satu jenis tanaman. 

Berdasaran hasil penelitian-penelitian dan pengembangan-pengembangan, bukan tidak mungkin jika pola tanam tumpangsari pada waktu yang akan datang menjadi pilihan utama suatu pola pertanaman dan bukan lagi hanya menjadi alternative. 

Refferensi: 

Syaiful A.S., A.Yassi, N. Rezkiani. 2011. Respon tumpangsari tanaman jagung dan kacang hijau terhadap sistem olah tanah dan pemberian pupuk organik. Jurnal Agronomika 1: 13-18. 

Setyawati W, dan A.A Asandhi. 2003. Pengaruh sistem pertanaman monokultur dan tumpangsari sayuran crucifera dan solanaceae terhadap hasil da struktur dan fungsi komunitas artropoda. Jurnal Hortikultura 13: 41-57. 

Suwarto, S. Yahya, Handoko, dan M.A. Coizin. 2005. Kompetisi tanaman jagung dan ubi kayu dalam sistem tumpangsari. Bulletin Agron 33:1-7

Kedudukan Biji dalam Buah Kakao (tinjauan pustaka)

Ilmupedia.web.id - Tanaman kakao (Theobroma cacao L) merupakan komoditas tanaman perkebunan yang cukup penting di Indonesia. Tanaman ini dikenal sebagai bahan-bahan untuk membuat makanan dan minuman yang seing disebut dengan baverage crop. Sejalan dengan makin banyaknya industri makanan dan minuman yang berbahan baku kakao, baik di Indonesia ataupun di dunia pada umumnya, prosepek kakao dapat dikatakan cukup cerah. Upaya yang dilakukan adalah dengan meningkatkan produksi tanaman kakao dan salah satunya adalah dengan memperbaiki teknis budidaya kakao (Hendrata dan Sutardi, 2009) 

Kakao atau biji kakao secara teknis bukan kacang atau kacang-kacangan, melainkan biji buah Theobroma cacao pohon. Buah berbentuk polong yang botanical diklasifikasikan sebagai baccate seperti (berry-seperti) dan masing-masing pod memproduksi sekitar 35-50 biji dikelilingi oleh bubur manis. The pod dan pulp sekitar biji kakao dalam hal ini merupakan buah kakao. Setelah panen, biji kakao dan buah mereka sekitarnya pulp biasanya ditempatkan dalam tumpukan atau kotak dan difermentasi di bawah pengaruh mikroba alami bahwa kalikan menggunakan gula dari pulp sebagai energy sumber. Benih-benih tersebut dikeringkan di bawah sinar matahari atau di kayu dipecat oven dan dikirim ke prosesor kakao. Coklat bibit selanjutnya telah mantel tipis mereka dihapus dari embrio jaringan, yang kemudian dipanggang, dan digiling menjadi apa yang disebut sebagai cairan cokelat. Cocoa powder adalah diproduksi oleh mekanis menekan sebagian besar lemak (cocoa butter) dari cairan cokelat dan dengan demikian merupakan ekstrak biji buah kakao itu (Crozier et al., 2011).

Menurut Wood and Las (1985), jenis yang paling banyak ditanam untuk produksi coklat hanya 3 jenis, yaitu 

1. Jenis Criollo 

Jenis Criollo terdiri dari Criollo Amerika Tengah dan Criollo Amerika Selatan. Jenis ini menghasilkan biji coklat yang mutunya sangat baik dan dikenal sebagai coklat mulia. Buahnya berwarna merah atau hijau, kulit buahnya tipis dan berbintil – bintil kasar dan lunak. Biji buahnya berbentuk bulat telur dan berukuran besar dengan kotiledon berwarna putih pada waktu basah. 

2. Jenis Forastero 

Jenis ini menghasilkan biji coklat yang memiliki mutu sedang atau dikenal juga sebagai Ordinary cocoa. Buahnya berwarna hijau, kulitnya tebal, biji buahnya tipis atau gepeng dan kotiledon berwarna ungu pada waktu basah. 

3. Jenis Trinitario 

Merupakan campuran dari jenis Criollo dengan jenis Forastero. Coklat Trinitario menghasilkan biji yang termasuk fine flavour cocoa dan ada yang termasuk bulk cocoa. Buahnya berwarna hijau atau merah dan bentuknya bermacam – macam. Biji buahnya juga bermacam – macam dengan kotiledon berwarna ungu muda sampai ungu tua pada waktu basah. 

