Pengertian Yurisprudensi, Syarat, Macam & Menurut Para Ahli

Ilmupedia.web.id - Yurisprudensi -  Setiap mahasiswa (peserta didik)di bangku kuliah pendidikan tinggi hukum biasanya akan diberi pengertian bahwa yurisprudensi adalah salah satu dari sumber hukum dalam arti formal. Memang harus disadari bahwa yurisprudensi di dalam sistem keluarga civil law tidak menoreh garis kekuatan preseden yang mengikat (the binding force of precedent) sebagaimana layaknya yurisprudensi di dalam keluarga sistemcommon law. Kendati demikian, dari waktu ke waktu peranan yurisprudensi di dalam perkembangan sistem hukum di semua keluarga sistem hukum, dirasakan justru makin menguat.

Yurisprudensi adalah salah satu sumber hukum yang penting dalam khazanah sumbersumber formal hukum di dalam keluarga sistem hukum manapun. Perbedaan gradasi dalam penempatannya dalam daftar sumber-sumber formal hukum memang lebih mengemuka pada keluarga sistem common law daripada civil law, kendati kian hari dirasakan ada kecenderungan kedua keluarga sistem itu makin mendekat satu sama lain.

Pengertian Yurisprudensi: Apa itu Definisi Yurisprudensi?

Istilah yurisprudensi berasal  bahasa Latin “Iuris Prudential”, dalam bahasa Belanda “Jurisprudentie”, sedangkan dalam bahasa Perancis “Jurisprudence” yang kesemuanya berarti “ilmu hukum”. Dalam sistem pengetahuan hukum, yurisprudensi diartikan sebagai suatu pengetahuan hukum positif dan hubungannya dengan hukum yang lain. 

Selain itu, pengertian lainnya tentang yurisprudensi diberikan dalam system statue law dan civil law yang mengartikan bahwa yurisprudensi adalah keputusan-keputusan hakim terdahulu yang telah memiliki kekuatan hukum tetap dan diikuti oleh hakim atau lembaga peradilan lain dalam memutuskan suatu kasus atau perkara yang sama.

Yurisprudensi adalah keputusan-keputusan dari hakim terdahulu untuk menghadapi suatu perkara yang tidak diatur di dalam UU dan dijadikan sebagai pedoman bagi para hakim yang lain untuk menyelesaian suatu perkara yang sama

Yurisprudensi diciptakan berdasarkan UU No. 48 Tahun 2009 Mengenai Kekuasaan Kehakiman, UU ini menyatakan : pengadilan tidak boleh menolak untuk memeriksa perkara, mengadili perkara dan memutuskan perkara yang diajukan dengan alasan hukum tidak ada atau kurang jelas (kabur), melainkan wajib memeriksa serta mengadilinya. Hakim diwajibkan untuk menggali, mengikuti dan memahami keadilan dan nilai-nilai hukum yang tumbuh dan berkembang di dalam masyarakat.

Pengertian Yurisprudensi Menurut Para Ahli Hukum

1. Yan Paramadya Puspa 
Yurisprudensi (Cases Law, Judge Made Law). Berdasarkan Kamus Hukum Karangan Yan Paramdya Puspa (1977), bahwa pengertian yurisprudensi adalah: 

"Kumpulan atau seri keputusan Makhkamah Agung berbagai vonis beberapa dari berbagai macam jenis kasus perkara yang berdasarkan dari pemutusan kebijaksanaan di setiap hakim sendiri yang kemudian dianut oleh para hakim lainnya untuk memutuskan kasus-kasus perkara yang hampir atau sama. Dengan adanya yurisprudensi demikian, para hakim secara tidak langsung dalam membentuk materi hukum atau yurisprudensi demikian merupakan sumber hukum."

2. Topo Santoso 
Menurutnya bahwa yurisprudensi adalah tidak sama dengan undang-undang, karena yurisprudensi memiliki kandungan norma khusus yang memiliki sifat individual dalam kasus tertentu, sedangkan dalam undang-undang sifatnya umum. Yurisprudensi tidak sama dan tidak setara dengan undang. 

3. Denny Indrayana
Menurut Denny Indrayana, bahwa pengertian yurisprudensi tidaklah sama dengan undang-undang, baik dari segi ketentuan hukum positif maupun dari segi doktrin. 

4. Philipus M. Hadjin 
Berdasarkan pendapat Philipus M. Hadjion dengan menggunakan oendekatan konseptual, bahwa berdasarkan UUD 1945, bahwa pengertian yurisprudensi adalah produk kewenangan legislasi DPR dengan karakter yuridis yang bersifat abstrak umum, sedangkan dlam Putusan Mahkamah Agung yang berada dalam ranah yudicial decision yang memiliki sifat yang konkrit-individual, maka dalam undang-undang tidak dapat disamakan dengan putusan Mahkamah Agung. 

5. Soehino 
Sedangkan menurut Soehino bahwa suatu keputusan Mahkamah Agung dapat disebut dengan Yurisprudensi, ketika putusan Mahkamah Agung tersebut mengenai suatu materi tersebut telah dirunut, dipakai sebagai acun dalam keputusan Mahkamah Agung mengenai materi yang sama yang paling sedikit 5 (lima) keputuan Mahkamah Agung.

6. Muladi
Menurut Muladi memberikan pendapatnya, yakni sebagai berikut: 
  • Yurisprudensi adalah ajaran hukum khusus yang terbentuk dari putusan-putusan pengadilan, khususnya Mahkamah Agung atau the science of law the forma principles upon which are law are based. 
  • Yurisprudensi dapat diartikan atau didefinisikan sebagai himpunan putusan hakim yang dianggap sebagai sumber hukum yang dapat dipakai sebagai rujukan oleh hakim dalam memutus perkara yang serupa. A body of a court decision as a judicial precedent considered by the judge in it's verdict. 
  • Yurisprudensi merupakan salah satu sumber hukum yang disamping undang-undang, traktat, dokrin dan hukum kebiasaan. 

Pembahasan Yurisprudensi 

Secara formal memang kurang yang banyak berpendapat bahwa kehadiran dan derajat serta kekuatan dari hukum yurisprudensi sama dengan undang-undang, akan tetapi secara substantif mberdsarkan Soehino hal demikian dapat disamakan, yaitu, setelah merupakan atau menjadi sumber hukum. 

Yurisprudensi hanya menyangkut dan mengikat subyek hukum tertentu, satu subjek hukum saja. Sedangkan dalam undang-undang menyangkut dan mengikat secara umum. Yurisprudensi bisa dipakai sebagai dasar hukum dalam Mahkamah Agung dalam membuat keputusan, khususnya mengenai materi yang sama, dan yang akan datang. 

Menurut Soehino, Yurisprudensi tidak masuk ke dalam tata urutan peraturan perundang-undangan karena memang tidak merupakan peraturan perundangan, walaupun edmikian secara substansial Yurisprudensi mempunyak kekuatan hukum yang sama dengan undang-undang. 

Namun beda halnya dengan pendapat Denny Indrayana mmepunyai pendapat yang berbeda dengan menyebutkan bahwa yurisprudensi tidaklah sama dengan undang-undang dapat dilihat dari beberapa segi, yakni dari sisi dokrtrin, dari segi pembuat atau pembentuknya, dari segi daya ikat, dari sisi sifat, dan dari sistem hukum, Lebih jelasnya dapat diuraikan sebagai berikut. 
  1. Dari sisi Dokrin, memang ada yang mengatakan bahwa yurisprudensi adalah sumber hukum, dan ada juga yang mengatakan bahwa undang-undang adalah submer hukum, tetapi terdapat dua-duanya yang tidak bisa disamakan sebagai satu bentuk hukum yang sama. Misalnya dari segi format, menurut Soedikno berpendapat bahwa berbeda antara yurisprudensi dengan undang-undang. Jika yurisprudensi ada identitas para pihak, ada konsideran, dan ada diktum. Sedangkan yang terdapat dalam undang-undang, tidak terdapat identitas para pihak, melainkan yang ada hanya konsideran. 
  2. Segi pembuat, menurut UUD 1945 secara tegas menyatakan bahwa Presiden bersama-sama dalam membuat -undang-undang, sedangkan yurisprudensi adalah hasil just made law atau hukum yang dibuat oleh peradilan. Jika terdapat satu lembaga legislatif (dan lembaga eksekutif, pen), yang membuat, yang satu adalah lembaga yudikatif sehingga tidak dapat disamakan. 
  3. Segi daya ikat, undang-undang memiliki kekuatan mengikat langsung kepada semua warga negara. Daya ikat terseut dalam udang-undang adalah memaksa, semua orang untuk tunduk pada undang-undang, sedangkan yurisprudensi daya ikatnya butuh pengakuan. Hukum yang dibuat oleh peradilan baru dapat menjadi yurisprudensi jika kalau di refer atau dijadikan auan, pen) terus menerus oleh keputusan leanjutnya yang memiliki materi yang hampir sama atau mirip atau sama. 
  4. Sisi sifat, undang-undang memiliki sifat aturannya general, abstravt rule, dia tidak menunjuk satu pihak dan berlaku untuk itu, sedangkan dama yurisprudensi memiliki sifat yang konkrit. 
  5. Sistem hukum, Indonesia menganut sistem civil law sehingga tidak terikat pada yurisprudensi. Tidak demikian halnya terhadap negara yang menganut common law yakni hakim yang terikat pada yurisprudensi binding precedernt, secarar decicious, sehingga sekali lagi, dari segi sistem hukum pun tidak dapat disamakan antara undang-undang dengan yurisprudensi. 

Kesimpulan Yurisprudensi

Berdasarkan pernyataan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa Yurisprudensi tidak sama sekali sama dengan undang-undang. 

Berdasarkan pendapat Mahkamah Konstitusi, bahwa Yurisprudensi tidak serta merta dapat disamakan dengan undang-undang demikian adalah tidak tepat, karena baik dalam arti formil mapun dalam arti materil, udang-undang tidaklah sama dengan yurisprudensi. 

Kemudian, yurisprudensi dapat dijadikan sebagai pegangan jika norma undang-undang postif tidak memberikan pengaturan atau masih bersifat sama-samar. Berdasarkan dalam teori ilmu hukum, yurisprudensi merupakan sumber hukum, namun bukanlah norma hukum tertentulis. Sehingga dalam UU No. 12 Tahun 2011 mengenai Pembentukan Peraturan Perundang-undangan, yurisprudensi tidak dicantumkan sebagai dalam aturan hukum. 

Syarat-Syarat Yurisprudensi Bersifat Tetap

Menurut sistem hukum Indonesia putusan pengadilan diakui sebagai yurisprudensi bersifat tetap jika memenusi syarat sebagai berikut: 
  1. Putusan mempunya kekuatan hukum yang tetap atau inkracht van gewijs
  2. Menghasilkan keadilan bagi pihak-pihak yang bersangkutan 
  3. Putusan yang harus sudah berulang beberapa kali atau dilakukan dengan pola yang sama dibeberapa tempat berpisah
  4. Norma yang terkandung di dalamnya memang tidak terdapat dalam peraturan tertulis yang berlaku, kalaupun ada tidak begitu jelas. 
  5. Putusan tersebut telah memenuhi syarat sebagaimana yang dikatakan dengan yurisprudensi dan diususklan oleh tim penilai yang dibentuk oleh Mahkamah Agung atau Mahkamah Konstitusi. 