Tanaman kakao dapat diperbanyak secara vegetatif dan generative. Perbanyakan vegetatif dengan menggunakan metode okulasi dan sambung pucuk. Perbanyakan vegetative dilakukan dengan menggunakan biji. Perbanyakan tanaman kakao juga dapat dilakukan dengan kombinasi antara perbanyakan vegetatif dengan perbanyakan generatif (Siregar et al, 1992). Salah satu faktor yang turut menunjang tingkat keberhasilan sambung pucuk dan okulasi adalah ketersediaan batang bawah yang subur dan sehat. Batang bawah yang subur dan sehat pada umumnya diperoleh dari biji yang berasal dari tengah buah. Biji yang berasal dari tengah buah pada umumnya memiliki ukuran yang lebih besar daripada dari bagian yang lain (Muljana, 1982) 

Biji yang baik adalah yang berasal dari bagian tengah buah, yaitu 2/3 bagian dari untaian biji (Setiawan, 1993). Biji yang terletak di bagian tengah menunjukkan persentase kerusakan dan biji yang tidak tumbuh terkecil serta daya dan panjang kecambah terbesar (Latif, 1982). Biji yang terletak di bagian tengah memiliki ukuran yang lebih besar jika dibandingkan dengan bagian pucuk ataupun pangkal. Dengan demikian, secara kuantitatif, biji yang berukuran besar jumlah cadangan makanan akan semkin banyak sehingga dapat mencukupi kebutuhan hidupnya (Hendrata dan Sutardi, 2009). Benih yang besar dan berat memiliki cadangan makanan yang banyak atau juga bisa karena memiliki embrio yang besar. Makin besar dan berat ukuran benih, maka kandungan protein dalam benih juga akan semakin banyak. Berat benih sangat menentukan kecepatan pertumbuhan dan produksi karena pada benih yang berat akan dihasilkan kecambah yang besar pada saat permulaan dan berat tanaman yang tinggi pada saat tanaman dipanen (Sutopo, 2002)

DAFTAR PUSTAKA

Crozier S.J, A.G Preston, J.W Hurst, M.J Payne, J.Mann, L.Hainly, L.Miller. 2011. Cacao seeds are a “Super Fruit": A comparative analysis of various fruit powders and products. Chemistry Central Journal 4: 621-624. 

Hendra R dan Sutardi. 2009. Respon bibit kakao pada bagian pangkal, tengah, dan pucuk terhadap pemupukan majemuk. Agrovigor 2: 103-109. 

Latif, S. 1982. Pengaruh lama penyimpanan dan letak biji pada pod terhadap daya kecambah benih cokelat (Theobroma cacao L). Buletin BPP Medan 13: 45-50.

Muljana, W. 1982. Bercocok Tanam Coklat. Aneka Ilmu, Semarang. 

Setiawan, A.I. 1993. Penghijauan dengan Tanaman Potensial. Penebar Swadaya, Jakarta.

Siregar, T.H., S. Riyadi, dan L. Nuraeni. 1992. Budidaya, Pengolahan, dan Pemasaran Coklat. Penebar Swadaya, Jakarta. 

Sutopo, Lita. 2002. Teknologi Benih. Rajawali Pers, Jakarta. 

Wood, G. and Las R. 1985. Cocoa. Longman, New York.

Perbanyakan Vegetatif dengan Grafting

Ilmupedia.web.id - Grafting merupakan salah satu metode perbanyakan vegetatif buatan yang sudah lama di kenal dan digunakan masyarakat luas untuk memperbaiki sifat tanaman baik sifat yang berkaitan kualitas ataupun yang berkaitan dengan kuantitas. Grafting tidak dapat menghasilkan tanaman dengan sifat yang benar-benar baru tetapi hanya menggabungkan antara dua sifat tanaman yang kemungkinan besar berlainan. Selain berkaitan dengan aspek agronomi, grafting juga merupakan salah satu metode dalam pemuliaan tanaman yang sudah dikenal sejak dahulu. 

Pada prinsipnya, grafting adalah menggabungkan dua bagian tanaman (organ dan jaringannya) yang masih hidup sedemikian rupa sehingga keduanya dapat bergabung menjadi satu tanaman yang utuh yang memiliki sifat kombinasi antara dua organ atau jaringan yang digabungkan tadi. Dua bagian tanaman yang disatukan pada umumnya dalah batang bawah dan batang atas. Bagian batang bawah yang memiliki perakaran dan menerima sambungan disebut dengan rootstock, understock, ataupun stock. Bagian atas yang digunakan untuk menyambung disebut dengan scion. Scion dapat berupa potongan batang atas (cutting) atau juga apat berupa mata tunas tanaman. Jika scion yang digunakan adalah cutting, maka disebut dengan grafting. Namun jika scion yang digunakan adalah mata tunas, maka disebut dengan penempelan, budding, atau okulasi. 

Proses pertautan sambungan yang terjadi selama tanaman disatukan diawali oleh terbentuknya lapisan nekrotik pada permukaan sambungan yang membantu menyatukan jaringan sambungan terutama di dekat berkas vaskular. Pemulihan luka dilakukan oleh sel-sel meristematik yang terbentuk antara jaringan yang tidak terluka dengan lapisan nekrotik. Lapisan nekrotik ini kemudian menghilang dan digantikan oleh kalus yang dihasilkan oleh sel-sel parenkim sel-sel parenkim batang atas dan batang bawah masing-masing mengadakan kontak langsung, saling menyatu dan membaur. Sel parenkim tertentu mengadakan diferensiasi membentuk kambium sebagai kelanjutan dari kambium batang atas dan batang bawah yang lama. Pada akhirnya terbentuk jaringan/pembuluh dari kambium yang baru sehingga proses translokasi hara dari batang bawah ke batang atas dan sebaliknya dapat berlangsung kembali. Agar proses pertautan tersebut dapat berlanjut, sel atau jaringan meristem antara daerah potongan harus terjadi kontak untuk saling menjalin secara sempurna. Penyatuan dua jaringan tanaman ini hanya mungkin jika kedua jenis tanaman cocok (kompatibel) dan irisan luka rata, serta pengikatan sambungan tidak terlalu lemah dan tidak terlalu kuat, sehingga tidak terjadi kerusakan jaringan. Dalam melakukan grafting atau budding, perlu diperhatikan polaritas 