Macam-Macam Yurisprudensi

Terdapat beberapa macam yurisprudensi, macam macam yurisprudensi tersebut sebagai berikut.
  1. Yurisprudensi Tetap. Pengertian Yurisprudensi Tetap adalah suatu putusan dari hakim yang terjadi oleh karena rangkaian putusan yang sama dan dijadikan sebagai dasar bagi pengadilan untuk memutuskan suatu perkara.
  2. Yurisprudensi Tidak Tetap. Pengertian Yurisprudensi Tidak Tetap ialah suatu putusan dari hakim terdahulu yang tidak dijadikan sebagai dasar bagi pengadilan.
  3. Yurisprudensi Semi Yuridis. Pengertian Yurisprudensi Semi Yuridis yaitu semua penetapan pengadilan yang didasarkan pada permohonan seseorang yang berlaku khusus hanya pada pemohon. Contohnya : Penetapan status anak.
  4. Yurisprudensi Administratif. Pengertian Administratif adalah SEMA (Surat Edaran Mahkamah Agung) yang berlaku hanya secara administratif dan mengikat intern di dalam lingkup pengadilan.



Demikianlah informasi mengenai Yurisprudensi. Semoga informasi ini dapat bermanfaat dan menambah pengetahuan kita dalam memahami mengenai hukum Indoneisa, agar kita tidak keliru dalam memahami suatu hukum di Indonesia. Kan aneh, ketika mengkritik hukum pemerintah, dalam segi kulit luar dalam hukum Indonesia seperti menyoal yurisprudensi tidak kita ketahui. Terlebih lagi, kondisi Indonesia yang tidak cukup menyakinkan untuk kita lepaskan dari pikiran dan perhatian kita. Sekian dan Terima Kasih. Salam Berbagi Teman-Teman. 

Referensi Pengertian Yurisprudensi: 

Jasin, Johan. 2014. Hukum Tata Negara Suatu Pengantar . Yogyakarta: Deepublish. hlm: 68-72.  
Handoko, Duwi. 2015. Hukum Positif Mengenai Hak Kekayaan Intelektual Di Indonesia Jilid II. Pekanbaru: Hawa dan Ahwa. Hlm: 54-61.  
Moh. Hatta, 2008. Menyongsong Penegakan Hukum Responsif Sistem Peradilan Pidana Terpadu (Dalam Konsepsi dan Implementasi) Kapita Selekta. Penerbit Galangpress : Yogyakarta. 
Sinaga, Reindra Jasper dan Fatmawati. 2014. Yurisprudensi Tetap Dalam Perspektif Hukum Tata Negara (Analisis Terhadap Sumber-Sumber Hukum Tata negara dan Kemerdekaan Hakim. Universitas Indonesia: Fakultas Hukum. hlm: 1-2. 
Butarbutar. 2014. Kajian Tentang Perintah Jabatan Yang Diatur Pasal 51 KUH Pidana. Artikel: Lex et Societatis, Vol. II No 2. Hlm: 1-6.  
Shidarta. 2013. Mencari Jarum Kaisah Di Tumpuk Jerami Yurisprudensi. Jakarta: Fakultas Humanior Universitas Bina Nusantara. Hlm: 332-337. 

Novel: Pengertian Novel, Unsur-Unsur & Novel Menurut Para Ahli

Ilmupedia.web.id - Novel - Pernahkah teman-teman membaca novel? Tentu beberapa diantara kita ada yang pernah membaca novel dan ada juga yang sampai saat ini menjadikan novel sebagai makanan sehari-harinya. Maksudnya, setiap hari novel mengisi keseharian kita.

Penulis sendiri, juga suka membaca novel. Namun, novel yang memiliki jalan cerita menarik yang mengandung berbagai sisi kehidupan yang sesuai dengan kehidupan, dan mengedukasi atau memiliki genre filsafat atau ilmu sosial.

Terkadang penulis juga menyukai novel yang memiliki isi romantis, dan tetap mengandung edukasi, apalagi jalan cerita yang tidak membosangkan. Tentu, jalan cerita novel penulis dan teman-teman tentu ada yang memiliki kesamaan dan perbedaan.


Lepas dari hal tersebut, pada saat saya ingin membuat informasi ini, mengenai pengertian novel dan pengertian novel menurut para ahli. Beberapa buku yang penulis koleksi beberapa diantaranya pada saat sebelum menulis informasi ini, penulis mengira itu semua adalah novel. Namun setelah mempelajari dan menuliskan informasi ini, ternyata tidak semua buku tersebut adalah novel. Alhasil, dari informasi penulis tuliskan ternyata juga membawa manfaat kepada penulis.

Semoga saja informasi ini juga bermanfaat kepada teman-teman, walaupun penulis masih mempelajari pengertian atau apa itu novel yang notabene masih dalam hal dasar, namun informasi ini ternyata telah membuka pikiran penulis. Olehnya itu, penulis juga menginformasikan pengertian novel atau definisi novel, unsur-unsur intrinsik, dan unsur ekstrinsik dan pengertian novel menurut para ahli dibawah ini..

Pengertian Novel: Apa itu Novel?

Novel berasal dari bahasa Novella, yang dalam bahasa jerman disebut dengan novelle dan novel dalam bahasa Inggris, dan inilah yang menjadi masuk ke Indonesia. Secara harfiah novel didefinisikan sebagai sebuah barang baru yang kecil, yang kemudian diartikan sebagai cerita pendek yang memiliki bentuk bersifat prosa. 

Novel adalah karangan yang panjang dan memiliki bentuk prosa dan memiliki kandungan rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan orang lain di sekelilingnya dengan menonjolkan watak dan memiliki sifat setiap pelaku. Novel adalah bentuk karya sastra yang didalamnya terdapat sebuah nilai-nilai budaya, sosial, moral dan juga pendidikan. 

Novel merupakan media penuangan pikiran, perasaan dan gagasan penulis dengan merespon kehidupan di sekitarnya ketika terdapat permasalahan baru, nurani penulis novel akan terpanggil untuk segera dalam menciptakan sebuah cerita. 

Sebagai bentuk dari karya sastra tengah (bukan cerpen atau roman) novel merupakan sangat ideal dalam mengangkat peristiwa penting di kehidupan manusia dalam suatu kondisi kritis yang menentukan. 

Novel sebagai gambaran perpecahan yang tidak terjembatani dengan suatu komunitas yang merupakan kisah-kisah berkecamuknya pikiran-pikiran. Pandangan orang-orang yang jujur sehingga novel disebut sebagai karya sastra yang baik bukanlah tulisan atau karya yang kaya dengan tindakan jasmani yang menakjubkan, namun dengan terlibatnya sekian banyak pikiran yang sebenarnya tanpa dengan tambahan apapun kehidupan ini menarik selama dapat ditemukan orang-orang jujur dan bernilai dan terus terang setiap dari karya sastra yang baik pada dasarnya adalah kisah yang memiliki kecamuk pikiran dan pandangan setiap orang yang tidak malu untuk mengakui sikap mereka yang sebenarnya.

Perkembangan novel yang diketahui sebagai salah satu jenis karya fiksi, namun dianggap bersinonim dengan fiksi sehingga pengertian fiksi juga berlaku ke dalam novel. Novel merupakan bagian dari genre prosa fiksi. 

Berkaitan dengan pengertian novel sebagai karya sastra yang memiliki bentuk prosa fiksi. Novel masuk ke dalam fiksi (fiction) di sebabkan novel merupakan hasil dari khayalan atau sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Selain dari pada itu novel juga roman dan cerita pendek. 

Pengertian Novel Menurut Para Ahli 

1, Burhan Nurgiyanto
Nurgiyanto mengatakan bahwa istilah dari novella atau novelle memiliki pengertian atau definisi yang sama dengan istilah Indonesia novellet (inggris) yang diartikan sebagai sebuah karya prosa fiksi yang panjangnya cakupan, tidak terlalu panjang dan juga tidak terlalu pendek. 

2. Abrams
Menurut Abrams berpendapat bahwa sebutan novel dalam bahasa Inggris yang kemudian masuk ke Indonesia berasal dari Bahasa Italia novella. Secara harfiah novella memiliki pengertian sebagai sebuah barang baru yang kecil dan kemudian didefinisikan sebagai cerita pendek atau short story dalam bentuk prosa. 

Menurut Abrams Novel dalam sebutan bahasa inggris, berasal dari Italia Novella yang dalam bahasa jerman novelle. Secara harfiah novella berarti barang baru yang kecil, dan diartikan sebagai cerita pendek dalam bentuk prosa, novel adalah ceritap nedek yang diperpanjang, dan yang setengah panjang disebut dengan roman. 

3. Robert Lindell
Menurut Robert Lindell bahwa karya sastra yang berupa novel, awalnya lahir di Inggris dengan judul Pamella yang diterbitkan di tahun 1740. Mulanya novel Pamella  merupakan terdiri dari catatan harian seorang pembantu rumah tanggu lalu berkembang dan kemudian menjadi bentuk prosa fiksi yang seperti kita ketahui saat ini. 

4. Kenny, William
Menurut Kenney, William bahwa novel adalah 
Whre the short story compresses, the novel expand. For the intensity of the short story, the novel subtitutes complexity... Time and the novel the novel is decidedly not meant to be read at a single sitting. Because of is length, the novel is particularly suited, as the short story is not, to deal with the effect an character of the passage of time. 

5. Jassin
Menurut Jassin bahwa novel sebagai suatu cerita yang bermain dalam dunia manusia dan benda yang di sekitar kita, tidak mendalam, kemudian lebih banyak melukiskan satu saat dari kehidupan seseorang dan lebih mengenai sesuatu episode. 

6. Atar Semi
Menurut Semi, Atar bahwa pengertian novel adalah mengungkapkan suatu konsentrasi kehidupan pada suatu saat tegang dan pemusatan kehidupan yang tegas. Novel merupakan karya fiksi yang menampilkan aspek kemanusiaan yang lebih mendalam dan disajikan dengan halus. 

7. Goldmann
Menurut Goldmann mendefinisikan novel bahwa pengertian novel adalah cerita mengenai pencarian terdegradasi akan nilai-nilai otentik di dalam dunia yang juga terdegradasi, pencarian itu dilakukan oleh seorang hero yang problematik. 

Ciri tematik tampak pada istilah nilai-nilai otentik yang menurut Goldmann adalah totalitas yang secara tersirat muncul ke dalam novel, nilai-nilai tersebut yang mengorganisasikan sesuai dengan mode dunia sebagai totalitas. Atas dasar pengertian atau definisi novel tersebut, Goldmann mengelompokkan novel yakni novel psikologis (romantisme keputusasaan), dan novel pendidikan (paedagogis). 

8. Sayuti 
Pendapat demikian juga di definisikan oleh Sayuni, bahwa pengertian novel menurut sayuti adalah kategori dalam karya fiksi yang bersifat formal dan sebuah fiksi apapun bentuknya diciptakan dengan tujuan tertentu. 

9. Sudjiman
Menurut Sudjiman, pengertian novel adalah prosa rekaan yang panjang dengan menyuguhkan tokoh-tokoh dan menampilkan serangkaian peristiwa dan latar secara tersusun.

10. Khasanah
Menurut khasanah kesusastraan Indonesia modern, novel adalah karya yang lebih sederhana dalam penyajian alur cerita dan tokoh cerita yang ditampilkan dalam cerita tidak terlalu banyak..

Unsur Intrinsik Novel 
  1. Tema merupakan ide pokok yang menjalin isi cerita atau disebut dengna dasar cerita. Teman ini menyangkut dendam, kehidupan kerohanian, cinta kasih, persahabatan, keadilan dan lain sebagainya. 
  2. Alur merupakan urtan kedian yang sesuai dengan jalannya cerita. 
  3. Latar dan Setting merupakan hubungan waktu, tempat dan lingkungan sekitar yang didasari dari suatu cerita. 
  4. Penokohan merupakan gambaran yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan ke dalam sebuah cerita
  5. Sudut pandang merupakan posisi pengaraman dalam menceritakan suatu peristiwa. 
  6. Amanat merupakan sesuatu yang berisi nasihat yang ingin disampaikan oleh pengarang kepada pembaca. 
Unsur Ekstrinsik Novel 
Pengertia Novel, Unsur-Unsur Novel dan Novel Menurut Para Ahli- Unsur Intrinsik Novel dan Unsur Ekstrinsik Novel

Unsur ekstrinsik dapat berupa sikap, keyakinan, dan pandangan hidup pengarang yang ingin memengaruhi karya yang ditulisnya.


Demikianlah informasi Pengertian Novel, Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik Novel serta Novel Menurut Para Ahli. Semoga informasi ini dapat bermanfaat dan menambah pengetahuan kita. Sekian dan terima kasih. Salam Berbagi Teman-Teman. 

Referensi:


Burhan Nurgiyantoro, Teori Pengkajian Fiksi . Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2010), h. 9 
Suroto, Teori dan Bimbingan Apresiasi Sastra INDONESIA untuk SMTA (Jakarta: Erlangga, 1989), h. 19. 
Fatimah, Nurul. 2015. Nilai-Nilai Religius Dalam Novel "Bulan Terbelah Di Langit Amerika" Karya Hanum Sasabiela Rais Dan Rangga Almahendra (Kajian Intertekstual). NOSI Volume 2, No. 9.  
Andriyani, Moh. 2014. Kupas Tuntas Secara Jelas Sampai Akar-Akarnya Bahasa Indonesia SMA Kelas 1, 2 dan 3. Jakarta: Pustaka Nusantara Indonesia. Hlm: 39.  
Wicaksono, Andri. 2014. Pengkajian Prosa Fiksi. Yogyakarta: Garudhawaca 74-77.

Fungsi Novel: Apa Fungsi Novel?

Ilmupedia.web.id - Fungsi Novel - Pada dasarnya, fungsi novel untuk menghibur para pembaca. Novel adalah cerita yang terkandung juga di dalamnya tujuanya untuk memberikan hiburan kepada pembaca. Novel merupakan ungkapan dan gambaran kehidupan manusia di suatu zaman yang dihadapkan terhadap suatu permasalahan hidup. 

Permasalahan hidup manusia yang begitu kompleks mampu melahirkan suatu konflik dan pertikaian. Melalui novel demikian, pengarang dapat menceritakan tentang aspek kehidupan manusia secara mendalam khususnya berbagai perilaku manusia.

Novel memuat tentang kehidupan manusia dalam menghadapi suatu permasalahan hidup. Novel berfungsi untuk mempelajari tentang kehidupan manusia di zaman tertentu. Hal demikian yang membuat para pengarang untuk menuangkannya dalam karya sastra novel dengan suatu harapan bisa mengambil manfaatnya bagi pembacanya. 

Para novelis mengajarkan lebih banyak mengenai sifat-sifat manusia daripada psikolog karena novelis bisa mengungkapkan kehidupan batin dari tokoh-tokoh pada novel yang dituliskannya. Ada yang mengungkapkan bahwa novel dapat dijadikan sebagai sumber bagi para psikolog atau menjadi kasus sejarah yang mampu memberikan sebuah ilustrasi dan contoh.

Bahkan, juga dikatakan bahwa novelis mampu menciptakan dunia yang memiliki kandungan nilai kebenaran dan pengetahuan sistematis yang dapat dibuktikan. 

Manfaat dari membaca karya sastra atau novel memberikan kegembiraan dan kepuasaan batin, memberikan penghayatan yang begitu mendalam terhadap suatu apa yang kita ketahui, serta mampu menolong pembaca menjadi manusia yang berbudaya.

Selain dari pada itu, dengan membaca novel mampu memberi kesadaran kepada pembaca mengenai kebenaran-kebenaran hidup. Alhasil cipta sastra akan selalu berbicara mengenai masalah manusia dengan segala permasalahan hidupnya, baik melalui hubungan manusia dengna mnausia, manusia dengan lingkungannya maupun dengan manusia dengan penciptanya. 


Fungsi Novel

Hasil karya sastra novel mengandung keindahan yang mampu menimbulkan rasa senang, nikmat, terharu, menarik perhatian dan dapat menyegarkan perasaan pembaca, pengalaman jiwa yang terdapat dalam karya sastra dalam memperkaya kehidupan batin manusia khususnya bagi pembaca. 

Fungsi karya sastra khususnya novel sebagai berikut: 
  1. Fungsi pertama adalah sebagai alat penting bagi pemikir dalam menggerakkan pembaca dalam sebuah kenyataan dan menolongnya untuk mengambil suatu keputusan jika terdapat suatu masalah. 
  2. Sebagai pengimbang sains dan juga teknologi 
  3. Sebagai alat yang dapat meneruskan tradisi suatu bangsa dalam arti yang positif, bagi masyarakat sezamannya dan masyarakat yang akan datang, antara lain: kepercayaan, cara berpikir, kebiasaan, pengalaman sejarahnya, rasa keindahan, bahasa serta juga bentuk-bentuk kebudayaan. 
  4. Sebagai sesuatu yang dimana terdapat nilai-nilai kemanusiaan yang mendapat tempat yang sewajarnya, dipertahankan dan disebarluaskan, khususnya di tengah-tengah kehidupan modern yang ditandai dengan menggebu-gebunya kemajuan sains dan juga teknologi. 
Selain itu, Agustien S., Sri Mulyani dan juga Silistino berpendapat bahwa fungsi sastra khususnya novel adalah sebagai berikut.. 
  1. Fungsi rekreatif, yang dapat memberikan hiburan dalam menyenangkan bagi pembacanya. 
  2. Fungsi didaktif, yakni mampu mengarahkan atau mendidik pembacanya dengan adanya nilai-nilai kebenaran dan kebaikan yang terkandung di dalamnya. 
  3. Fungsi estetis, yakni mampu memberikan keindahan bagi pembacanya. 
  4. Fungsi moralitas, mampu memberikan pengetahuan kepada pembacanya sehingga dapat mengetahui moral yang baik dan juga buruk. 
  5. Fungsi religius, yang memiliki kandungan ajaran agama yang diteladani bagi para pembaca sastra. 

Baca Juga: 



Demikianlah informasi mengenai fungsi novel. Semoga informasi ini dapat bermanfaat bagi kita semua dan menambah pengetahuan kita. Alangkah lebih baiknya, saran penulis kepada pembaca adalah teman-teman membuktikan sendiri bagaimana itu fungsi novel sendiri menurut anda, menurut anda para pembaca, bagi teman-teman sendiri. Sekian dan terima kasih. Salam Berbagi Teman-Teman. 

Referensi Fungsi Novel: 
Wicaksono, Andri. 2014. Pengkajian Prosa Fiksi. Yogyakarta: Garudhawacana. hlm: 77-83

Unsur-Unsur Novel: Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik Novel

Ilmupedia.web.id - Unsur-unsur Novel- Novel merupakan sebuah totalitas, yang merupakan suatu kemenyeluruhan yang artistic. Sebagai sebuah totalitas, novel mempunyai bagian-bagian, unsur-unsur yang saling terkait dengan satu dengan yang lainnya. Unsur demikian pembangunan sebuah novel yang secara garis besar dapat dibagi menjadi dua yakni unsur extrinsic dan intrinsik. 


Unsur extrinsik merupakan unsur yang terdapat di luar karya sastra, namun secara tidak langsung dapat mempengaruhi bangunan atau sistem dari organisme karya sastra tersebut, akan tetpai tidak ikut menjadi bagian di dalamnya.

Unsur ekstrinsik terdiri atas keadaan subyektivitas individu atau pengarang yang mempunyai sikap, keyakinan dan pandangan hidup, biografi, keadaan lingkungan pengarang misalnya ekonomi, sosial dan politik serta semuanya yang dapat mempengaruhi karya yang ditulisnya. 

Unsur intrinsik adalah unsur membangun sebuah karya sastra itu sendiri. Unsur tersebut yang dapat menyebabkan karya sastra hadir sebagai karya yang secara faktual akan didapati jika terdapat seseorang pembaca karya sastra. Unsur intrinsik sebuah novel merupakan unsur yang secara langsung  ikut serta dalam membangun cerita. Unsur tersebut adalah tema, plot, penokohan, latar dan sudut pandang. 

a. Tema 
Tema merupakan gagasan dasar yang menopang sebuah karya sastra yang terkandung di dalam teks sebagai struktur semantis dan yang menyangkut persamaan-persamaan atau perbedaan-perbedaan. Tema dalam sebuah cerita dapat bersifat mengikat karena terma tersebut hanya akan menentukan hadirnya peristiwa-peristiwa, konflik dan situasi tertentu. Tema tersebut menjadi dasar dalam pengembangan seluruh cerita maka tema pun dapat bersifat menjiwai seluruh bagian dari cerita. 

Tema dapat dipandang sebagai dasar cerita, gagasan dasar umum dari sebuah novel. Gagasan yang telah ditentukan oleh pengarang yang digunakan dalam mengembangkan sebuah cerita. Dengan kata lain cerita dapat mengikut gagasan dasar umum yang ditetapkan sebelumnya sehingga dari berbagai peristiwa, konflik dan pemilihan berbagai unsur intrinsik yang lain misalnya penokohan, perplotan, pelataran, dan penyudur pandangan diusahakan mencerminkan gagasan dasar umum tersebut. 

b. Plot 
Plot atau alur merupakan urutan dari peristiwa yang sambung-menyambung di dalam sebuah cerita yang didasarkan pada sebab- akibat. Dengan peristiwa yang sambung menyambung tersebut terjadilah sebuah cerita yang diantaranya awal dan akhir cerita terdapat sebuah alur.

Jadi alur dapat memperlihatkan bagaimana cerita demikiandapat berjalan. Kita dapat misalkan cerita dimulai dari peristiwa A dan diakhiri dengan Z, maka A, B, C, D, dan Z merupakan dari alur cerita. Berdasarkan dari waktunya plot dibagi menjadi dua yakni
  • Plot lurus atau progresif, plot dapat dikatakan progresif jika suatu peristiwa-peristiwa yang dikisahkan dapat berisfat kronologis, peristiwa yang pertama diikuti dengan peristiwa-peristiwa kemudian. 
  • Plot flash-back. Urutan dari kejadian tersebut dikisahkan dalam sebuah karya fiksi yang berplot regresif tidak bersifat krnologis, cerita tidak dimulai dari tahap awal melainkan mungkin dari tahap tengah atau tahap akhir. 
c. Penokohan 
Pembicaraan sebuah fiksi, sering dipergunakan dalam istilah-istilah misalnya tokoh dan penokohan, watak dan perwatakan, atau karakter dengan karakteristik yang secara bergantian dengan menunjuk pengertian yang hampir sama. Istilah tersebut sebenarnya tidak disarankan pada pengertian yang persis sama hanya saja bersinonim. 