Perbanyakan vegetative dengan cara grafting memiliki beberapa kegunaan yang mungkin tidak terdapat pada metode perbanyakan vegetative yang lainnya. Diantara kegunaan perbanyakan dengan cara grafting adalah memperbaiki kualitas dan kuantitas tanaman, mengatur proporsi tanaman agar memberikan hasil yang lebih baik (pada tanaman berumah dua), untuk peremajaan tanaman, menguji keberadaan penyakit akibat virus, mempercepat kematangan reproduktif, dan mendapatkan bentuk pertumbuhan khusus pada tanaman. 

Dengan menggabungkan dua tanaman menjadi satu, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan agar sambungan yang dilakukan mamu bersatu dan menghasilkan satu tanaman yang benar-benar dikehendaki. Hal-hal yang harus diperhatikan adalah: 

1. Hubungan stock dengan scion 

Semakin dekat hubungan kekeluargaan antara stock dengan scion akan semakin meningkatkan tingkat keberhasilan grafting yang dilakuan. Semakin jauh hubungan kekluargaan keduanaya akan meningkatkan tingkat inkompatibilitas sehingga proses grafting menjadi gagal. Inkompabilitas disebabkan oleh dua hal yaitu translocated incompatibility, dan lacalized incompatibility. 

Translocated incompatibility adalah terjadinya ketidaksesuaian karena terganggunya translokasi makanan yang menyebabkan adanya degenerasi jaringan phloem pada luka bekas grafting. Lacalized incompatibility terjadi karena adanya kontak yang kurang sempurna antara stock dengan scion sehingga jaringan cambium tidak dapat menyatu. 

Tandaatau gejala yang muncul ketika terjadi inkompatibilitas adalah tingkat keberhasilan grafting yang rendah, pada tanaman yang tumbuh daunnya menguning, mati muda pada bibit sambungan, terdapat perbedaan laju tumbuh antara batang atas dengan batang bawah, dan terjadinya pertumbuhan berlebihan baik batang atas maupun batang bawah. 

2. Kecermatan dalam melakukan grafting 

Grafting harus dilakukan sedemikian rupa agar floem dan xylem dari batang atas dapat bergabung dengan xylem dan floem dari batang bawah. Ketidak cermatan dapat menyebabkan kedunya tidak menyatu yang juga berakibat pada kegagalan dalam melakukan grafting. 

3. Kondisi faktor lingkungan 

Suhu dan kelembaban sangat berpengaruh terhadap keberhasilan grafting. Pembentukan jaringan penutup luka (kalus) sangat dipengaruhi oleh suhu. Kelembaban yang terlalu tingi akan meningkatkan potensi adanya cendawan yang yang menyebabkan penyakit pada luka bekas grafting. 

Walaupun pada prinsipnya tidak terbentuk tanaman baru pada grafting, namuan batang bawah dapat berpengaruh terhadap batang atas. Pengaruh yang ditimbulkan antara lain: mengontrol kecepatan tumbuh batang atas dan bentuk tajuk, mengontrol pembungaan dan jumlah tunas, mengontrol ukuran dan kemasakan buah, serta membuat batang atas lebih resisten terhadap hama dan penyakit tanaman. 

Secara umum, hanya terdapat dua tipe dalam pelaksanaan grafiting, yaitu sambung pucuk dan okulasi. Akan tetapi, dari kedunya masih dapat dipisahkan menjadi beberapa model lagi. Beberapa contoh model sambung pucuk adalah model jepitan lidah, model pensil, dan sambung samping model jepitan lidah. Sedangkan model yang ada pada metode okulasi adalah model T atau perisai, model cetakan, dan model kepingan 

DAFTAR PUSTAKA

Prastowo, N.H., J.M. Roshetko, E. Nugraha. 2006. Teknik Pembibitan dan Peranyakan Vegetatif Tanaman Buah, World Agroforestry Center. 

Ashari, S. 1995. Hortikultura Aspek Budidaya. Universitas Indonesia Press. Jakarta. 

Hartmann, H.T., D.E. Kester, F.T. Davies, and R. L. Geneve. 1997. Plant propagation principles and practices. 6th ed. Prentice Hall, Englewood Cliffs, N.J. 

Mangoendidjojo, W. 2007. Dasar-dasar Pemuliaan Tanaman. Kanisius, Yogyakarta. 

Widiarsih, S., Minarsih, Dzurrahmah. 2008. Perbanyakan Tanaman Secara Vegetatif Buatan. http://willy.situshijau.co.id