Istilah tokoh tersebut merujuk pada orangnya, pelaku cerita, seperti jawaban dari pertanyaan: "siapakah tokoh utama novel sepatu dahlan? atau ada berapa jumlah pelaku dalam novel sepatu dahlan? dan sebagainya.

Tokoh cerita menurut abrams adalah orang-orang yang ditampilkan dalam suatu karya naratif, atau drama, yang oleh pembaca ditafsirkan sebagai kualitas moral dan kecenderungan tertentu misalnya yang diekspresikan dalam sebuah ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakan.

Penokohan dan karakterisasi sering juga disamakan dengan perwatakan menunjuk pad apenempatan tokoh-tokoh tertenu dengan perwatakan dalam sebuah cerita. Penokohan adalah pelukisan gambaran yang jelas seseorang yang ditampilkan ke dalam sebuah cerita.

Dengan demikian, istilah penokohan tersebut menjadi lebih luas pengertiannya dari padatokoh dan perwatakan sebab ia sekaligus mencakup masalah siapa tokoh cerita, bagaimana perwatakan dan bagaimana penempatan dan pelukisannya dalam sebuah cerita sehingga dapat memberikan gambaran yang jelas kepada pembaca. Penokohan sekaligus memnyarankan pada teknik perwujudan dan pengembangan tokoh dalam sebuah cerita.

Membaca sebuah novel, yang pada hakikatnya seseorang berhadapan dengan sebuah dunia, dunia yang dilengkapi dengan tokoh penghuni yang disertai dengan permasalahannya. Akan tetapi, hal tersebut tidak akan lengkap jika dalam sebuah cerita tidak terdapat ruang lingkup, waktu dan tempat sebagai sebuah tempat pengalaman kehidupannya. Dengan demikian dalam sebuah cerita selain memerlukan sebuah tokoh dan plot juga membutuhkan latar.

d. Latar 
Latar atau setting merupakan tempat, hubungan waktu, dan linkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan. Saat membaca sebuah novel, pasti ditemukan sebuah lokasi tertentu misalnya nama kota, desa, jalan, hotel, dan lain-lain tempat terjadinya sebuah peristiwa. Di samping itu, pembaca juga akan diperhadapkan pada hubungan waktu misalnya tahun, tanggal, pagi, siang, pukul, saat bulan purnama, atau kejadian yang merujuk pada waktu tertentu.

Unsur dari latar dapat dibedakan ke dalam tiga unsur pokok yakni tempat, waktu, dan sosial. Ketiga dari unsur itu walaupun dari masing-masingnya menawarkan sebuah permasalahan yang berbeda dan dapat dibicarakan secara satu dengan yang lainnya.
  • Latat tempat. Latar tempat merupakan sebuah lokasi dari terjadinya peristiwa yang diveritakan dalam sebuah karya fiksi. Unsur tempat digunakan sebagai tempat dengan nama tertentu, inisial tertentu tersebut tanpa nama yang jelas. Latar dalam sebuah novel  umumnya terdiri dari berbagai lokasi, ia dapat berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain sejalan dengan perkembangan plot dan tokoh.
  • Latar waktu. Latar waktu merupakan perhubungan dengan masalah kapan dari terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Waktu dalam karya naratif dapat bermakna ganda yakni merujuk pada waktu penceritaan, waktu penulisan cerita dan di pihak.
  • Latar sosial merupakan hal yang berkaitan dengan perilaku kehidupan sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Tata cara kehidupan sosial masyarakat mencakup berbagai masalah dalam lingkup yang begitu kompleks. Ia dapat berupa kebiasaan hidup, adat istiadat, tradisi, keyakinan, pandangan hidup, cara berpikir dan bersikap. Tidak hanya itu, latar sosial juga berhubungan dengan status sosial dan tokoh yang bersangkutan. 
e. Sudut Pandang
Sudut pandang atau point of view merupakan suatu cara atau pandangan yang dipergunakan oleh pengarang sebagai sarana dalam menyajikan tokoh, tindakan, latar dan berbagai peristiwa yang memiliki bentuk cerita dalam sebuah karya fiksi kepada pembaca. Sudut pandang tersebut dibagi ke dalam 3 yakni. 
  • Pengarang menggunakan sudut pandang tokoh dan kemudian kata diganti orang pertama, mengisahkan apa yang terjadi dengan dirinya dengan mengungkapkan perasaannya sendiri dengan kata-katanya sendiri. 
  • Pengarang menggunakan sudut pandang tokoh bawahan, ia lebih banyak mengamati dari laur dari pada yang terlihat dalam sebuah cerita pengarang yang biasanya menggunakan kata ganti dari orang ketiga. Pencerita dalam sudut pandang orang ketiga terdiri di luar cerita sehingga pencerita tidak dapat memihak kepada salah satu tokoh dan kejadian yang diceritakan. Sehingga dapat dikatakan menggunakan kata ganti nama ia, dia, dan mereka, pengarang dapat menceritakan suatu kejadian jauh ke masa lampau dan masa sekarang. 
  • Pengarang menggunakan sudut pandang impersonal, yang sama sekali terdiri dari suatu cerita yang ia serba melihat, serba mendengar, serba tahu. Ia dapat melihat hingga ke dalam pikiran toko dan dapat mengisahkan batin yang dalam diri tokoh. 


Demikianlah informasi mengenai Unsur-Unsur Novel. Semoga informasi ini dapat membantu teman-teman dalam mengkaji sebuah novel atau membuat sebuah novel baik unsur intrinsik atau unsur ekstrinsik dalam sebuah novel. Sekian dan terima kasih. Salam Berbagi Teman-Teman. 

Referensi Unsur-Unsur Novel: 

Burhan Nurgiyantoro, Teori Pengkajian Fiksi (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2010),
Suroto, Teori dan Bimbingan Apresiasi Sastra INDONESIA untuk SMTA (Jakarta: Erlangga, 1989),

Malaikat: Pengertian Malaikat dan Ciri-Ciri Malaikat

Ilmupedia.web.id - Malaikat - Malaikat, siapa sih yang tidak mengetahui malaikat? Tentu kita sudah sering mendengarnya. Namun, tahukah anda dengan pengertian malaikat itu? atau apa itu malaikat?. Tidak hanya mengenai pengertian malaikat, bagaimana dengan ciri-ciri dari malaikat, apakah anda mengetahuinya?.

Berbicara mengenai ciri-ciri malaikat. Penulis juga heran ingin menulis apa mengenai malaikat atau ciri-ciri malaikat. Soalnya, penulis belum pernah melihat dan tidak pernah melihat malaikat itu seperti apa. Namun bagi teman-teman sendiri, yang pernah melihatnya, tolong informasinya di bagi dan anda kelihatan tolol jika bisa melihatnya dan mengetahui wujud dari malaikat itu.

Bagi penulis sendiri, hanya mengetahui malaikat dari berbagai literatur atau dari kitab suci umat Islam yakni Al-Qur'an dan hadist serta pendapat para ulama tentang  bagaimana wujud malaikat yang mengutip dalil Al-Qur'an. Beberapa informasi tersebut, awalnya bagi penulis pada saat kecil dan tentu bagi anda, teman-teman, hanya menghiraukan atau hanya menerima secara mentah-mentah mengenai pengertian malaikat dan sifat-sifat malaikat, begitupun dengan penulis.

Akan tetapi, untuk saat ini penulis akan berpikir lebih dalam mengenai pengertian malaikat dan ciri-ciri malaikat itu seperti apa?. Hal ini membawa penulis untuk menggali berbagai informasi dari Al-Qur'an dan hadist serta berbagai informasi di situs atau media online. Alhasil berbagai sumber yang kami rangkum untuk menginformasikan teman-teman mengenai pengertian malaikat dan ciri-ciri malaikat adalah sebagai berikut..

Apa itu Malaikat? 

Malaikat (bahasa Arab: ملاءكة malāʾikah; tunggal: ملاك atau مَلَكْ malāk) adalah makhluk yang memiliki kekuatan-kekuatan yang patuh pada ketentuan dan perintah Allah.Menurut bahasa, kata “Malaikat” merupakan kata jamak yang berasal dari Arab malak (ملك) yang berarti kekuatan, yang berasal dari kata mashdar “al-alukah” yang berarti risalah atau misi, kemudian sang pembawa misi biasanya disebut dengan ar-rasul.

Malaikat adalah alam ghaib yang disifati Allah di dalam Al-Qur'an dengan sekian banyak sifat; disifati juga oleh Nabi dalam hadits. Cara mengimani mereka adalah dengan mengimani nama yang telah dipastikan dalam sebuah nash, sedangkan yang tidak dipastikan namanya dalam nash, kita imani secara global. 

Demikian juga dalam mengimani pekerjaan mereka yang kita ketahui juga melalui nash dan mengimani sifat-sifat yang kita ketahui berdasarkan nash. Kewajiban kita terhadap para malaikat itu adalah membenarkan mereka yang mecintai mereka karena mereka adalah hamba-hamba Allah yang melaksanakan perintah-Nya, misalnya dalam firman Allah SWT. 

"Kepunyaan-Nya-lah segala yang ada di langit dan di bumi. Para malaikat yang di sisi-Nya tiada mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tiada (pula) merasa letif. Mereka selalu bertasbih malam dan siang tanpa henti." Surah Al-Anbiya 21 ayat 19-20. 

Pengertian Malaikat

Malaikat adalah makhluk Allah yang suci, taat dan mulia. Mereka tidak pernah berbuat dosa, maksiat dan tidak pernah pula membangkang perintah-perintah Allah. Mereka beribadah kepada Allah dengan sebenar-benarnya. Mereka tidak mempunyai nafsu, syahwat, tidak makan minum, tidak menikah, bukan laki dan bukan pula perempuan sebagaimana akan dijelaskan pada pembahasan 

Sedangkan menyangkut kata "malaikat" sendiri, para ulama berbeda pendapat. Versi pertama mengatakan, kata "malaikat" terambil dari kata "alaka" , "ma'lakah" dan "ma'alik" yang berarti utusan (ar-risalah). Dari kata ini kemudian terbentuk kata "al-mala'aik" yang berarti utusan Allah. Jadi menurut versi ini, disebut "malaikat karena mereka merupakan utusan Allah.

Menurut versi kedua, kata "malaikat" terambil dari kata "la a ka" dan "mala'akah" yang berarti menyampaikan. Menurut versi ini, disebut "malaikat" karena mereka menyampaikan pesan dari Allah
Swt.

Versi ketiga mengatakan bahwa kata "malaikat" terambil dari kata "al-mulk" yang berarti kekuasaan dan penguasaan. Menurut pendapat ini, disebut "malaikat", karena ia mempunyai kekuasaan (kemampuan) di atas manusia, seperti kemampuannya dalam berubah wujud, bergerak cepat dan
lainnya. 

Meskipun sekilas tampak ada perbedaan dari ketiga versi di atas, namun hakikatnya perbedaan di atas hanyalah perbedaan lafdzi (harfiyah) dan tidak menyangkut hal yang substansil. Oleh karena itu, ketiga versi di atas dapat penulis gabungkan bahwa malaikat merupakan makhluk Allah yang diutus untuk menyampaikan risalah-Nya dan diberikan kekuasaan serta kemampuan yang tidak dimiliki oleh makhluk-makhluk lainnya terutama manusia.

Kata "malaikat" merupakan bentuk jama (plural) dari kata "malak" . Dalam bahasa arab, satu atau seorang malaikat disebut "malak" (singular). Sedangkan kata "malaikat" (bentuk plural) artinya adalah malaikat-malaikat atau para malaikat (bentuk jamak).

Ciri-Ciri dan Sifat-Sifat Malaikat 

  • Selalu bertasbih siang dan malam tidak pernah berhenti.
  • Suci dari sifat-sifat manusia dan jin, seperti hawa nafsu, lapar, sakit, makan, tidur, bercanda, berdebat, dan lainnya.
  • Selalu takut dan taat kepada Allah.
  • Tidak pernah maksiat dan selalu mengamalkan apa saja yang diperintahkan-Nya.
  • Mempunyai sifat malu.
  • Bisa terganggu dengan bau tidak sedap, anjing dan patung
  • Tidak makan dan minum.
  • Mampu mengubah wujudnya.
  • Memiliki kekuatan dan kecepatan cahaya.
  • Wujud malaikat mustahil dapat dilihat dengan mata telanjang, karena mata manusia tercipta dari unsur dasar tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk. 
  • Tidak akan mampu melihat wujud dari malaikat yang asalnya terdiri dari cahaya, hanya Nabi Muhammad S.A.W yang mampu melihat wujud asli malaikat bahkan sampai dua kali.
  • Mereka tidak bertambah tua ataupun bertambah muda, keadaan mereka sekarang sama persis ketika mereka diciptakan. 
  • Dalam ajaran Islam, ibadah manusia dan jin lebih disukai oleh Allah dibandingkan ibadah para malaikat, karena manusia dan jin bisa menentukan pilihannya sendiri berbeda dengan malaikat yang tidak memiliki pilihan lain. 
  • Malaikat mengemban tugas-tugas tertentu dalam mengelola alam semesta. Mereka dapat melintasi alam semesta secepat kilat atau bahkan lebih cepat lagi. Mereka tidak berjenis lelaki atau perempuan dan tidak berkeluarga.


Demikianlah informasi Pengertian Malaikat dan Ciri-Ciri Malaikat. Semoga informasi ini dapat bermanfaat dan menambah pengetahuan kita. Sekian dan terima kasih. Salam Berbagi Teman-Teman.

Pengertian Pendidikan Karakter: Apa itu Definisi Pendidikan Karakter?

Ilmupedia.web.id - Pendidikan Karakter - Bagi memberikan informasi pengertian pendidikan karakter secara efektif dan efisien, maka penulis akan menyertakan pengertian pendidikan dan pengertian karakter, agar teman-teman mampu menyusun pengertian pendidikan karakter tersendiri, atau menyesuaikan dengan pendapat para ahli tentang pendidikan karakter yang juga penulis sertakan dibawah ini.

Pendidikan dan Karakter

Pengertian pendidikan yang terbagi ke dalam dua istilah yang hampir sama dan sering digunakan yakni Paedagogie dan paedagigiek. Paedagogie berarti pendidikan, sedangkan paedagogiek berarti ilmu pendidikn. Istilah tersebut berasal dari katak pedagogia yang dalam bahasa yunani berarti pergaulan dengan anak-anak.

Secara sederhana, pengertian pendidikan adalah sebagai usaha manusia untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensi-potensi pembawaan, baik jasmani maupun rohani sesuai dengan nilai-nila yang terdapat dalam masyarakat dan kebudayaan.

Menurut Undang (UU) Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) No. 20 Tahun 2003 pasal 1 ayat 1 dalam tim redaksi sinar grafika (2003: 2) disebutkan bahwa : Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.


Sedangkan pengertian karakter, secara etimologis, kata karakter berasal dari bahasa Yunani Charrssein yang berarti membuat tajam, membuat dalam. Sedangkan dalam kamus bahasa Inggris-Indonesia, karakter memiliki pengertian yang berasal dari kata character yang berarti watak, karakter atau sifat

Menurut Muchlas Samani & Hariyanto yang memaknai karakter sebagai nilai-nilai dasar yang membangun pribadi seseorang, membentuk baik karena pengaruh hereditas maupun pengaruh lingkungannya, yang membedakannya dengan orang lain, serta dapat mewujudkan dalam sikap dan perlakunya di kehidupan sehari-hari.

Pendidikan Karakter: Apa itu? 

Secara umum, persoalan pendidikan karakter bukanlah merupakan masalah baru. Istilah pendidikan karakter, pada dasarnya telah lahir bersamaan dengan kelahiran istilah pendidikan, sebab pendidikan itu sendiri adalah untuk mengembangkan karakter. 

Secara khusus, pada sistem pendidikan di negeri ini, terdapat mata pelajaran yang menekankan pada esensi dari pendidikan karakter yakni, budi pekerti, aqidah/akhlaq, pendidikan agama, pendidikan pancasila dll. yang tujuannya untuk membentuk atau kerangka dalam pendidikan karakter itu sendiri. 

Sedangkan secara akademik, pendidikan karakter dimaknai sebagai pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan watak yang tujuanya untuk mengembangkan kemampuan bagi peserta didik untuk dapat memberikan keputusan baik-buruk, memelihara apa yang baik itu, dan mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati. 

Sehingga dalam muatan pendidikan karakter secara psikologis mencakup dimensi moral reasoning, moral feeling, dan moral behaviour atau dalam arti utuh sebagai morality yang mencakup baik yang bersifat prohibition-oriented morality maupun secara pro-social morality.

Secara pedagogis, pendidikan karakter adalah dikembangkan dengan menerapkan holistic approach, dengan pengertian bahwa pendidikan karkater efektif tidak dimasukkan kedalam program atau set dari program. 

Tujuan pendidikan karakter secara umum adalah untuk mendorong lahirnya anak-anak yang baik. Begitu tumbuh dalam karakter yang baik, anak-anak akan tumbuh dengan kapasitas yang berkomitmen untuk melalakukan berbagai hal yang terbaik dan melakukan segalanya dengan benar demi tujuan hidup. 

Pendidikan karakter mempunyai makna lebih tinggi dari pada pendidikan moral. Pendidikan karakter tidak hanya erat pada masalah benar-salah, melainkan bagaimana menanamkan kebiasaan tentang hal baik dalam kehidupan, sehingga peserta didik memiliki kesadaran dan pemahaman tinggi, dan juga kepedualian dan komitmen untuk menerapkan kebajikan dalam kehidupan sehari-hari. 

Pengertian Pendidikan Karakter Menurut Para Ahli

Pembentukan kecerdasan afektif yang berujung pada sikap/karakter individu dapat dilakukan dengan pendidikan karakter. banyak para ahli yang memberikan pengertian mengenai pendidikan karakter. 

1. Zubaedi
Zubaedi menyebutkan bahwa 
“Character education is the deliberate effort to cultivate virtue that is objectively good human qualities that are good for the individual person and good for the whole society.”
Yang memiliki arti bahwa pendidikan karakter adalah usaha sengaja (sadar) untuk mewujudkan kebajikan, yaitu kualitas kemanusiaan yang baik secara objektif, bukan hanya baik untuk individu perseorangan tetapi juga baik untuk masyarakat secara keseluruhan. 

2. David Elkind dan Freedy Sweed
Selanjutnya David Elkind dan Freddy Sweed dalam menguraikan:
Character education is the deliberate effort to help people understand, care about, and act upon core ethical value. When we think about the kind of character we want for our children, it is clear that we want them to be able to judge what is right,care deeply about what is right, and then do what they believe to be right, even in the face of pressure from without and temptation from within.
Yang memiliki arti bahwa pendidikan karakter adalah usaha sengaja (sadar untuk membantu manusia memahami, peduli tentang, dan melaksanakan nilai-nilai etika inti. Ketika kita berpikir tentang jenis karakter yang kita inginkan bagi anak-anak, maka jelas bahwa kita mengharapkan mereka mampu menilai apakah kebenaran, peduli secara sungguh-sungguh terhadap kebenaran, dan kemudian mengerjakan apa yang diyakini sebagai kebenaran, bahkan ketika menghadapi tekanan dari luar dan upaya dari dalam. 

3. Creasy 
Creasy  juga memberikan pemahaman mengenai pendidikann karakter. Creasy dalam mengemukakan bahwa: Pendidikan karakter sebagai upaya mendorong peserta didik tumbuh dan  berkembang dengan kompetensi berpikir dan berpegang teguh pada prinsip-prinsip moral dalam hidupnya serta mempunyai keberanian melakukan yang benar, meskipun dihadapkan pada berbagai tantangan.

4. Thomas Lickona 
Menurut Thomas Lickona, pendidikan karakter adalah pendidikan untuk membentuk kepribadian seseorang melalui pendidikan budi pekerti, yang pada hasilnya terlihat dalam tindakan nyata, seseorang yaitu tingkah laku yang baik, jujur, bertanggung jawab, menghormati hak orang lain, kerja keras, dan sebagainya. Ada dua paradigma dasar pendidikan karater. 
  • Paradigma memandang pendidikan dalam cakupan pemahaman moral yang bersifat lebih sempit. 
  • Pendidikan dari sudut pandang pemahaman isu-isu moral yang lebih luas. Pendidikan sebagai sebuah pedagogi, menempatkan individu terlibat dalam dunia pendidikan sebagai pelaku utama dalam pengembangan karakter.
5. Kertajaya
Karakter adalah ciri khas yang dimiliki oleh suatu benda atau individu. Ciri khas tersebut adalah asli dan mengakar pada kepribadian benda atau individu tersebut, serta merupakan “mesin” yang mendorong bagaimana seorang bertindak, bersikap, berucap, dan merespon sesuatu. 

6. Donie Koesoema
Donie Koesoema mengungkapkan bahwa pendidikan karakter adalah usaha yang dilakukan secara individu dan sosial dalam menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan kebebasan individu itu sendiri. 

Kesimpulan: Pengertian Pendidikan Karater

Pengertian pendidikan karakter, tujuan pendidikan karakter, pengertian pendidikan karakter menurut para ahli

Berdasarkan berbagai definisi para ahli tentang pengertian pendidikan karakter, maka dapat disimpulkan bahwa pengertian pendidikan karakter adalah pendidikan yang menanamkan kebiasaan tentang hal baik sehingga peserta didik menjadi faham (kognitif) tentang mana yang benar dan yang salah, yang baik dan buruk, mampu merasakan (afektif) nilai yang baik dan biasa melakukannya (psikomotor). Sehingga pendidikan karakter yang baik bukan hanya melibatkan dari segi pengetahuan yang baik, melainkan juga merasakan yang  baik dan perilaku yang baik. 


Demikianlah informasi mengenai pendidikan karakter. Semoga informasi ini dapat bermanfaat bagi kita semua agar mampu membangun sebuah pendidikan karakter bagi peserta didik dan tentunya bagi di sekitar kita. Karena pendidikan tidak hanya melulu disekolah melainkan dimanapun adalah pendidikan. Dimanapun adalah ruang-ruang belajar kita. Sekian dan Terima Kasih. Salam Berbagi Teman-Teman. 

Referensi Pengertian Pendidikan Karakter:

Zubaedi. 2012. Desain Pendidikan Karakter (Konsepsi Dan Aplikasinya Dalam Lembaga Pendidikan). Kencana Prenada Media Group: Jakarta. 
Doni Koesoema, Pendidikan Karakter; Strategi Mendidik Anak di Zaman Global, (Jakarta: Grafindo, 2010),hlm. 194.
Hamid, Abdulloh. 2017. Pendidikan Karakter Berbasis Pesantren. Surabaya: IMTIYAZ. hlm: 8-15. 
Yulianti dan Hartatik. 2014. Implementasi Pendidikan Karakter DI Kantin Kejujuran. Malang: Gunung Samudera. hlm: 37-53.

Landasan Pendidikan Karakter, Apa itu?

Ilmupedia.web.id - Pendidikan karakter apakah penting? apakah begitu berpernkah pendidikan karakter?. Bagi teman-teman yang ingin masih bertanya dan menjawabnya, alangkah lebih baiknya menimbang kembali hal tersebut dalam benak kita bersama-sama. Mengapa?.

Tentu, seluruh masyarakat telah mengetahui kebijakan pemerintah kita yakni membentuk perilaku atau yang dikenal dengan revolusi mental. Inisiasi dari revolusi mental tersebut dapat disarikan dalam sebuah konsep dan juga metode yang dikenal dengan Pendidikan karakter.

Awalnya, penulis telah menginformasikan kepada teman-teman mengenai Pengertian Pendidikan Karakter, yang juga didalam informasi tersebut telah melampirkan pengertian pendidikan karakter menurut para ahli. Sekedar saran bagi teman-teman, jika belum melihat pengertian pendidikan, agar membuka informasi tersebut demi tercapainya pemahaman sistematis dalam pembahasan kita pada kali ini yakni landasan pendidikan karakter.


Mengapa? Kita harus tahu terlebih dahulu mengenai apa itu pendidikan karakter, dan kemudian mengenal apa pijakan atau landasan pendidikan karakter. Tentu teman-teman tentu menyadari bahwa pendidikan yang bertahap misalnya dalam pendidikan sekolah yang menyertakan berbagai tingkatan yakni SD, SMP dan SMA serta Mahasiswa, yang bertujuan membirikan pemahaman yang sistematis dan mendalam. Seperti itu pulalah penulis bermaksud dan berpendapat demikian.

Bagi teman-teman, yang telah mengetahui dan selalu melihat informasi bermanfaat di artikelsiana, terutama pada pembahasan pendidikan karakter. Penulis mengapresiasi dan bersyukur, masih terdapat masyarakat Indonesia yang dapat melihat informasi dan mengetahui betapa pentingnya sebuah pembelajaran walaupun dalam internet.

Mengapa penulis berkeinginan melanjutkan episode atau informasi pendidikan karakter yakni Landasan Pendidikan Karakter? Pada dasarnya, sebagaimana penjelasan di atas bahwa penulis menyadari informasi yang sistematis untuk penulis informasikan kepada teman-teman. 

Kedua, penulis juga menyadari dan mengalami bagaimana perkembangan zaman dapat atau mampu mengubah pola pikir dan perilaku masyarakat atau manusia Indonesia yang kini tidak perlu mengambil contoh terlalu jauh, hingga menyebrang pulau. Tapi dapat kita saksikan bersama-sama di lingkungan sekitar kita, yang mungkin dari beberapa kerabat, teman, adik dan dalam daerah kita terdapat banyak masalah atau perilaku yang tidak sesuai dengan norma hukum, agama dll.

Atas dasar tersebut, penulis bersemangat untuk bersama-sama menyukseskan Indonesia emas dimulai dari pendidikan karakter. Dengan pendidikan yang maju serta berkarakter, maka diharapkan dan tentunya kita doa serta berusaha agar Indonesia dapat kita saksikan yang bersumber dari pikiran, hati, tangan, kaki dan seluruh apa yang kita dapat lakukan untuk Indonesia, tanpa mengharapkan belas kasih yang motif atau niatannya tentu perlu untuk dipertimbangkan. Sehingga mungkin relevan atau sesuai jika penulis mengatakan agar terciptanya pendidikan karakter di Indonesia dan kemajuan bangsa Indonesia yakni: 
"Kalau bukan kita, siapa lagi. Kalau bukan sekarang, kapan lagi."

Pendidikan Karakter

Tak diragukan lagi bahwa pendidikan karakter mempunyai fungsi yang strategi dan efektif dalam suatu proses perubahan sosial di kehidupan masyarakat yang jika dikerjakan dengan terarah dan juga terencana, melalui dukungan dari banyak pihak yang mempunyai otoritas, khususnya otoritas negara.

Dalam masyarakat ditandai dengan mulai hilangnya nilai-nilai dan moralitas, pendidikan karakter sebenarnya memiliki momentum yang tepat untuk bangkit. Publik secara leluasa mendukung dalam penerapan pendidikan karakter baik di sekolah maupun dimanapun.

Terdapat beberapa bukti yang menampilkan dan menggambarkan bahwa pelaksanaan dari pendidikan karakter di ruang-ruang belajar atau di sekolah, ternyata dapat menciptakan kultur sekolah menjadi sebuah kultur yang memang diinginkan oleh seluruh pihak yakni kultur yang baik. 

Pendidikan karakter tersebut, menjadikan pelajar, masyarakat dan manusia Indonesia dapat menjadi lebih aman, dan dapat fokus atau berkonstrasi penuh dalam belajar atau menjalani aktivitasnya yang tentunya dapat meningkatkan prestasi dan Sumber Daya Manusia yang memiliki karakter dan moral yang bertumpuh dari berbagai landasan pendidikan karakter yang telah terbangun.

Keinginan demikian, dapat bertranformasi secara utuh , jika seluruh pihak insan pendidikan, masyarakat dan pemerintah ikut terlibat atau proaktif terhadap seluruh karya dalam pendidikan atas dasar dalam menerapkan landasan, dasar atau pijakan dari pendidikan karakter tersebut. 

Pelaksanaan pendidikan Karakter yang berlandaskan berbagai dimensi yang telah dicetuskan oleh beberapa para ahli dalam merumuskan konsep pendidikan karakter Indonesia yang tentunya membutuhkan setiap individu dengan cara pola perilaku yang baik di seluruh dimensi ruang Indonesia, khususnya di sekolah dan lingkungan sekitar.
Pembentukan karakter masyarakat Indonesia ditembut dengan berbagai cara yang dilakukan oleh Negara sebagai organisasi kebangsaan ataupun dari seluruh elemen masyarakat dalam kehidupan sosial. Sehingga karakter masyarakat atau manusia-manusia Indonesia dapat terlihat dalam atau teraktualsiasi dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat.

Pembentukan demikian pendidikan karakter Indonesia merupakan salah satu tujuan dari Pendidikan nasional yang tertuang dalam Pasal I UU Sisdiknas Tahun 2003 yang menyatakan bahwa di antara tujuan Pendidikan Nasional adalah mengembangkan potensi dari peserta didik untuk memliki kecerdasan, kepribadian dan akhlak mulia. Amanah tersebut bermaksud agar pendidikan tidak hanya diikut dalam menbentuk masyarakat atau manusia yang cerdas, melainkan juga membentuk berkepribadian atau berkarakter.

Olehnya itu, diperlukan pendidikan karakter yang disertai dengan berbagai landasan dalam mewujudkan tujuan negara dan mewujudkan tujuan pendidikan Indonesia agar mampu di konseptualisasi dan di aktualisasikan oleh segenap masyarakat atau manusia Indonesia dan negara Indonesia.

Landasan Pendidikan Karakter

Dalam bukunya Novan Ardy Wiyani, landasan pendidikan karakter terbagi tujuh yakni: 

a. Landasan Filsafat Manusia
Secara filosofis, manusia diciptakan oleh Sang Maha Kuasa yakni Tuhan dalam bentuk yang sempurna menuju perilaku yang sempurna. Walaupun ketika dilahirkan berwujud anak manusia, memungkinkan dalam proses perkembangannya tidaklah menjadi manusia sesungguhnya. Hal demikian , dapat di upayakan dengan membantu manusia agar dapat menjadi manusia yang sesungguhnya yang mana hal tersebut pendidikan, yang dibutuhkan manusia. 

Jika menjadi salah didik, maka manusia yang pada awalnya lahir dalam keadaan suci dan berkarakter baik, sifat-sifat kemanusiannya dapat terkikis, sehingga dibutuhkan sebuah metode atau konsep dalam pendidikan yakni pendidikan karakter bagi manusia sepanjang hidupnya.

b. Landasan Filsafat Pancasila
Manusia Indonesia yang ideal merupakan dapat menghargai nilai-nilai yang terdapat dalam Pancasila yakni nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan juga keadilan sosial. Nilai Pancasila tersebut yang harus ditanam atau menjadi core value dalam pendidikan karakter di Indonesia, di Negeri.

c. Landasan Filsafat Pendidikan Umum
Pendidikan pada hakikatnya untuk mengembangkan suatu kepribadian utuh dari warga negara demi sebuah tujuan yang baik. Seseorang yang berkepribadian utuh, digambarkan dengan terbangunnya dari dalam nilai-nilai dari beragam dunia makna atau nilia yaitu secara simbolik, estetik, etik, empirik dan sinoptik.

d. Landasan Religius
Pendidikan sangat perlu untuk mengembangkan karakter manusia untuk patuh terhadap setiap ajaran-jaran Tuhan dan peraturan yang berbangsa dan bernegara, serta memiliki sifat manusiawi (empatik, simpatik, membantu, menghargai, peduli, dan perhatian dll).

e. Landasan Sosiologis
Dalam landasan Sosiologis, manusia hidup tidak terlepas dari kehidupan sosialnya yakni bermasyarakat dan berbangsa yang sarat akan heterogen yang terus berkembang. Berasal dari suku, golongan, etnis, agama, ekonomi dan status sosial yang berbeda-beda, di samping bangsa Indonesia yang juga hidup berdampingan dan melakukan upaya dalam pergaulan dengan bangsa-bangsa lain. Sehingga diperlukan upaya dalam pengembangan karakter dalam menghargai dan toleran pada bermacam-macam tatanan kehidupan dan aneka ragam perbedaan yang menjadi keniscayaan manusia.

f. Landasan Psikologis
Karakter dalam landasan demikian, menggambarkan dalam dimensi intrapersonal, interpersonal dan interaktif yang terdapat tahapan-tahapan perkembangan manusia. Perkembangan tersebut tercermin dari karakteristik masing-masing dari setiap perkembangan. Karakter anak-anak berbeda dengan remaja, pemuda dan orang tua. Diantara mereka juga butuh saling memahami dan menghargai yang saling terkait dengan kesopanan, penghargaan, kepedulian, dan kesantuan.

g. Landasan Teoritik

Terdapat beberapa teori pendidikan dan pembelajaran yang dirujuk dalam pengembangan karakter. Pertama, teori yang berorientasi pada behavioristik yang dikenal dengan teori pemrosesan informasi dengan prinsip input proses output.


Demikianlah informasi Landasan Pendidikan Karakter. Semoga informasi ini dapat bermanfaat dan menambah pengetahuan. Sekian dan terima kasih. Salam Berbagi Teman-Teman.


Referensi Landasan Pendidikan Karakter: 
Koesoema, Doni. 2007. Pendidikan Karakter: Strategi Mendidik Anak di Zaman Global. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia. Hlm: 132-133.  
Yulianti dan Hartatik. 2014. Implementasi Pendidikan Karakter Di Kantin Kejujuran. Cet-1. Malang: Penerbit Gunung Samudera. Hlm: 53-55. 
Sudarmiyatun. 2012. Makna Sumpah Pemuda. Jakarta: Balai Pustaka. Hlm: 45.

Pilar-Pilar Pendidikan Karakter

Ilmupedia.web.id - Pendidikan adalah proses memanusiakan manusia. Itulah yang santer di sebutkan oleh seluruh elemen masyarakat. Khususnya pada saat hari pendidikan, ribuan orang dari kalangan mahasiswa turun melakukan orasi atau aksi di jalan.

Definisi pendidikan tersebut pun dikeluarkan bagi pendengar di jalan sana. Namun, mungkin suara teriakan dari berbagai kalangan tersebut, apalagi bersuara dan berteriak soal pendidikan dan pentingnya pendidikan merupakan hal lumrah di Indonesia.

Apatisme, atau acuh-tak acuh akan bangsa Indonesia khususnya persoalan pendidikan, membuat segelintir orang untuk menggunakan cara yang terkesan represif atau reaksioner terhadap non partisipatif dari pemerintah, seperti membakar ban di jalan, melakukan blokade, dan membakar fasilitas umum atau merusaknya.

Hal demikian, penulis mencoba untuk berpikri holistik atau menyeluruh dengan menyangkut pautkan dari berbagai bidang. Bidang sosial, tentu orasi atau teriakan elemen masyarakat walaupun menyoal pendidikan atau definisi pendidikan karakter, tentu saja tidak dapat dibenarkan. Mengapa? Kehidupan sosial membuat seluruh masyarakat terkoneksi.

Apalagi menyoal mengenai ekonomi, yang membutuhkan arus perbutaran uang yang cepat, yang jika demonstrasi tersebut, mengakibatkan kemacetan, dan tentunya barang dan jasa dari produksi atau ke konsumen dapat terhambat dan berakibat pada perekonomian.

Namun, jika berbicara tentang dampak kedepannya. Apabila acuh tak acuh terhadap persoalan bangsa Indonesia, khususnya Pendidikan yang merupakan asupan bagi calon generasi yang masih terdapat dalam rahim sang ibu pertiwi. Tentunya, tidaklah relevan jika membiarkan hal tersebut. Terlebih kebijakan pemerintah yang kini menjamur di masyarakat, menjamur di sekolah-sekolah, diperlukan peran vital atau penting dari setiap masyarakat.

Contohnya menyangkut mengenai pendidikan karakter, yang merupakan kebijakan yang sarat dengan sebuah kemajuan pola pikir pemerintah dan masyarakat, untuk bekerja sama dalam merawat para calon generasi dengan membutuhkan asupan pendidikan karakter.

Beberapa informasi mengenai pendidikan karakter telah penulis informasikan seperti pengertian pendidikan karakter, landasan pendidikan karakter, peran penting pendidikan karakter, pengertian pendidikan karakter menurut para ahli.


Penulis menyarankan kepada teman-teman, sebelum membaca informasi ini, alangkah lebih baiknya untuk membaca artikel-artikel sebelumnya, berdasarkan jadwal postingan. yang tertera di alamat web tersebut, agar pemahaman tentang pendidikan karakter dapat tersistematis.

Pendidikan Karakter

Menurut Ratna terdapat sembilan pilar pendidikan karakter. Pilar tersebut yakni cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya, tanggung jawab, kedisiplinan dan kemandirian, kejujuran, amanah dan diplomatis, hormat dan santun, kasih sayang, kepedulian, dan kerja sama. Lalu, percaya diri, kreatif, kerja keras dan pantang menyerah, keadilan dan kepemimpinan, baik dan rendah hati, toleransi, cinta damai dan persatuan. Kemudian, ada pula K4 (kesehatan, kebersihan, kerapian dan keamanan).

Sedangkan menurut Mendikbud bahwa perlu usaha memasukkan kegiatan kokurikuler atau ekstrakulikuler dalam program FDS. seperti memupuk bakat dan juga kemampuan di berbagai bidang sehingga mampu mencapai 18 pilar pendidikan karakter. 

Pilar-Pilar Pendidikan Karakter

Menurut Kemendikbud bahwa proses dari pendidikan karakter didasarkan pada totalitas secara psikologis yang mencakup seluruh dari potensi individu manusia baik secara kognitif, afektif dan psikomotrik. Tidak hanya itu, terjadinya fungsi totalitas sosiokultural dalam konteks interaksi dalam keluarga, satuan pendidikan dan masyarakat.

Konteks demikian dikenal dengan pilar pendidikan. Pilar merupakan penyangga atau penguat. Sedangkan pengertian pilar-pilar pendidikan adalah penyangga atau penguat dalam suatu proses pendidikan karakter. Adapun tiga pilar dari pendidikan karakter adalah sebagai berikut

A. Pilar keluarga. Keluarga merupakan pilar utama dalam pendidikan karakter. Keluarga dimana anak-anak memperoleh pendidikan mengenai karakter yang baik dan juga buruk. Orang tua merupakan guru pertama bagi anak-anak. 
B. Pilar sekolah. Pilar yang berperan ketika anak-anak telah memasuki usia yang dapat menempuh pendidikan formal.
C. Pilar Masyarakat. Pilar demikian adalah pilar bagi masyarakat, tempat anak bersosialsiasi selain sekolah dan juga keluarga. Sedangkan menurut Novan Ardy Wiyani, terdapat 6 pilar karakter yang didasarkan The Six Pillars of Character yang dikeluarkan oleh Character Counts COalition (Project of The Joseph Institute of Ethics) yang dapat berarti sebagai berikut: 
  • Trusworthiness, yakni bentuk dari karakter yang membentuk dan membuat seseorang ke orang yang memiliki integritas, jujur dan juga loyal. 
  • Fairness, yakni bentuk dari karakter dalam membuat seseorang dapat berpemikiran terbuka dan juga tidak suka dalam memanfaatkan orang lain. 
  • Caring, yakni membentuk karakter dalam membuat seseorang mempunyai sikap peduli dan juga perhatian terhadap orang lain serta kondisi sosial dan juga lingkungan sekitar. 
  • Respect, yakni bentuk dari karakter dalam membentuk seseorang yang dapat atau slelau menghargai dan menghormati orang lain. 
  • Citizenship merupakan bentuk karakter yang membuat seseorang sadar akan hukum dan juga peraturan serta peduli terhadap lingkungan alam. 
  • Responsibility yakni bentuk dari karakter yang membuat seseorang dapat bertanggung jawab, disiplin dan juga selalu melakukan sesuatu dengan sebaik mungkin. 
Dalam penamaan program ini di negeri ini yang sering ridak konsisten. Muhamamd Nuh meluncurkan program pendidikan karakter dengan 18 pilar nilai pendidikan karakter, namun Anies menyebutnya dengan Penumbuhan Budi Pekerti, dengan konsep yang belum selesai. Untuk mengingatkan Mendikbud yang baru, apa saja delapan belas pilar nilai pendidikan karakter yang harus dicapai dalam pelaksanaan pendidikan karakter tersebut.

Pilar-Pilar Pendidikan Karakter Menurut Kemendikbud 
Inilah18 Nilai dalam Pendidikan Karakter Bangsa, yang disusun oleh Pusat Kurikulum Balitbang Dikbud, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Mulai tahun ajaran 2011, seluruh tingkat pendidikan di Indonesia harus menyisipkan pendidikan berkarakter tersebut dalam proses pendidikannya.
  1. Religius. Dengan sikap dan perilaku yang patuh terhadap melaksanakan ajaran agama bagi setiap peneluknya, toleran, dan hidup rukun dengan pemeluk-pemeluk lainnya.
  2. Jujur. Perilaku yang berupaya agar dirinya sebagai orang yang yang dapat dan selalu dipercaya baik dari segi perkataan, tindakan, dan pekerjaan.
  3. Toleransi. Sikap dan perilaku yang cinta akan perbedaan seperti etnis, suku, pendapat, agama dan tindakan yang berbeda.
  4. Disiplin. Perilaku yang menunjukkan tertip dan patuh terhadap ketentuan dan peraturan demi tercapainya sebuah keteraturan dalam aktivitas.
  5. Kerja Keras. Perilaku yang menampilkan tertip dan patuh terhadap berbagai peraturan dan pekerjaan terhadap segala hal.
  6. Kreatif. Berpikir untuk berkarya dengan menghasilkan sesuatu yang baru, atau hasil baru.
  7. Mandiri. Sikap dan perilaku yang tidak mudah mengharapkan belas kasih dari orang lain dalam menyelesaikan pekerjaan atau kebutuhan, tugas-tugasnya sendiri.
  8. Demokratis. Cara berfikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.
  9. Rasa Ingin Tahu. Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar.
  10. Semangat Kebangsaan. Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.
  11. Cinta Tanah Air. Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.
  12. Menghargai Prestasi. Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.
  13. Bersahabat/Komunikatif . Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.
  14. Cinta Damai. Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.
  15. Gemar Membaca Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya.
  16. Peduli Lingkungan. Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.
  17. Peduli Sosial. Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.
  18. Tanggung Jawab. Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa.


Demikianlah informasi mengenai Pilar-Pilar Pendidikan Karakter. Semoga dapat menambah pengetahuan dan dapat bermanfaat bagi kita semua dalam membangun sebuah pendidikan yang tentunya berkarakter untuk Indonesia lebih maju. Sekian dan terima kasih. Salam Berbagi Teman-Teman.

Referensi Pilar-Pilar Pendidikan Karakter: 
Yulianti dan Hartatik. 2014. Implementasi Pendidikan Karakter Di Kantin Kejujuran. Cet-1. Malang: Penerbit Gunung Samudera. Hlm: 55-56.

Pengertian Gelombang, Sifat, & Jenis-Jenis Gelombang Serta Contoh Gelombang

Ilmupedia.web.id - Membahas mengenai Gelombang, jujur bukanlah persoalan mudah. Mengapa? Gelombang merupakan bagian dari pelajaran fisika dan merupakan kisah rumit bagi penulis untuk menjelaskan bagaimana fisika itu menjadi teramat membosankan. Apalagi, sewaktu dalam pembahasan Gelombang tersebut, yah penulis tidaklah cukup mengerti dengan bentuk penyampaian guru dan juga mengenai pembahasan gelombang.

Namun, saat menuliskan informasi ini, penulis juga merasakan dampaknya dalam membahas mengenai Gelombang. Walaupun hanya membahas mengenai luar dari gelombang, yakni pengertian gelombang, sifat, dan juga jenis-jenis gelombang atau macam-macam gelombang, tapi itu sudah cukup membuat penulis untuk menggaruk kepala dan kembali membuka buku-buku pelajaran dan juga berbagai jurnal mengenai gelombang.

Disatu sisi untuk kembali mengingat atau mengisi kepala ini, dan tentunya memberikan informasi yang seakurat mungkin untuk teman-teman dapat pelajari nantinya. Penulis juga menyarankan kepada seluruh teman-teman, untuk berhenti tidur dikelas, bolos dan bermain-main pada pelajaran MIPA atau IPA karena hal tersebut sangat penting untuk perkembangan zaman saat ini yang sarat akan sains dan juga teknologi.

Berbagai perambaan canggih atau era gadget, smartphone dll, merupakan suatu akselerasi atau percepatan perkembangan dan kemajuan dunia dan pola pikir manusia. Yang sebagian besar dari teknologi sekarang ini tidak terlepas dalam informasi pada kali ini yakni Gelombang.

Dan pada akhirnya, penulis kini menyelesai perbuatan doa dan khilaf baik sebelum menuliskan informasi ini, terlebih lagi pada saat menuliskan informasi ini. Maaf kepada seluruh teman-teman yang secara tidak sengaja dan sengaja membaca informasi gelombang, toh jadinya membaca informasi masa abu-abu penulis dalam mempelajari gelombang.

Sebagaimana juga kita ketahui bersama-sama teman-teman, bahwa gelombang dalam mendefinisikan atau mengartikan tidak rumit, serumit menempak PDKT atau ketika pacar lagi ngambek, tapi gelombang dalam pembahasannya memiliki jenis-jenis seperti gelombang mekanik, gelombang elektromagnetik.

Dan dari segi arah rambat dan getarannya juga dibagi menjadi dua yakni gelombang tranversal, dan juga gelombang longitudinal yang keseluruhan dari jenis-jenis gelombang tersebut, memiliki definisi dan rumus yang betul-betul menguras energi.

Tapi, bukan artikel bermanfaat, jika teman-teman tidak mendapat manfaat dari informasi pada kali ini. Tentunya, penulis akan bersikap profesional walaupun dipaksakan. Semoga saja sesuai dengan apa yang teman-teman harapkan dalam pembahasan gelombang pada kali ini, baik dari segi pengertian gelombang, jenis-jenis gelombang dan juga sifat-sifat gelombang tersebut.

Pengertian Gelombang

Kemajuan ilmu pengertian dan teknologi, juga turun mengundang dorongan ditemukannya alat pengirim dan penerima informasi. Perkembangan dalam pengirim dan peneriman ini, memiliki cara kerja dengan mengirim atau menerim gelombang. Disadari atau tidak, setiap makhluk hidup yang terdapat di bumi ini juga hidup dalam lautan gelombang.

Misalnya, sinar matahari, sinar komis yang setiap saat menghantam bumi, suara bising yang terdapat di jalan, gelombang radio, dan berbagai suara dan apa yang kita lihat dan tidak kita dengar atau lihat.

Sayangnya hanya sedikit gelombang yang dapat terlihat oleh mata manusia secara langsung, misalnya hanya gelombang laut dan gelombang diam senar gitar.

Pengertian Gelombang adalah getaran yang merambat dari gerak gelombang yang dapat dipandang sebagai suatu perpindahan momentum dari suatu titik di dalam ruang ke titik yang lainnya tanpa perpindahan atau pengertian Gelombang secara sederhana adalah getaran yang merambat melalui suatu medium.

Dan gelombang juga memiliki besaran seperti :

  • Frekuensi (F), dengan menggunakan satuan Hz
  • Cepat rambat (v), dengan satuan m/s
  • Amplitudo (A), dengan menggunakan satuan m
  • Simpangan (y), dengan menggunakan satuan m
  • Panjang gelombang (I), dengan menggunakan satuan m
  • Periode (T), dengan menggunakan satuan sekon
  • Jarak tempuh gelombang (X), dengan menggunakan satuan m
  • Jenis-jenis gelombang
  • Waktu tempuh gelombang (t), dengan menggunakan satuan sekon

Sifat-Sifat Gelombang

Gelombang memiliki beberapa sifat-sifat umum, yakni:

1. Gelombang Mengalami Pemantual atau Sifat Refleksi
Setiap dari pemantulan gelombang, akan berlaku sudut datang gelombang, yang sama dengan sdut pantulnya. Gelombang datang, kemudian garis normal dan gelombang pantul akan terletak pada satu bidang datar.

Pembantulan tersebut, pada contohnya dapat terlihat pada dinding kola, jika permukaan air kolan tenang dan kemudian diberikan usikan atau gangguan maka yang terlihat permukaan air akan timbul gelombang yang berbentuk lingkaran mengembang. Jika gelombang sampai ke dinding kolam, maka yang terjadi timbul juga gelombang pantul, namun arah mengembang tersebut berlawanan arah dengan gelombang datang.

2. Gelombang Mengalami Pembiasan atau Sifat Refraksi
Jika terdapat perambatannya, suatu gelombang dapat melewati bidang batas dua medium, maka arah dari gleombang yang datang, mengalami sebuah pembelokan. Arah dari pembelokan gelombang tersebut disebut dengan pembiasan. Adapun hukum yang menyebut hal ini adalah hukum Snellius yang menyebutkan bahwa "bila gelombang datang dari medium lebih rapat ke medium kurang rapat maka gelombang akan dibiaskan mendekati garis norma, dan sebaliknya.  Jadi dalam pembiasan gelombang besar kecepatan gelombang akan berubah, demikian juga panjang gelombangnya akan berubah, yang tetap adalah frekuensi gelombang.

3. Gelombang Mengalami Penggabungan atau Sifat Interferensi
 Apa yang terjadi bila dua buah gelombang atau lebih saling bertemu? Pada benda pertemuan akan menyebabkan terjadinya tumbukan, benda yang satu akan terpental dari benda yang lain. Tumbukan seperti itu tidak pernah terjadi pada gelombang, dua gelombang yang bertemu akan saling lewat begitu saja seakan – akan merambat sendiri – sendiri tanpa halangan.

Untunglah demikian, karena jika tidak kita tentu mengalami banyak kesulitan dalam berkomunikasi. Orang yang bercakap – cakap tidak akan dapat mendengarkan perkataan lawan bicaranya karena terbentur oleh suaranya sendiri.

Dengan menggunakan sebuah tangki riak juga dapat dilakukan percobaan untuk menentukan interferensi dua buah gelombang. Di dalam tangki riak akan ampak suatu pola akibat perpaduan antara dua buah gelombang. Perpaduan antara dua buah gelombang atau lebih pada suatu tempat pada saat yang bersamaan itulah yang disebut interferensi.

4. Gelombang Mengalami Lenturan atau Sifat Difraksi
Bila suatu gelombang melewati suatu penghalang yang mempunyai celah sempit, maka menurut Huygens, titik – titik pada celah yang sempit itu akan menjadi sumber gelombang yang baru dan meneruskan gelombang tersebut ke segala arah. Jadi yang melewati celah sempit itu akan mengalami lenturan yang disebut dengan difraksi.

5. Gelombang Mengalami Dispersi
Dispersi adalah penyebaran bentuk gelombang ketika merambat melalui suatu medium. Dispersi tidak akan terjadi pada gelombang bunyi yang merambat melalui udara atau ruang hampa. Medium yang dapat mempertahankan bentuk gelombang tersebut disebut medium nondispersi.

6. Gelombang Mengalami Polarisasi 
Polarisasi adalah peristiwa terserapnya sebagian arah getar gelombang sehingga hanya tinggal memiliki satu arah saja. Polarisasi hanya akan terjadi pada gelombang transversal, karena arah gelombang sesuai dengan arah polarisasi, dan sebaliknya, akan terserap jika arah gelombang tidak sesuai dengan arah polarisasi celah tersebut.

1. Gelombang Mengalami Pemantual atau Sifat Refleksi, 2. Gelombang Mengalami Pembiasan atau Sifat Refraksi 3. Gelombang Mengalami Penggabungan atau Sifat Interferensi 4. Gelombang Mengalami Lenturan atau Sifat Difraksi   5. Gelombang Mengalami Dispersi  6. Gelombang Mengalami Polarisasi

Jenis-Jenis Gelombang

Kenyataan dalam mengklasifikasikan gelombang sangatlah beragam. Klasifikasi gelombang dapat didasarkan pada arah rambatnya, medium perambatannya, dan juga jenis-jenis gelombang berdasarkan dimensi penyebaran rambatannya dll. Namun, yang menjadi dalam pembahasan kali ini hanyalah dua klasifikasi gelombang atau jenis-jenis gelombang yakni menurut arah rambatnya dan kebutuhan medium perambatannya.

A. Jenis-Jenis Gelombang Berdasarkan Arah Rambat dan Getarannya

1. Gelombang Longitudinal

Pengertian Gelombang Longitudinal adalah gelombang dengan arah gangguan sejajara dengan arah penjalarannya. Contoh gelombang longitudinal adalah gelombang bunyi yang di analog dengan pula longitudinal dalam suatu pegas vertikal di bawah tegangan dibuat berosilasi ke atas dan kebawah disebuah ujung maka sebuah gelombang longitudinal berjalan sepanjang pegas tersebut ,koil – koil pada pegas tersebut bergetar bolak –balik di dalam arah di dalam mana gangguan berjalan sepanjang pegas

2. Gelombang Transversal
Gelombang transversal adalah gelombang dengan gangguan yang tegak lurus arah penjalaran. Misalnya gelombang cahaya dimana gelombang listrik dan gelombang medan magnetnya tegak lurus kepada arah penjalarannya. Medan listrik dan medan magnet dari gelombang elektromagnetik adalah tegak lurus dan tegak lurus juga



B. Jenis-Jenis Gelombang Berdasarkan Median dalam Perambatannya

1. Gelombang Mekanik
Pengertian Gelombang mekanik adalah gelombang yang memerlukan medium tempat merambat. Contoh gelombang mekanik gelombang pada tali, gelombang bunyi.

2. Gelombang Elektromagnetik
Pengertian Gelombang elektromagnetik adalah gelombang yang energi dan momentumnya dibawa oleh medan listrik (E) dan medan magnet (B) yang dapat menjalar melalui vakum atau tanpa membutuhkan medium dalam perambatan gelombangnya. Sumber gelombang elektromagnetik :
  • Osilasi listrik.
  • Sinar matahari menghasilkan sinar infra merah.
  • Lampu merkuri menghasilkan ultra violet.
  • Inti atom yang tidak stabil ® menghasilkan sinar gamma.
  • Penembakan elektron dalam tabung hampa pada keping logam menghasilkan sinar X (digunakan untuk rontgen).
Keterkaitan antara medan listrik (E) dan medan magnet (B) diungkapkan dengan persamaan Maxwell. Persamaan Maxwell merupakan hukum yang mendasari teori medan elektromagnetik. Contoh dari gelombang elektromagnetik : Gelombang cahaya, gelombang radio.

C. Jenis-Jenis Gelombang Berdasarkan Amplitudonya

  1. Gelombang Stasioner adalah gelombang yang memiliki amplitudo tidak tetap besarannya
  2. Gelombang Berjalan  adalah gelombang yang memiliki amplitudo yang tetap


Demikianlah informasi mengenai gelombang. Semoga informasi ini dapat bermanfaat dan menambah pengetahuan kita. Sekian dan terima kasih. Salam berbagi Teman-Teman.